Aku membalas lambaian tangan Ayahku. Tidak biasanya Ayah menjemputku di kampus. Apalagi siang-siang begini. Biasanya Ayah masih sibuk di kantornya.
Tapi tiba-tiba tadi Ayah mengirim pesan, akan mejemputku untuk makan siang bersama.
"Hai.. lagi pengen makan apa?" Sapanya begitu aku sampai di depannya, tak lupa memelukku dan mencium pipiku.
Iya, aku tau ini aneh untuk sebagian orang, udah sebesar ini aku masih sering di cium dan di peluk ayahku. Tapi, mau gimana lagi?. Ini udah seperti kebiasaan.
Tak jarang banyak yang mengira kami sepasang kekasih, tak terkecuali anak-anak kampus. Aku yakin gosip tentang aku yang pacaran sama om-om akan semakin di perbicangkan.
Bukan, Aku bukan anak hits yang segala sesuatu yang kulakukan akan jadi perbincangan banyak orang. Lebih tepatnya sih..mereka lebih mencari-cari kesalahanku, untuk dijadikan bahan gosip terbaru mereka. Tentu saja, dengan di lebih-lebihkan.
Pernah mereka bergosip tentang aku yang menggoda salah satu dosen muda. Padahal, aku hanya diminta tolong membawakan tumpukan tugas ke kantornya. Dan dengan seenaknya mereka membuat gosip aku menggoda dosen itu.
Tapi, aku tidak peduli dengan mereka, berusaha tidak peduli lebih tepatnya. Walau kadang ingin marah-marah menyangkal semua yang mereka tuduhkan. Tapi belum pernah kulakukan sampai sekarang. Aku masih bisa menahan amarahku, entah sampai kapan.
" Jadi makan apa?" Ayah mengulang pertanyaan setelah kami masuk mobilnya.
"Apa aja deh, Key ngga ada ide." jawabku sambil memeasang seatbelt.
"Kok gitu? Coba dipikirin lagi.." Ayah menoleh ke arahku.
"Ya udah sushi aja deh.."
"Sushi? Oke.." Ayah mulai menyalakan mobil dan meninggalkan kawasan kampus.
"Nanti, setelah makan, sekalian beli apapun yang kamu mau."
"Beli apa? Kan Key udah bilang, Key lagi nggak butuh apa-apa Yah.."
"No! Kan Ayah juga udah bilang.."
"Yah.. kalau Key butuh apa-apa kan pasti bilang Ayah. Nah, sekarang Key lagi ga butuh apa-apa."
"Kok gitu sih.. Ini kan ulang tahun kamu, masak ga pengen hadiah apa-apa? Pokoknya kamu harus pikirin dulu, masih ada waktu sampai kita selesai makan."
"Tau ah.." sebel juga lama-lama.
Ayah itu, selalu memberikan yang terbaik untukku. Walau menjadi orang tua tunggal, ayah selalu memastikan semua kebutuhanku terpenuhi. Aku tidak pernah merasa kurang kasih sayang maupun materi selama ini.
Tapi tidak tau dengan Ayah. Apa selama ini ayah cukup denganku saja, atau mungkin ayah masih mengharap sosok seorang istri. Sudah beberapa kali aku menanyakan, Apa Ayah tidak ingin menikah lagi?
Tapi Ayah selalu hanya tersenyum.
Aku tidak keberatan Ayah menikah lagi. Toh,Ayah masih muda, Ayah masih kuliah saat aku lahir. Usia kami hanya terpaut sembilan belas tahun. Yah, orang tua ku menikah di usia delapanbelas tahun.
Ayah tidak pernah bercerita tentang Ibu. Entah alasan apa yang membuat ibu meninggalkan kami. Tapi yang selalu ayah bilang, Ibu pasti menyayangi ku. Yang aku tau, ibu pergi saat umurku baru enam bulan. Setelah itu, aku di asuh oma_ibu ayahku_ sementara ayah melanjutkan kuliah, sambil bekerja. Sekarang, kami hanya tinggal berdua.
"Ayah alesan apa sama Om Reno?" Tanyaku saat kami sedang menikmati makanan yang kami pesan.
Ayah tersenyum, "Ya nggak alesan apa-apa, Om Reno kan tau ini ulang tahun kamu. Om Reno juga bilang kamu mau hadiah apa dari Dia. Biar sekalian kita cari setelah ini."
Om Reno adalah sahabat sekaligus rekan bisnis Ayah. Mereka membuat perusahaan mereka sendiri bersama-sama. Walau usaha kecil-kecilan, meraka memulai bersama dari nol. Sampai akhirnya sekarang sudah lumayan bisa di perhitungkan.
"Jadi, kamu bisa pilih apa aja, Ayah bawa kredit card nya om Reno." Ayah menaik turunkan alisnya, dengan senyuman jail.
"Oh, jadi yang mau bayarin tuh om Reno? Bukan Ayah?." tanyaku pura-pura tak percaya.
"Ya nggak gitu.. kamu pengen apa dari ayah, terus kamu juga pengen apa dari om Reno? Jadi dapet dua hadiah deh.." Aku hanya mangut-mangut.
"Apa mau mobil aja? Uang ayah udah cukup kalo mau..yah mobil yang biasa-biasa aja sih, yang penting bisa buat ngampus."
"Ck! Aku pilih nanti setelah makan." Aku cemberut.
"Kok malah manyun gitu?"
"Tau ah, Key udah kenyang. ke toilet dulu, habis itu kita cari hadiahnya." aku beranjak ketoilet, masih bisa ku dengar Ayah menjawab "oke".
Aku tidak suka Ayah selalu memberikan segalanya untukku. Maksudnya, hal-hal yang tidak penting. Seperti mobil yang di bicarakan Ayah tadi. Aku ingin Ayah juga menikmati hasil kerja kerasnya, jangan selalu hanya memikirkan aku. Aku kadang berfikir, Ayah tidak mau menikah lagi karena aku. Ayah takut tidak bisa memberikan semuanya untukku lagi. Padahal aku juga ingin ayah bahagia.
YOU ARE READING
Key
RandomKey yang kaku dan susah begaul harus bisa menyesuaikan diri dengan keluarga ibu kandung nya
