Pertempuran Batin

11 2 1
                                        

Perihal Rindu yang pernah bertamu meski tak sempat Engkau jamu, aku masih mendekapnya erat-erat seperti waktu itu.
Saat aku mengetuk pelan pintu hatimu, sampai aku teriak dan menggedornya keras-keras.

Tapi ternyata aku bukanlah tamu sepenting itu untukmu.
Ingin aku mendobraknya secara paksa, namun aku terlalu takut jika aku malah merusaknya.

Apa kau tahu apa yang terjadi padaku, kasih? Tidakkah engkau peduli bagaimana perasaanku? Atau untuk sekedar mengetahui apakah aku baik-baik saja?

Aku dilema, kasihku. Pertempuran hebat terjadi hampir setiap hari di dalam dimensi batinku.
Hati bersikeras tetap mencintaimu, logika terus berupaya untuk segera melupakannu.

Jiwaku menjadi zona pertempuran paling membingungkan dalam delusi mengagumkan.

Logika mengutuk keras menentang ketidakjujuran hati ini, perihal rahasia paling vital yang disembunyikan darinya.

Hingga kini, aku tak mampu pastikan siapakah yang akan memenangkan pertempuran. Entah Hati, atau logika.

—Filusufis Saud

Segenggam ElegiStories to obsess over. Discover now