...
The sun sets, night arrives
My love is only untimely
My heart beats quicker than my footsteps
Today, too, I follow you.
...
Angin berembus sedang, menerbangkan dengan tenang butiran salju yang turun melayang bersama gugurnya kelopak-kelopak bunga. Jejak tapak kaki berserakan di atas hamparan putih dingin tumpukan lembut es, menyisakan lubang-lubang dangkal.
Langit kini muram. Beribu-ribu kilometer dari atas kepala, matahari yang hendak pulang bersembunyi berselimut mega. Anehnya, angin tetap berembus menyenangkan. Seolah menikmati keadaan atas keteguhan pendirian seseorang, dibanding langit dan matahari yang hanyut terbawa suasana lingkungan.
"Pikirkanlah.. pertimbangkan baik-baik. Ini adalah hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu."
Suara itu keluar dari mulut yang bergetar, entah itu kedinginan ataukah menahan perasaan. Nadanya begitu pelan umpama bisikan, namun dalam. Di hadapannya berdiri siluet seorang yang tinggi semampai memunggungi deretan bukit nun jauh di sana, juga padang salju yang membentang.
"Aku tak pernah memintamu melakukan apapun demi aku." sahut datar orang itu tegas, nada dinginnya nyaris sama dengan suhu di pertengahan musim. Siluetnya yang gelap menapaki gundukan salju dengan anggun. Meskipun ujung kain yang ia kenakan tergusur-gusur menghalangi jalan, kedua kaki jenjangnya terus melangkah ke depan, mendekati orang yang sedang berdiri setengah membungkuk memegangi sebelah kakinya yang terluka.
"Satu kesempatan ini," suara berat itu terdengar lagi, di antara napasnya yang terputus-putus ia berusaha menjaga nada suara agar tetap terdengar stabil, membuat langkah orang lain berhenti tepat di depan matanya, "Satu kesempatan ini saja, hanya satu kali ini saja kumohon pertimbangkan kembali apa yang hendak kau lakukan."
"Geh!"
Uap putih lolos di antara bibir tipis itu, si empunya menginterupsi perkataan sang lawan bicara. Terdengar sebuah tawa kecil nyaring yang singkat. Sungguh sekejap.
"'Yang-hendak-kulakukan', katamu?" ejanya, "Aku sudah melakukan dan memutuskan. Kau tak usah repot-repot bernegosiasi denganku! Kau tahu itu dengan pasti. Aku 'tak keliru, bukan?" tanyanya, seolah mengejek bersama tertariknya sudut bibir yang membentuk seringai tak bersahabat.
Jejak-jejak tetes merah sangat kontras dengan warna putih salju di antara tapak kaki mereka berdua, sebagian tertutup merah muda kelopak bunga, sebagian lagi tertutup salju yang terus berjatuhan membuat sebuah gundukan. Hal baiknya, seorang di antara mereka bisa bertahan dari rasa sakit atas luka yang ia dapat berkat suhu di pertengahan musim dingin.
Lelaki yang sejak tadi membungkuk memegangi lukanya perlahan meluruskan punggung. Dengan dada tegap menghadapkan diri pada seseorang yang begitu dingin menatapnya kaku. Sampai dalam keadaan dimana justru nyawanya sendirilah yang terancan, dia masih bisa merasakan perasaan gelisah sebab mendapati wajah pucat di hadapannya. Kedua sudut bibir keringnya tertarik sedikit. Di antara guguran salju, senyum tanggungnya semakin samar sampai-sampai tak terlihat.
Masih saja ia mengkhawatirkan orang lain-yang justru telah berhasil menyayat otot betisnya-bukan diri sendiri yang dalam keadaan terluka.
Ia menyesap dinginnya udara, membiarkan ujung hidung semakin memerah. Tenggorokannya kering, tetapi kedua sudut matanya tampak teramat basah. Ia tak berani berkedip. Hatinya masih terus bergetar sejak pertama kemunculan orang itu.
Dengan suara tertahan, ia berujar, "Anggap ini permintaan terakhirku sebagai seseorang yang pernah hadir di hatimu ... hidup dalam ingatanmu."
Lagi-lagi senyum licik melengkung cantik dari bibir tipis itu. Cahaya di kedua bola mata indahnya telah lama redup. Gurat ekspresi di wajahnya tak nampak lagi sejak pertemuan mereka di hari itu. Tak ada yang dapat dibaca dari mimik dan sorot mata mati itu. Hanya rupa dari sebongkah wajah manusia yang telah menelan banyak penderitaan serta kehilangan segala harapan. Sisa-sisa kehidupan dalam dirinya seakan telah lama terkubur dalam-dalam di balik hatinya yang beku, mengeras umpama batu.
"Oh, ya?" sebelah alis tebalnya yang tegas itu terangkat tinggi, senyum mencela masih bertahan mengukir sempurna. "Kapan kita 'pernah' dekat?" tekannya, "Aku tak ingat pernah menyimpan namamu di sini." imbuhnya dengan telunjuknya menekan dada yang berbalut beledu dan kain sutra emas.
Langit di mana bintang-bintang tinggal begitu muram, sehingga ia menangis dalam bentuk padatan cairan hujan. Bukit memutih dan cadas membeku dalam diam. Daun-daun bunga melayang mengikuti kelopaknya, terbang bersama angin menuju samudra di ujung padang yang saat ini memutih. Ranting kurus yang bertahan tumbuh di tengah musim semakin meriut kedinginan. Mahkotanya sedikit demi sedikit menanggalkannya-seorang diri, kesepian, dan menyedihkan. Udara tetap menggantung kaku ditemani kesenyapan yang menyakitkan. Lengang, sebelum akhirnya terdengar bunyi nyaring benda baja bertubrukan.
'Krang!'
''You, who appears in my sporadic life
I will make you mine in the next life."
YOU ARE READING
THE DAWN
Romance"You, who appear in my sporadic life I will make you mine in the next life." A/N Sebuah cerita fiktif berlatar belakang zaman feodal. Isi, tokoh, alur dan konflik murni imajinasi penulis dengan meminjam beberapa latar sejarah sebagai bahan dasar pe...
