Prolog

15 0 0
                                        

"Ada sebuah cerita tentang aku dan kau dimasa lalu
Indah untuk dikenang namun juga harus dilupakan
Kita bahagia dan saling mencinta
Namun Kehendak Yang Maha Kuasa tidak sejalan dengan rasa yang kita miliki
Aku dan kau memiliki latar belakang yang sama namun berbeda dalam memandang dunia
Aku dengan didikan penuh kesederhanaan dan menginjak bumi
Kau dengan didikan materi dan membumbung tinggi ke angkasa
Perbedaan itu indah namun tak selamanya bisa bersatu
Aku dengan takdirku tak sejalan dengan kau dan takdirmu
Sehingga aku memutuskan untuk melepasnya bersama kenangan dan cinta
Terima kasih telah hadir dalam hidupku sehingga aku menjadi sadar bahwa kau adalah bagian dari logika manusiaku yang tak ada apa-apanya dibandingkan logika-Nya
Lupakanlah aku dan jangan kau genggam erat karena seberapa keras kau mengganggamku jika Yang Maha Kuasa berkehendak lain pada akhirnya terlepas juga
Mari kita berjalan dengan takdir yang telah ditentukan dan saling mendoakan kebahagiaan dan kebaikan..."

Seorang gadis manis berambut pendek sebahu dan diikat kuncir kuda menengadahkan kepalanya ke atas langit biru yang tersamarkan oleh jendela kaca bening sebuah cafe bernuansa khas tempo dulu. Dagunya hanya bertumpu pada telapak tangan kirinya yang tertopang di meja. Sepasang iris coklat tua yang senada dengan warna tanah tampak terlihat nanar. Ingin rasanya ia menumpahkan seluruh perasaanya dengan menangis namun sudah tidak ada air mata yang tersisa lagi. Hatinya sudah terlalu remuk redam setelah mengetahui semua kenyataan yang terjadi.

"Nadia, mengapa kau tidak mau menatap mataku?" Terdengar suara seorang lelaki berusia lebih tua yang duduk tepat dihadapan gadis bernama Nadia. Suaranya yang begitu dalam dan penuh penekanan tidak membuat Nadia bergeming dari posisinya semula. Suara yang selama ini selalu terngiang-ngiang di telinganya dan membuat dadanya berdesir penuh luapan perasaan cinta. Namun tidak untuk saat ini, hanya rasa kebas dan sesak setiap kali ia mendengar alunan pita suara lelaki tersebut.

"Aku hanya tidak ingin Kak Saga melihat ekspresi wajahku sekarang...," Ujarnya dengan nada datar tanpa menatap tunangannya yang menjadi lawan bicaranya saat ini.

"Apakah kau membenciku?"

"Tidak, aku masih tetap mencintai Kak Saga," Jawab Nadia dengan suara parau.

"Lantas kenapa kau bersikap acuh padaku akhir-akhir ini?" Sepasang bola mata hitamnya yang sekelam malam berusaha mencari celah untuk mengetahui alasan yang membuat gadis cuek nan tomboy dihadapannya ini bersikap menjaga jarak dari dirinya.

"Aku...," Nadia berusaha menelan air ludahnya untuk dapat menyelesaikan kalimat yang telah ia susun sedemikian rupa untuk menyelesaikan semuanya sambil menahan getaran sukma yang menjalar kearah matanya mendesak lelehan air mata menyesakkan dadanya "Aku hanya merasa lebih baik hubungan ini tidak dilanjutkan..."

"A..apa maksudmu?!" Tenggorokan Saga tercekat seraya tak percaya pada kalimat yang baru saja diucapkan dari gadis dihadapannya. "Apa kau sadar dengan yang barusan kau ucapkan?!"

"Aku benar-benar seratus persen sadar Kak...," Akhirnya Nadia memaksakan dirinya untuk menatap sosok lelaki itu. Wajah tirus dengan rahang yang kokoh, sepasang mata tajam bak elang seolah tak akan pernah membiarkan mangsa luput dari penglihatannya, rambut hitam berlayer yang bertumpuk-tumpuk dengan panjang yang tidak merata dan sedikit kesan berantakan, hidung yang mancung, bibir yang tipis, tubuhnya yang tegap dan atletis serta pakaian mahal nan rapi elegan menunjukkan bahwa lelaki ini sangat tampan serta merupakan sosok berkepribadian perfeksionis. Dalam hatinya ia tersenyum miris seolah mengejek dirinya sendiri yang berbanding terbalik dari sang lelaki dan menyesali keputusannya dulu untuk menyetujui pertunangan ini. Jawabannya hanya satu, ya, ia sangat mencintainya. Cinta pertama..., dua buah kata yang saat ini seperti kutukan tak berujung untuk dirinya. "Aku tidak mau memaksakan kehendakku untuk tetap menahan Kak Saga bersamaku..."

"Aku sama sekali tidak mengerti," Saga menggeleng tegas sungguh tidak mengerti apa maksud dari ucapan sang gadis. Wajahnya tampak tegang menahan amarahnya. Baru kali ini ia dihadapkan oleh seseorang yang dengan seenaknya saja menentukan dan merusak tatanan hidupnya yang telah terencana dengan baik.

Nadia menghela napas berat dan panjang seakan saat ini sangat sulit untuknya bernapas secara normal. Ditariknya cincin emas putih berhiaskan lima batu permata berukuran kecil tersusun rapi secara horizontal yang melingkar di jari manis tangan kirinya dan meletakkan cincin itu bersama sebuah amplop putih di atas meja tepat dihadapan Saga.

"Aku tak ingin mengikat orang yang sama sekali tidak mencintaiku," Nadia memaksakan bibirnya tersenyum meskipun senyumnya saat ini bukanlah sebuah senyum kebahagiaan melainkan senyuman pahit yang merasakan sebuah luka tertoreh dalam di hatinya. Luka karena patah hati. "Kak Saga tidak perlu khawatir karena aku yang akan membereskan semuanya..."

Nadia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Saga yang terpaku duduk sendirian didalam cafe. Sementara itu ekspresi wajah Saga berubah tegang dan kedua tangannya bergetar ketika membuka isi amplop yang diberikan Nadia kepadanya. Foto-foto kebersamaannya dengan Renata. Ia tak menyangka Nadia mengetahui semuanya. Jika sudah begini, ia tak dapat berkutik lagi dan pasrah akan semuanya...

***

AKU, KAU, DIA DAN CINTA - Pindah dan Terbit di https://m.kwikku.com/ Stories to obsess over. Discover now