Prolog

254 9 2
                                        

"Tak akan ada cerita, jika tak ada peran dalam cerita itu!"

Di sebuah rumah minimalis lantai satu dengan taman di depan rumah yang ditanami bunga serta pohon hijau membuat kesan asri.

"Maaa ada kecoa, huaaaa?!"

Teriakan seorang gadis bernama Safira Alodya Meydi yang menggelegar membuat semua penghuni rumah langsung menutup telinganya. Gadis tak suka make-up, muka pas pasan, hidung kecil, bibir merah muda, pipi tembem, serta kulit putihnya membuat gadis itu terkesan imut. Dia cuek dengan penampilannya, toh nggak ada yang merhatiin gue kenapa harus dandan, pikirnya.

"Abang, bantu adek kamu tuh teriak mulu ntar. Mama lagi masak ini!"

Teriak Dinar Sastriavi ibu rumah tangga paruh baya yang memiliki wajah selalu terlihat muda, karena penampilannya yang selalu mengikuti jaman.

"Iya ma, lagi otw nyusul. Tuh bocah kebiasaan banget dah nyusahin."

Gerutu seorang laki laki yang memiliki wajah tampan, tubuh tinggi tegap, sifat penyayang, serta humoris, dan terkadang menyebalkan. Defaro Erland Maeda, dia abang satu satunya yang Fira punya.

Papanya seorang dosen, tegas, selalu rapi, dan disiplin. Irwan Aditya.

...

Di tempat lain, rumah mewah dengan halaman luas serta fasilitas yang lengkap. Seorang lelaki sedang sarapan dengan roti selai coklat kesukaannya. Elbara Reinaldo Mahardika.

"Nih sayang diminum susunya!" ujar Mila Marwa, bundanya.

"Makasih bun"

"Pagi semuaaa. Roti buat gue mana bang?"
Ujar seorang laki laki yang baru turun dari kamarnya lengkap dengan seragam SMA nya. Raka Delon Mahardika.

"Buat sendiri sana lah, masih punya tangan kan lo?" balas Bara dengan kesal.

"Cepat lanjutkan sarapannya nanti kalian terlambat sekolah." ujar Davin Mahardika, papanya.

Mereka pun melanjutkan sarapan dengan tenang.

Assalamu'alaikum guys
Prolognya gak jelas ya, aku bingung aja mau nulis gimana untuk ngenalin tokoh nya, semoga kalian suka sama cerita pertama aku ini. Maklumin penulis baru ya

ELSAWhere stories live. Discover now