Gelap Sepi Rumah Nina

18 0 0
                                        

Suara teriakan ibu Maryam terdengar jelas saat itu, aku yang sedang menyelesaikan laporanku mulai teranjak keluar rumah untuk melihat keadaan, Ibu Nina lalu berlari ke arah rumah dengan tergesa-gesa.

"Nak, ayah dan ibu mu ada?" Sambil terengah-engah dia berkata

"Ada Bu sebentar saya panggilkan"

Ketika ayah dan ibu keluar Ibu Maryam langsung memohon dan berkata

"Tolong saya pa tolong, suami saya sedang sekarat tolong dia pa"

"Astagfirullah! Ada apa dengan Pa Syakib bu?" Tanya ayah ku yang terlihat sangat panik

"Saya tidak tahu pa, tolong selamatkan dia pa"

Aku yang mendengar itu langsung teringat wajah Nina sahabatku, ada apa dengan ayahnya? Tak berfikir panjang aku langsung berlari kerumah Nina untuk memastikan sendiri apa yang sedang terjadi disana.

"Nina? Nina? Dimana kamu?"

Hanya suara tangisan yang bisa ku dengar, tak ada jawaban sepatah katapun dari mulutnya . Sialnya aku tidak bisa menemukan Nina dirumah sebesar ini. Ku periksa ke kamarnya dia tidak ada lalu aku ke perpustakaan rumahnyapun dia tidak ada juga. Lalu aku berlari ke dapur dengan harap dia ada disana dan alangkah terkejutnya aku ketika aku melihat, dia sedang berada disebelah ayahnya yang sudah terbujur kaku, di tangan Pa Syakib ada sebuah pistol yang ia genggam.

Nina milirikku setelah aku terdiam cukup lama

"Gan ayah ku.." dia berkata sambil tertatap lemah

"Astagfirullah pa syakib! Ghania cepat panggilkan kakak mu, untuk mengambil mobil kita harus bawa segera Pa Syakib ke rumah sakit"

"Baik pah" .

Mobil sudah ada didepan rumah, namun ketika Pa syakib hendak dibawa ke mobil Tuhan berkata lain, Pa Syakib terlalu banyak mengeluarkan darah sehingga dia tidak bisa bertahan lebih lama, Bu Maryam sendiri yang berkata supaya Pa Syakib tidak perlu dibawa kerumah sakit

"Suami saya sudah tidak bernyawa aku sudah melihat sendiri ketika dia menghela nafas terakhirnya"

Tangisan Nina pecah saat ibunya sendiri berkata seperti itu.

"Tidak mungkin ibu! Ayah masih bisa diselamatkan ayo ibu bawa ayah ibu, ayo Pak bawa ayah saya kerumah sakit"

Memang saat itu Pa syakib sudah meninggal tiada artinya lagi jika kita bawa kerumah sakit, namun Nina tetap tidak percaya dan bersikukuh bahwa ayanya harus dibawa ke rumah sakit.

Akhirnya ayah dan ibuku memanggil dokter kerumah agar Nina percaya bahwa ayahnya sudah tidak bernyawa dan jasadnya harus segera diurus, kasian jika jasadnya didiamkan terlalu lama.

"Nak kamu harus menerima semua kesedihan ini, semua orang akan pergi pada akhrinya dan semua terjadi atas kehendak tuhan" seru ayahku sambil memeluk Nina yang terlihat masih tidak percaya

"Tapi pak mengapa ayahku bisa melakukan hal senekat itu? Menembakan perluru ke kepalanya sendiri bukan hal yang wajar pa" Nina menangis lagi

Jujur saya aku ikut merasakan kepedihan ini, aku mengenal baik keluarga Pa Syakib. Sedari kecil aku sudah  bersahabat dengan Nina, rumahnya bagaikan rumahku juga tak ada batasan ketika kita sudah bersama. Kehidupan yang mewah tidak menandakan bahwa didalamnya akan selalu ada kebahagiaan, kadang banyak derita yang tertanam didalamnya.

Pa Syakib memutuskan membunuh dirinya sendiri karena terlilit hutang piutang. Tempo hari aku sempat melihat beberapa orang yang mendatangi rumah Pa Syakib, perawakannya besar dan kekar. Aku tak tahu ternyata itu suruhan bank untuk menangih hutang Pa Syakib. Selama ini kekayaan dan kemewahan keluarga Pa Syakib ternyata didapat dengan hasil berhutang ke bank.

Berhari-hari Nina tidak masuk sekolah , sudah satu minggu semenjak ayahnya meninggal tak terlihat dia menampakan dirinya keluar, sekedar menyiram bunga pun tidak ada, biasanya ia selalu melakukan itu di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah dan ibunya pun seperti hilang ditelan bumi. Rumahnya terlihat sepi bagai tak berpenghuni.

Keesokan harinya aku memberanikan diri untuk mendatangi rumahnya Nina hanya untuk memastikan bahwa dia dan ibunya baik baik saja.

"Assalamualaikum nin"

"Ini aku nin Ghania"

Lalu pintunya terbuka, Nina berdiri didepan ku. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, rambutnya tidak terurus, sedih aku melihat sahabatku seperti ini.

"Hai, aku bawakan bunga tulip dari pasar warnanya indah jadi aku bawakan satu untukmu"

"Terimakasih"

"Tanamanmu mulai layu Nina, ayo kita rawat bersama!"

"Lain kali saja Ghania aku sedang tidak bersemangat"

"Kamu tidak bisa terus seperti ini Nina, Kamu tetap harus bersekolah masa depanmu masih sangat panjang, aku yakin jika ayahmu melihatmu seperti ini ia akan sangat sedih dan terpukul"

"Kau pulang saja Ghania, aku sedang ingin sendirian. Terimakasih atas kepedulianmu" lalu ia menutup pintunya

Aku yakin dia belum bisa terima dengan semua keadaan ini. Aku mengerti memang sangat berat untuk anak manja seperti Nina. Aku kehabisan akal jika dia terus seperti ini,  Lekas sembuh kawan lekas kembali ceria.

Give Way To AnotherStories to obsess over. Discover now