Bab 1 - Yang Datang ke Laut -

46.3K 296 0
                                        

Aku tidak pernah takut dengan kematian

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aku tidak pernah takut dengan kematian.

Angin malam hari itu berembus pelan, membawa bau asin laut yang tidak akan pernah benar-benar hilang dari desa pesisir itu. Deru ombak datang dan pergi, suaranya menyusup ke sela-sela tawa anak-anak yang berlarian di dalam rumah tua. Tawa mereka memantul di dinding kayu yang mulai lapuk, hidup, dan riuh.

J duduk di teras, bersandar malas pada salah satu tiang kayu. Ia baru saja selesai mengangkat kardus-kardus mi instan ke dalam bangunan itu. Kaus tipis menempel di tubuhnya, celana pendek memperlihatkan lutut dengan bekas luka lama yang tak lagi ia ingat asalnya. Rambutnya dipotong pendek—buzz cut yang sudah melewati masa rapi, dibiarkan tumbuh tanpa niat diperbaiki. Ia memang tidak terlalu peduli bagaimana orang lain melihatnya.

Matanya menatap laut yang gelap.

Aku tidak pernah benar-benar takut pada kematian, pikirnya.

Sejak kecil, J tumbuh dengan kesadaran bahwa hidupnya bukan sesuatu yang sepenuhnya miliknya. Hari-harinya terasa seperti angka-angka yang sudah ditentukan. Dulu, orang-orang bilang ia hanya akan hidup sampai usia empat belas tahun. Namun sekarang ia tujuh belas. Bagi orang lain, tentu saja itu merupakan keajaiban. Bukti kuasa Tuhan.

Bagi J, Tuhan terasa terlalu murah hati pada anak yang bahkan tidak pernah terlalu takut mati. Kadang ia berpikir, seharusnya waktu itu diberikan pada anak-anak lain—mereka yang benar-benar ingin hidup, yang menggenggam hari-hari mereka dengan putus asa. Sejak saat itu, kematian berhenti menjadi sesuatu yang menakutkan. Ia berubah menjadi kemungkinan lain yang bisa datang kapan saja, tanpa perlu ditunggu atau dihindari. Mungkin karena itu J lebih sering menghabiskan waktunya di yayasan kecil ini.

Setelah pulang sekolah, ia selalu menyempatkan diri datang, membantu menjaga anak-anak sekolah dasar yang orang tuanya masih bekerja. Para orang dewasa menganggap tempat ini seperti tempat penitipan anak sederhana, dan mereka bersyukur J mau melakukannya.

"Kak J!" Suara nyaring itu menariknya kembali ke dunia nyata. Ia menoleh ke arah pintu kayu yang catnya sudah lama mengelupas. Seorang anak berlari ke arahnya, sandal jepitnya menampar lantai semen yang retak di sana-sini.

"Aku mau es krim!"

"Yang cokelat!" teriak anak lain, menyusul dari belakang.

"Yang ada kacangnya, ya kak!"

"Aku juga, kak"

J tersenyum tanpa sadar. Tangannya terangkat, seolah ingin menenangkan kerumunan kecil itu, meski ia tidak benar-benar berusaha menghentikan mereka. Ia membiarkan suara-suara itu menabraknya sekaligus, penuh tuntutan kecil yang entah sejak kapan selalu ia penuhi.

J tertawa kecil, nyaris tak terdengar. ia mengangguk sambil memasukkan dompet ke saku celana.

"Iya, tapi habis makan es krim langsung pulang, ya" katanya, walau ia tahu permintaan itu hampir tidak pernah dipatuhi.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 10 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The World Doesn't Belong to UsStories to obsess over. Discover now