Curry

60 11 0
                                        

"Curry, astaga!"

Pekik Ami terkejut melihat semua bunganya berantakan diatas meja kerjanya.
Bunga yang baru saja 10 menit lalu Ia petik dari kebun dihalaman belakang rumahnya itu sengaja Ia taruh dulu diatas meja yang biasa Ia gunakan untuk mengarang.

Sekarang bunga bunga cantik itu terlihat hancur beberapa kelopaknya, robek daunnya, dan terpisah dari batangnya.

"Miaw..." Ami menoleh kesal tapi tidak tega juga untuk memarahi satu satunya keluarga yang Ia punya, kucing kaliko berbadan gempal yang sekarang menatap Ami melas seolah minta maaf dari kolong meja kerja Ami.

Bunga bunga itu memang sengaja Ia taruh disana dan akan Ia karang setelah Ia selesai mencuci tangan dan merapikan perkakasnya setelah berkebun tadi.

Tapi bukannya langsung mengarang, Ia malah harus merapikan dahulu kerja tangan Curry si kucing jahil yang kesepian ini.

"Iya, udah aku maafin, sini.."

Curry menghampiri Ami yang sudah merendahkan badannya jongkok hendak menggendongnya. Curry membenturkan kepalanya ke dagu Ami dan mengelusnya dengan kepalanya.

"Gini nih kalau udah bikin salah, pasti ngerayu.. iya aku maafin, jangan sering sering ya, aku kan mau karang bunga bunga itu.. kamu nih.."

Oceh Ami dengan bibir maju kesal, ingin marah tapi Curry terlalu pintar merayu.

"Kalau udah gini, aku ngapain dong? Kamu kan tau aku..."

Curry seolah paham pemiliknya tidak dalam suasana hati yang baik. Curry sudah terlalu hafal dengan ucapan Ami yang menjurus itu.

Curry pun lompat dari pelukan Ami dan berlari naik keatas sofa. Diatasnya, ada buku catatan harian Ami yang tertutup. Curry menggaruk garukan cakarnya diatas sana. Melihat itu, Ami menghela nafas dan tersenyum. Ia berdiri dan menghampiri Curry yang seolah menyuruhnya ikut duduk disana.

Ami duduk disebelah Curry diatas sofa yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk ditiduri satu orang dewasa. Tangan Ami mengambil buku hariannya yang berwarna ungu itu. Terlihat usang tapi sebenarnya hanya penuh cakaran Curry disana dan sini.

Ami membukanya tepat dihalaman yang Ia batasi dengan sebatang bunga mawar yang mengering. Terbuka halaman baru, masih kosong. Ami menoleh pada Curry seolah meminta ide, Curry menatap pemiliknya balik, mengeong seraya Ami tersenyum.

Ia menghampiri meja kerjanya yang dipenuhi bunga yang berantakan. Mengambil salah satunya dan mencabut perlahan kelopaknya dan memisahkan dari asalnya.

Ami memang selalu membuat oshibana (seni bunga kering dari Jepang) khusus bunga bunga hasil kerja Curry. Ia menempelkan kelopak kelopak bunga itu diatas buku hariannya. Membentuk suatu gambar. Gambar bulan sabit yang indah.

Iya, Ami selalu suka dengan bentuk bulan, apapun itu purnama, atau sabit. Baginya, bulan selalu bisa mengajaknya bersinar digelapnya malam, digelapnya kisah, digelapnya hidup.

Curry terlihat tidak mengomentari apa apa, karena saat Ami menoleh kearahnya, ternyata Ia tertidur di sofa empuk di ruangan sempit itu.

Diruangan sempit itu, yang Ami sebut rumah, Ami mengalami banyak kisah hidup, sendirian. Oh, maksudnya, bersama Curry. 17 tahun Ami hidup, Ami habiskan dirumah itu, sendirian. Sampai saatnya Ia membawa Curry yang tersesat dikebunnya 7 tahun lalu, pulang bersamanya kerumah.

Curry memang entah darimana asalnya. 7 tahun lalu, Curry hanyalah kucing kecil nan imut yang tidak berhenti mengeong.

Ami yang waktu itu masih 10 tahun, sedang menangis tak henti juga, sama seperti Curry kecil yang minta pertolongan.
Ami menghentikan isaknya, menoleh kesana kemari mencari sumber suara.
Kucing kecil itu mengganggu haru tangisnya yang tidak berhenti 2 mingguan ini.

Ami berdiri dari tempat duduknya didekat jendela. Berjalan langkah demi langkah sambil terus mengelap air matanya yang tersisa.

Di ruangan yang hanya dihuni satu orang seperti ini, rasanya akan mustahil jika tidak menemukan sumber suara itu.

Ami mencari kesudut dapurnya. Ia hanya melihat tumpukan roti roti panjang kering.

Ia melangkah berpindah kedekat tempat tidurnya, mengangkat selimutnya yang menyentuh lantai, tidak ada juga dibawah kolong sana, batinnya.

"Dimana sih?" Oceh Ami yang tadi sedih berganti menjadi kesal karena penasaran.

Ami duduk diatas kasurnya, suara itu masih terdengar. Ia menyeka rambut hitam sebahu-nya dan membebaskan telinganya untuk mendengar lebih jelas.

Ia mulai berdiri lagi. Mendekatkan diri pada pintu belakang, yang mengantarnya ke kebun. Tangannya yang mungil dan penuh luka akibat Ia sakiti sendiri beberapa minggu terakhir itu menyentuh kenop pintu besi yang dingin.

Perlahan Ia buka dan melangkahkan kaki ke kebun belakang rumah. Bisa dibilang bukan kebun, tapi halaman rumah yang tak terawat dan dipenuhi ilalang.

Suara mengeong itu semakin jelas seraya Ami menyingkirkan ilalang tinggi itu untuk membuka jalan. Beberapa langkah Ia menahan ilalang dengan tangannya, Ia menemukan kucing kecil berumuran 1 bulan dengan bulu 3 warna yang sangat lucu.

Sekarang adalah perubahan kedua yang mimik wajah Ami lakukan setelah sedih dan kesal barusan. Ia terlihat sangat terkejut dan senang dalam waktu bersamaan saat matanya bertatap dengan binar mata kucing kecil itu.

Entah namanya apa, tapi Ami merasa terhipnotis dengan tatapan kucing kecil yang sekarang lihai memberantaki karangan bunga milik Ami.

Ia namakan Curry. Entah kenapa Ami memilih nama itu, tapi Ia sangat bersyukur bisa memiliki Curry, Ia membuatnya tidak kesepian lagi, setelah semua orang meninggalkannya, sendiri.

Bless Those Smeraldo(s)Stories to obsess over. Discover now