"Aku mau kita putus!!"
Berat rasanya saat tari mengucapkan hal itu. Jika saja waktu bisa diputar kembali, mungkin saja dia akan menarik ucapannya. Yang dia butuhkan hanyalah perhatian dari Ares. Tapi, akhir-akhir ini Ares bersikap dingin kepadanya.
"Kamu mau putus? Yaudah" Ares benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Pikirannya buntu saat ini, ibunya sedang sakit otomatis seluruh perhatian Ares tertuju pada ibunya. Tapi, disisi lain ada tari yang juga memerlukan perhatiannya. Dengan tangan terkepal, ares berusaha menahan gejolak emosi yang ia pendam sejak tadi. Dia tidak bermaksud untuk membuat tari menangis dan mengemis perhatian darinya. Tapi kondisinya memang sedang tidak memungkinkan saat ini.
"Dengan gampangnya kamu bilang yaudah? Yang artinya kamu bener-bener pengen hubungan ini berakhir?" Tari tidak percaya dengan apa yang ia dengar, mendadak air mata tari luruh dengan derasnya. Bukan jawaban itu yang ingin didengar tari, tapi Ares dengan gamblang menjawab bahwa ia ingin mengakhiri hubungan mereka. Tari terus menangis sampai-sampai punggungnya naik turun karena isakan. Dadanya terasa sesak kali ini, menyesali perpisahan yang ia buat sendiri.
"Kan itu mau kamu? Kamu mau kita putus kan? Yaudah aku iyain, terus kenapa malah nangis? Kamu bikin seolah-olah aku yang salah. Padahal yang mutusin hubungan ini kan kamu? Kenapa jadi aku yang keliatan salah?" Ares tidak bermaksud untuk berbicara seperti itu, apalagi sampai membuat tari menangis. Tapi itu yang diinginkan tari, dia yang ingin hubungan ini berakhir. Ares mengusap wajahnya gusar, tangis tari kali ini benar-benar pecah. Ingin sekali rasanya ia merengkuh tari dalam pelukannya. Sayangnya, ini bukan waktu yang tepat.
"Aku gak maksud bilang gitu, aku cuma emosi res" kaki tari sudah tidak kuat menopang tubuhnya. Akhirnya ia terjatuh lunglai tepat didepan Ares. Suasana taman rumah sakit yang sepi karena hari sudah gelap menambah rasa sesak. Tari masih tidak percaya hubungan yang ia pertahankan selama ini mendadak hancur karena dirinya sendiri.
Melihat tari yang sudah terduduk diatas rerumputan taman. Ares seolah menebalkan telinga dan bertingkah seolah tidak peduli dengan tari. Padahal sedari tadi ia sedang menahan gejolak untuk memeluk tari. Bukan kisah cinta seperti ini yang diinginkan Ares. Ia baru tau kalau sakitnya patah hati bisa membuat orang mendadak buta.
"Gak usah nangis, pulang gih. Udah malam, aku masuk dulu" tanpa menoleh Ares terus berjalan, sambil terus mengepalkan tangannya. Meninggalkan tari yang sedang menangis.
Tari melihat kepergian Ares, ia sudah tidak bisa lagi menahan Ares untuk tetap disisinya. Punggung Ares semakin kecil sampai akhirnya menghilang dari pandangan tari. Masih dalam keadaan menangis tari berusaha berdiri, berjalan pulang dibawah langit malam yang redup tanpa adanya bintang dan bulan. Sama seperti hatinya saat ini, redup tanpa adanya Ares.
Cerita ini didedikasikan untuk teman aku Nurdiantari Febrianti. Kisah cinta mu membuat warna baru pada ceritaku. Thx y 🖤
Jangan lupa vote and coment ya teman-teman. Karena itu benar-benar beharga bagi aku.
YOU ARE READING
Sunflowers
Teen Fiction"Kamu pikir jadi cewek agresif itu gak capek? buat dapetin kamu aja aku harus rela tebelin muka biar gak dibilang cewek murahan. yang jelas sayang aku ke kamu itu tulus dan gak main-main. Karena sekalinya aku jatuh cinta, aku gak akan pernah lepasin...
