Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

»prologue«

61 7 0
                                        

Apa yang pertama kalian pikirkan tentang sebuah ketakutan ? sebuah rasa yang muncul ketika seseorang berada pada titik terancamnya bukan? Pola pikir setiap orang akan ketakutan berbeda beda. Tak terkecuali dengan perempuan berparas cantik serta memiliki rahang yang gembil ini.

Setelah umurnya menginjak angka hampir 10 tahun. Rasa ketakutan itu semakin menjadi-jadi.

Gelap. Perempuan dengan rahang gembil itu membuka matanya. Namun gelap. Seakan akan tidak ada satupun pencahayaan lampu yang terlihat oleh iris matanya. Kain merah itu masih terlilit indah disana. Melilit sepasang mata yang sebenarnya terbuka lebar.

Rasa takut itu kembali muncul di hatinya. Sebuah tali juga terikat manis di kedua pergelangan tangan perempuan itu. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, perempuan itu mengoyakkan seluruh badannya agar bisa terlepas dari tali yang mengikat tangan dan kakinya.

Terutama...

...matanya. Ketakutan terbesarnya adalah kegelapan. Pola pikirnya selalu terpaku pada bagaimana caranya agar lilitan kain merah itu terlepas dari matanya.

Ckrekkk..

Suara knop pintu itu sangatlah nyaring. Pintunya terbuka. Menampilkan sesosok pria dengan rahang tirus namun sangat tampan. Tatapannya berubah sayu ketika melihat perempuan yang ia kenal sedang ketakutan. Bahkan, meronta ronta.

Pria itu melangkahkan kakinya. Menapakkannya di lantai dengan sangat pelan. "Kau siapa?" tanya Han Hyerin— perempuan dengan rahang gembil itu.

Suara langkah kaki kembali terdengar. Namun, suaranya jauh lebih keras dari sebelumnya. Hyerin memiringkan kepalanya dengan tujuan mencari sumber suara yang ada. Pria itu mendaratkan pantatnya ke tepi ranjang. Menghadap kearah Hyerin yang sedang kebingungan sekaligus ketakutan. Tubuhnya juga masih berusaha untuk memberontak.

Tangan pria itu menyentuh tepi rambut Hyerin yang basah karena keringat dinginnya lalu menyibaknya dengan sangat halus, "maafkan aku," ujar pria itu lirih. Suara itu membuat alis Hyerin bertautan. Indra pendengarannya menangkap suara yang benar benar tidak asing baginya.

Suara itu. Sangat dekat. Bahkan seakan akan memiliki aura yang cukup dekat dengan Hyerin. Otak Hyerin mencoba menguak semua kejadian dalam hidupnya. Memorinya terus berputar pada setiap orang yang dekat dengannya.

Namun hasilnya nihil. Kepala Hyerin rasanya ingin pecah jika terus berusaha mengingat suara itu. "Kau siapa huh?" tanya Hyerin sekali lagi namun dengan pengucapan lebih keras.

Nafas perempuan itu semakin mengeras. Dadanya naik turun seiring dengan ketakutan yang semakin menjalar ditubuhnya. Entah kenapa kepalanya begitu sangat sakit. "Kumohon lepaskan aku." Perempuan itu mengeluarkan beberapa tetes air dari pelupuk matanya.

Usapan lembut dilontarkan pria yang berada sangat dekat dihadapan Hyerin. Tangannya terulur mengusap air mata itu. Seakan akan air mata Hyerin sangat berharga baginya, "maafkan aku Hyerin."

Cup

Tiba tiba sebuah kecupan mendarat di mulut kecil Hyerin. Dalam hati, Hyerin sudah menjerit ketakutan. Banyak rasa takut yang ia alami saat ini. Ketakutan akan gelap, masa lalu atau bahkan kematian. Semua itu tercampur aduk dalam otak Hyerin.

Mulutnya masih bungkap. Tak mau membalas sedetik pun kecupan manis dari pria yang ada dihadapannya. Air matanya terus mengalir dari pelupuknya. Sampai tak lama kemudian air itu menetes diantara mulut Hyerin dan..

...Pria misterius itu. Karena masih bungkam, dengan sengaja pria itu menggigitkan giginya pada bibir bawah Hyerin. Mau tak mau perempuan dengan paras cantik itu membuka bibirnya dengan cukup lebar.

Sungguh licik, Batin Hyerin. Entahlah semua pikiran negatif sedang berdemo ria di otak Hyerin. Semuanya berkecimpung disana. Pria itu tetap menanggut bibir Hyerin dengan tak mau kalahnya. Tangannya juga terulur untuk memegang rahang gembil Hyerin.

Hyerin memberontak. Sungguh, dari awal ia membuka matanya yang berakhir dengan kegelapan. Ia sudah memberontak dengan sekuat tenaga. Namun tenaganya tak cukup kuat untuk melawan pria yang ada dihadapannya.

Semua lumatan itu masih berjalan meski dengan pemberontakan sang perempuan. Sampai saat itu tiba, "ku harap kau memaafkanku..

.. Hyerin-ah."

***

Pening. Satu kata yang mampu perempuan ini rasakan ketika terbangung dari masa tidurnya. Ia terbangung. Terbangun karena mimpi buruk, mungkin?

Keringat dingin juga masih mengalir di pelipis kepalanya. Dadanya ikut serta naik turun karena sesak yang perempuan ini rasakan. "Kenapa harus mimpi buruk Ya Tuhan," gumamnya lirih.
Ia memegangi kepalanya sambil terus merintih. Matanya juga ikut terpejam karena pening yang ia rasakan begitu teramat menyakitkan.

Suara dentingan jam juga begitu nyaring di tempat ini. Tempat dimana perempuan itu sering tertidur secara tiba tiba hanya karena menunggu kedatangan seseorang. Iris biru itu melirik jam dinding yang tertempel indah di dinding ruang makan.

03.10. Oh shit! Bahkan hari sudah berganti. Perempuan itu kembali melirik pemandangan tidak asing yang berada tepat dihadapannya duduk saat ini. "Bahkan ini sudah berganti hari, tapi kau belum pulang," gumamnya lirih.

Mulutnya yang kecil itu membentuk kurva kebawah sambil menatap sayu hidangan yang sama sekali belum tersentuh. Perempuan itu pun tau dimana larinya hidangan hidangan itu pada akhirnya.

Dimana lagi kalau bukan tempat sampah? Kurva di mulutnya tiba tiba berubah tertarik ke atas. Hatinya mencoba meyakinkan keadaan. Matanya menyorot dengan penuh harap.

Mata polos itu kembali berbinar, "tak apa. Kau bekerja demi ku bukan? Aku mempercayaimu..

...Byun Baekhyun."

—tbc—

Hallo readr's!!!! My first work di acc ini tbh ahahaha.

Pasti author bakal nyuruh ngevote nih!

Eits, kata siapa? Aku sendiri bukan type author yang punya target voting untuk update ke next chapt. No, disini aku memberi kalian kebebasan, if you like this you can vote.  Karena tujuanku menulis sebenernya untuk menuangkan semua elemen kehaluan yang ada di otakku.

Haha, See u in the next chapter, monbee ❤

the endStories to obsess over. Discover now