Uap tipis dari secangkir teh Earl Grey bergerak perlahan di hadapan Ilena, menghilang sebelum sempat mencapai atap paviliun. Ia duduk dengan tenang di kursi kayu, satu tangan menopang dagu sementara tangan lainnya sesekali mengangkat cangkir ke bibir. Buku yang terbuka di atas meja sejak tadi tidak banyak mengalami kemajuan. Perhatiannya lebih tertarik pada taman yang terbentang di hadapan paviliun, pada mawar putih yang bergoyang pelan dan suara air dari kolam kecil di antara pepohonan.
Ilena memang sengaja memilih tempat itu untuk menghabiskan waktu luangnya. Kediaman keluarga von Leuween tidak sebesar atau semewah beberapa rumah bangsawan lain, tetapi taman di belakang kediaman selalu menjadi tempat yang ia sukai. Tidak banyak orang datang ke sana, sehingga ia bisa menikmati teh tanpa harus memikirkan jadwal makan malam, surat dari kerabat, atau kewajiban lain yang biasanya melekat pada dirinya sebagai putri seorang duke.
Seorang pelayan muncul dari balik deretan pepohonan dan berhenti di depan paviliun. Setelah membungkuk, ia menyampaikan pesan dengan suara sopan bahwa Duke Henrique memintanya datang ke ruang kerja.
Ilena menurunkan cangkirnya perlahan dan memandang pelayan itu dengan kening berkerut. Ayahnya jarang memanggilnya secara mendadak, terlebih saat ia sedang tidak memiliki kewajiban apa pun.
“Sekarang?” tanya Ilena, sedikit heran.
“Sekarang, Lady Ilena. Beliau menunggu Anda,” jawab pelayan itu.
Ilena mengangguk dan berdiri. Ia merapikan lipatan rok gaunnya sebelum meninggalkan paviliun, tetapi baru beberapa langkah ia berjalan ketika sebuah kemungkinan melintas di kepalanya. Langkahnya melambat, dan wajahnya seketika berubah muram.
“Jangan-jangan Ayah menemukan seseorang untuk dijodohkan denganku,” gumamnya pelan.
Ia segera mengusir pikiran itu dan melanjutkan perjalanan.
Ruang kerja Duke Henrique berada di bagian timur kediaman, menghadap langsung ke halaman belakang. Ketika Ilena masuk, ia mendapati ayahnya sudah berada di balik meja bersama beberapa dokumen yang terbuka. Peta wilayah utara kerajaan terbentang di salah satu sisi meja, sementara sebuah surat dengan lambang keluarga Amsberg diletakkan paling atas dari tumpukan lainnya.
Chevalier von Leuween, yang lebih sering dipanggil Valier oleh keluarganya, berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan bersilang di depan dada. Lima tahun lebih tua daripada Ilena, ia memiliki pembawaan yang lebih tenang dan mudah dipercaya daripada adiknya. Rambut cokelat gelapnya tersisir rapi, meski beberapa helai telah jatuh ke dahinya, dan pakaian yang dikenakannya menunjukkan bahwa ia baru saja menyelesaikan urusan di luar rumah.
“Kau juga dipanggil?” tanya Ilena sambil berjalan mendekat.
Valier mengangguk ringan. “Ayah ingin membicarakan sesuatu dengan kita.”
Ilena menarik kursi di hadapan meja dan duduk. Pandangannya berpindah dari Valier lalu pada Henrique yang masih membaca dokumen di tangannya.
“Ayah tidak sedang merencanakan pernikahanku, kan?” tanyanya, kali ini dengan nada lebih hati-hati.
Henrique mengangkat wajah dari dokumennya. Ia menatap putrinya beberapa saat sebelum menggeleng. “Bukan soal pernikahan.”
Ilena menghembuskan napas lega. “Syukurlah.”
Sudut bibir Valier bergerak sedikit, tetapi ia memilih diam. Henrique pun tidak memperpanjangnya. Ia meletakkan dokumen yang sedang dibacanya, kemudian menarik satu lembar surat dari tumpukan di sebelahnya.
“Ayah punya sebuah tugas untukmu, Ilena.”.Nada suaranya tidak terdengar seperti sebuah permintaan. Ilena yang semula mulai santai kembali menegakkan punggungnya.
VOUS LISEZ
The Duke's Reluctant Servant
Fiction HistoriqueIlena Maede von Leuween adalah putri seorang duke. Sayangnya, ayahnya memiliki ide yang sangat buruk. "Pergilah ke duchy Amsberg, menyamarlah sebagai pelayan." Sebagai seseorang yang seumur hidup tidak pernah melipat seprai sendiri, Ilena yakin misi...
