Melihat Bang Wafi duduk di sofa ruang tamu dengan kitab kuning di tangan, aku sengaja langsung masuk tanpa mengucapkan salam. Tidak menghiraukan panggilannya.
"Astagfirullah, Cha, kenapa nggak salam? ...," tanyanya tidak aku dengar.
Langsung masuk ke kamar dan sedikit membanting pintu. Mulutku manyun, semanyun-manyunnya. Bang Wafi harus tahu kalau adiknya ini sedang marah.
Terdengar suara langkah kaki menuju kamar. Itu pasti Bang Wafi. Dan benar saja, aku menghitung dalam hati dan Bang Wafi membuka pintu kamar tepat saat aku menghitung tiga.
"Dibiasain dong kalau masuk rumah tuh salam dulu. Ada hadistnya lhoh tentang kewajiban salam saat masuk rumah. Sesungguhnya orang yang paling utama di sisi Allah adalah mereka yang memulai sal--,"
Aku menutup telingaku dengan menggerakkan bibir untuk mencibir Bang Wafi.
"Udah dakwahnya, Bang?"
"Kamu kenapa lagi sih?" Bang Wafi mengambil duduk di kursi belajarku.
"Tau ah," balasku membuang muka.
"Biar abang tebak," Bang Wafi menerawang seakan-akan berpikir jauh.
Aku diam menunggu beberapa saat. Tapi setelah itu aku sadar kalau Bang Wafi tidak akan paham apa yang sedang aku rasakan saat ini. Aku beranjak dari tempatku sambil membuka kerudung abu-abu yang aku kenakan.
"Kenapa sih Bang Wafi nggak ijinin Chaca pacaran aja? Toh Bang Wafi nggak peduli sama Chaca," sungutku kesal.
"Nggak ada yang dibahas apa Cha? Selain pacaran? Emang pacaran itu wajib ya? Enggak kan? Abang aja nggak pacaran nggak apa-apa tuh."
Aku terperangah. Tumben Bang Wafi berbicara panjang. Tapi lagi-lagi aku menunjukkan kemarahanku.
"Abang kan jelek nggak ada yang mau juga. Kalau Chaca kan banyak," ejekku sembari bersedekap.
"Gini lho Cha, masak abang mau adek abang jadi cewek yang murah? Yang dipacarin tanpa jaminan apapun. Mending kalau dinikahin. Pasti dinafkahin. Kalau Cuma pacaran mah buat apa gitu." Bang Wafi kini mendekat. Mengambil kaos kakiku yang tercecer di lantai dan memasukkannya ke keranjang pakaian yang kotor.
Aku terdiam. Hal kecil yang dilakukan Bang Wafi itu begitu menyentuh. Hatiku menghangat seketika. Memang Bang Wafi satu-satunya keluargaku. Ya sejak kecelakaan dua belas tahun lalu yang merenggut kedua orang tuaku. Menyisakan aku dan Bang Wafi yang harus bergulat dengan kehidupan.
Terkadang jika aku sangat merindukan Ayah dan Ibu, aku menangis dan merasa Tuhan tidak adil. Harusnya aku juga ikut pergi agar tidak merasakan kesepian seperti ini.
"Kenapa kamu keras kelapa banget sih, Cha?" Tanya Bang Wafi berdiri di dekatku lalu mengusap kepalaku.
"Ini kepala Bang, bukan kelapa!"
"Tapi mending kelapa, Cha. Kelapa aja banyak manfaatnya. Masak kamu enggak?"
Aku semakin manyun dan menepis tangan Bang Wafi.
"Pokoknya kalo Bang Wafi nggak ngijinin Chaca pacaran, mending Chaca minggat," ancamku seraya mengambil kembali tas sekolah dan pura-pura membuka lemari pakaian.
"Mau minggat kemana? Paling ke rumah Amel." Bang Wafi menanggapi dengan santai. Sepertinya ancamanku tidak berefek sama sekali.
"Mau ke rumah Amel kek, kemana kek, Bang Wafi kan nggak peduli sama Chaca." Suaraku melemah.
"Rumah Amel kan Bang Wafi nggak tahu, atau mungkin Bang Wafi emang udah nggak peduli kalau Chaca ilang."
"Jangan ngomong gitu, Cha."
Wajah Bang Wafi kini terlihat serius. Yes. Kali ini aku merasa usahaku akan membuahkan hasil.
Drrt drrt
Bang Wafi melihat handphone-nya dan mau tidak mau fokusnya terbagi. Kulihat raut wajahnya berubah. Seperti ada sesuatu yang terjadi.
"Cha, abang harus ke pesantren. Kamu baik-baik di rumah ya."
"Tuh kan Bang Wafi lebih peduli pesantren daripada adiknya sendiri." Aku membanting pintu setelah Bang Wafi berjalan keluar dengan tergesa.
Aku merebahkan tubuh ke ranjang. Rasanya sepi banget hidupku. Bang Wafi bahkan tidak menghiraukan aku. Inilah alasanku ingin punya pacar. Seperti Amel yang bahkan punya pacar tiga. Ia selalu diperhatikan. Selalu tidak pernah kesepian.
Aku mengambil handphone dan langsung melakukan panggilan video dengan Amel. Siapa lagi sahabat untuk mengurangi rasa kesalku dengan kehidupan ini jika bukan Amel.
"Hai, Cha."
"Lagi suntuk nih, Mel."
"Kenapa? Belum dapet SIP ya?"
"Apaan, Mel?"
"Surat Ijin Pacaran, haha."
Mendengar hal ini malah membuatku semakin kesal. Tanpa banyak ngomong lagi, telepon aku matikan. Rasa suntuk ini akhirnya kubawa tidur. Malas untuk melakukan apapun. Bahkan sekedar untuk makan. Sebenarnya perihal makan aku sudah kenyang teguran dari Bang Wafi. Tapi kalau hati tidak berselera, benar-benar malas walau hanya untuk bernapas saja.
***
Dalam tidur, aku merasa diriku sedang berada di tempat yang aneh. Terdengar begitu riuh oleh doa-doa—entah itu benar atau tidak. Karena setelahnya aku memasuki sebuah tempat yang belum pernah aku jumpai di alam nyata.
Tempat itu begitu besar dan luas. Ada banyak orang di sana. Anehnya hatiku merasa amat gembira. Apalagi saat aku menatap ke depan. Kedua orang tuaku dan Bang Wafi ada di sana. Mereka tersenyum bahagia. Sangat indah.
Tak begitu lama, seseorang memanggilku. Suaranya sangat berwibawa meski berat sesuai usianya. Aku tetap menunduk meski menghadapnya. Aku merasa sangat menghormati orang ini. Apalagi saat ia berfatwa dalam bahasa Arab yang tidak aku paham. Tapi anehnya bagiku kata-katanya layaknya gemericik air dari surga. Sangat menyegarkan jiwaku yang letih dan tertatih berjalan di muka bumi ini.
"Ingatlah selalu, Nak. 'Lain syakartum laazidanakum. Wa la inkafartum inna adzabi lasyadid'," ungkapnya.
Lalu aku kembali terbangun saat Bang Wafi menepuk pipiku pelan.
"Mimpi apa, Cha? Kok sampe senyum-senyum gitu?" tanyanya sembari duduk di sampingku. Bang Wafi wajahnya masih basah bekas wudhu. Aku malah salah fokus, memikirkan mengapa Bang Wafi kini ada di sampingku. Bukankah seharusnya ia masih ada di pesantren?
Aku masih tidak memberi jawaban kepada Bang Wafi. Masih setengah sadar dan kembali mengingat mimpi tadi. Yang menurutku aneh tapi sangat membekas di dada.
"Jangan-jangan mimpi pacaran ya? Sana mandi biar nggak mengkhayal yang enggak-enggak." Bang Wafi mendorong tubuhku untuk bangkit.
"Ih, apaan sih Bang."
"Sana mandi, terus sholat ashar dan makan. Tadi ada makanan dari pesantren."
"Kenapa abang terima makanan dari orang sih? Kan kesannya hidup kita kekurangan banget." Aku kembali mengerucutkan bibir. Entah mengapa malah marah-marah karena makanan.
"Mereka yang memberi kita tuh nggak kasihan sama kita, Cha. Tapi Allah menggerakkan hatinya untuk berbagi dengan kita. Ini namanya rezeki, Cha. Bersyukur dong sama Allah."
Tanpa membalas ucapan Bang Wafi aku bergerak menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dan melaksanakan perintah Bang Wafi.
"Cha, abang tuh nggak ngebolehin kamu pacaran karena abang sayang banget sama kamu," ungkap Bang Wafi sembari menemaniku menyantap ayam goreng yang diperolehnya dari pesantren.
"Bodo. Kalo Bang Wafi nggak ngijinin, Chaca backstreet aja, paling Bang Wafi juga nggak tahu."
Sontak Bang Wafi mendelik marah saat mendengar kata-kataku barusan. Memangnya aku anak kecil yang harus selalu nurut apa kata Bang Wafi? Dua hari lagi kan ulang tahunku, ulang tahun ketujuh belas. Artinya aku sudah dewasa dan bisa menentukan sikap untuk hidupku.
"Jangan, Cha."
Bang Wafi mengembuskan napas dalam. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Aku hanya ingin merasakan punya seseorang yang istimewa. Yang selalu memberikan perhatiannya untukku. Apa salah keinginanku ini?
ESTÁS LEYENDO
Indama Nuhibbu (PROSES REVISI)
Novela JuvenilChaca gadis manis yang keras kepala ingin merasakan punya pacar. Afif, cowok narsis yang keluar dari pesantren karena dikejar-kejar santri untuk dijadikan pacar. Keduanya bertemu dan terikat kontrak pacaran yang sedikit 'aneh'. Bagaimana cara Chaca...
