BAGIAN 1

18 2 0
                                        

Nayra deana azura, kerab disapa Nayra adalah seorang gadis remaja yang baru menginjak usia 17 tahun dan masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas kelas akhir. Mempunyai keluarga yang utuh dan harmonis serta teman-teman yang peduli dan baik hati. Akan tetapi, Nayra tidak seceria yang orang pikirkan. Nayra adalah anak yang cukup cuek dan tidak menyukai keramaian. Terkadang ia bisa berubah menjadi perempuan yang cerewet, cengeng, dan banyak tingkah ketika bersama sahabatnya. Kadang.

   “Nayraaa,” panggil Yuda yang dengan antusias melambaikan tangan diujung koridor sambil membawakan secangkir es teh manis di tangan kanannya. Nayra menyipitkan mata dan tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya itu.
  
   “Nay dari mana aja sih? tiba-tiba ngilang gitu aja,” ucap Yuda dengan wajah yang memelas kesal kepada Nayra. Nayra yang melihat itupun hanya bisa diam tanpa membalas pertanyaan dari sahabatnya.

   “Kalau ditanyain tuh dijawab kali, malah bengong!” ucap Yuda sambil menyodorkan es teh manis yang dipegangnya.

   “Iya iya maaf, tadi aku kebelet pipis makanya gak sempet nanya dulu, Yud. Yakali kamu mau nemenin,” ucap Nayra yang dibalas anggukan dari Yuda.

Altafius Yudha Pradana dengan sapaan Yuda adalah sahabat Nayra. Mereka bertemu saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas sekitar dua tahun yang lalu. Yuda memiliki sifat yang bisa dibilang bertolak belakang dengan Nayra yang cukup pendiam. Yuda dengan sejuta lawakannya , celotehannya, dan tingkahnya terkadang membuat Nayra terhibur dan tidak merasa kesepian.

   “Nay, nanti pulangnya agak sorean ya,” pinta Yuda dengan cengiran khas anak kecil yang selalu menjadi senjata ketika meminta sesuatu kepada Nayra.

Nayra hanya bisa menggangguk dan langsung masuk ke kelasnya, sementara Yuda terus berjalan menuju kelasnya yang tak jauh dari kelas Nayra.

                                             ***

Seperti biasa, tas ransel menjadi bantalan sementara untuk Nayra selagi menunggu jam pelajaran di mulai, kelas begitu berisik dengan sautan sana sini sehingga membuat Nayra akhirnya lebih memilih untuk tidur dengan mendengarkan musik lewat earphonenya.

Beberapa menit berlalu, kelas yang tadinya ribut menjadi tenang aman dan tentram. Pak Johan yang tiba-tiba masuk menjadi salah satu alasan heningnya kelas saat ini. Namun bukan hanya karena Pak Johan saja, melainkan siswa yang asing dimata anak-anak lainnya.

Berbeda dengan anak-anak lainnya yang diam dan mendengar pernyataan dari Pak Johan, Nayra justru terlelap dengan earphonenya yang masih terpaut ditelinga.

   “Nay, bangun Nay,” panggil Talia, teman sebangku Nayra dengan suara yang sengaja dipelankan. Senggolan yang beberapa kali dilakukan oleh Talia tidak mendapatkan respon apa-apa dari Nayra. Nayra justru membenarkan posisinya berusaha mencari posisi ternyaman.

Pak Johan yang menyadari itu langsung melemparkan penghapus papan tulis ke arah Nayra.
Buk!

Seakan ada yang mengendalikan, lemparan tersebut tepat mengenai kepala Nayra. Sontak saja, Nayra langsung membenarkan duduknya dan meringis kesakitan.

Nayra seakan meminta penjelasan kepada Talia yang duduk disampignya dan belum menyadari kehadiran Pak Johan.

Pak Johan memang sering melempari siswa yang tidur dengan penghapus papan tulis. Yang membuat semua kaget adalah Nayra menjadi siswi pertama yang mendapatkan lemparan itu.
Nayra hanya diam dan berusaha menahan sakit sekaligus malu terhadap apa yang terjadi kepadanya beberapa menit yang lalu. Ia pun mengambil benda legend itu dan berjalan kedepan kelas untuk mengembalikannya. Tak sengaja ia beradu tatap dengan Pria yang tak asing menurutnya.

CARENUSA Where stories live. Discover now