Bagian Satu

152 14 3
                                        

Happy Reading!!

Pagi yang cerah secerah hati seorang gadis yang sedang berjalan ke kelas  dengan riang sambil bersenandung.

"Selamat pagi kelas tercinta.." teriak gadis itu. Arsya Kazila Lorenza.

Hampir semua yang ada di dalam kelas terkejut dengan suara gadis tersebut. Walaupun begitu mereka tetap merespon. Banyak yang menjawab dengan sebutan 'anak'. Entahlah ia itu juga tidak tahu. Mungkin karena dirinya pendek.

"Tumben lo ceria banget. Ada apa rupanya?" tanya teman satu bangkunya--Nadifa Zafira Celine. Teman pertama yang ia temukan, lalu satu MOS dan sekarang menjadi satu kelas bahkan semeja.

"Mau tau aja atau banget?"

"Dua-duanya. Cepetan."

"Jadi gini... Dengerin baik-baik, gue..bisa naik sepeda..yuhuu.." teriaknya lagi tapi kali ini sambil berputar-putar.

Nadifa yang mendengar hal tersebut hanya menggeleng-geleng kepala. Ia kira ada apaan sampai sahabatnya senyum-senyum ceria di pagi hari.

"Dasar Arsya! Gue kira ada apa." Arsya hanya menyengir menampilkan deretan gigi putihnya.

°°°

Bel istirahat berbunyi. Para siswa siswi keluar dari kelas mereka. Bertaburan entah kemana, tapi yang pastinya banyak bertaburan di kantin. Sama seperti Arsya dan Nadifa.

Sampainya di kantin mereka bingung mau duduk dimana. Pasalnya hampir seluruh tempat duduk sudah penuh.

"Ini kantin udah kayak pasar ikan aja." celetuk Arsya sambil mengedarkan pandangannya.

"Hooh. Gimana kalau pesan dulu Sya,nyari tempat duduk nanti, makan dikelas juga bisa."usul Nadifa dan Arsya menyetujui nya.

"Yang pesan lo ya Sya, gue cari tempat duduk hehehe.."

"Dasar Difa! Yaudah deh. Mau pesan apa?"

"Samakan saja kayak Lo." Arsya mengacungkan jempol lalu pergi memesan makanan.

Dan tak lama dari Arsya pergi mesan makanan, ada seseorang yang memanggil Nadifa, ia pun langsung melihat ke arah sumber suara tersebut dan menghampirinya.

Arsya harus merasakan desak-desakan saat memesan makanan. Sebenarnya jadi pendek itu ada untungnya juga, karena dia bisa nyempil-nyempil sampai akhirnya bisa memesan duluan, tetapi saat hendak membayar dan mengambil pesanan nya, ia tidak sampai. Terpaksa harus berjinjit.

Sampai akhirnya ada seseorang yang menolong dirinya. "Yo, bocil, nih pesanan lo."

Arsya tersenyum saat ada yang mengambilkan pesanannya. Namun seketika senyumnya pudar saat mengetahui siapa yang membantunya. Tapi ia tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut.

°°°

Bahasa Indonesia. Pelajaran yang membosankan menurut Arsya. Dirinya pasti tidak semangat, tapi malah sebaliknya, kini Nadifa yang sangat semangat dan dengan serius mendengarkan apa yang di katakan oleh guru bahasa Indonesia.

Kepala Arsya menunduk dan ia memainkan ponsel dibawah laci meja. Lalu ia membuka Instagram untuk sekedar melihat-lihat saja. Mana tau ada yang follow atau ada notifikasi dari sang kekasih.

Astaghfirullah. Boro-boro dah ada sang kekasih, gebetan juga gak punya.

"Liat apa sih Sya?"tanya Nadifa yang membuat Arsya jadi terkejut.

"Ngagetin aja lo Dif, kagak ada, cuma liat Instagram aja mana tau calon gebetan follow." jawabnya sedikit tertawa dan tawanya sampai terdengar ditelinga guru bahasa Indonesia.
Padahal tidak keras, sungguh tajam pendengaran guru tersebut.

"Arsya! Nadifa! Kenapa kalian mengobrol di jam pelajaran saya?!" sentak guru tersebut--bu Ratna.

Semua mata tertuju pada mereka dan raut wajah mereka jadi berubah ketakutan. "Nggak ada apa apa kok bu." jawab Arsya.

"Kalau tidak ada apa apa kenapa kalian mengobrol? Kan saya tidak  menyuruh, sekarang keluar! Berdiri dengan mengangkat kaki sebelah, tangan di bentuk silang dan pegang telinga masing-masing. Jangan masuk sampai pelajaran saya selesai!!" suruh Bu Ratna.

Mereka pun langsung keluar kelas. Dan melakukan apa yang dikatakan Bu Ratna.

"Maafin gue Dif, karena gue lo jadi kena hukum juga deh." Arsya merasa kasihan kepada Nadifa seharusnya Nadifa tidak ikut dihukum.

"Gak apa apa Sya, santuy, lagian di hukum diluar juga ada keuntungannya kok." ujar Nadifa. Arsya mengerutkan dahinya. "Emang apa?" tanpa menjawab Nadifa langsung menunjuk ke arah lapangan basket.

Arsya pun langsung mengerti dan menggelengkan kepala. Ternyata ada gebetan nya toh.

°°°

"Ya ampun kak Farel! Ganteng banget sih? Jadi makin cinta kan. Uhhh.. kak Farel." pekik Nadifa.

"Kak Farel keren ya, Sya." Arsya hanya mengangguk dan meng'iyakan saja.

"Ya ampun kak Farel. Semangat kak!"

Astaga. Rasanya telinga Arsya panas banget sedari tadi mendengarkan ocehan-ocehan gak jelas dari mulut Nadifa. Tentang kakak kelas yang bernama Farel.

"Kalian! Kenapa berisik sekali?! Apa kurang hukumannya?!" Sentak Bu Ratna. Alangkah terkejutnya mereka mendengar suara guru tersebut.

"Enggak Bu." jawab mereka. Lalu guru tersebut masuk dan bersamaan dengan itu seseorang lewat di hadapan mereka.

"Loh..loh..kok berdiri diluar? Lagi dihukum?" tanya orang itu. Keduanya mengangguk. "Kasihan. Sabar ya wahai anak muda." kata orang itu lagi lalu tertawa, membuat keduanya refleks mencubit tangan orang tersebut.

"Aww.., sakit." pekiknya. "Ehh ada si bocil, kok baru nyadar, ya? Hahaha, bocil juga dihukum? Utututu...kasihannya. Sabar ya bocil."

Sungguh menyebalkan. Arsya sudah menduga nya ketika ia bertemu dengan orang tersebut, pasti ia akan di panggil 'bocil' sebenarnya ia tidak masalah, tapi mendengarnya setiap hari menjadi risih juga.

"Bisa gak sih Raf! Gak usah panggil bocil juga? Risih tau."tegas Arsya. Yang menjadi lawan bicara malah tertawa. Ya, dia Raffa Andrean Damian. Tetangga nya yang menyebalkan yang selalu memanggil dirinya 'bocil'.

"Whahaha.. iya-iya, tapi kalau lo marah makin gemes deh." Raffa mencubit pipi Arsya. Memang menurutnya Arsya itu menggemaskan.

°°°

Gimana menurut kalian? Gaje gak sih? Wkwk. Ini karya pertama saya, jadi maaf kalau ada nama yang sama atau sejenisnya.

Berikan komentar dan vote nya, karena itu akan membantu saya.

Kalau ada typo, katakan saja :v

-see you:*

RASYAWhere stories live. Discover now