"Sudah tau, Fik?" tanya Devan, Fikri menggeleng lemah.
"Masih menjadi misteri, Dev. Kayaknya aku ga bakal tau apa alasannya," keluh Fikri. Devan menghela napas berat, diminumnya es teh manis yang sudah kehilangan esnya.
Fikri sendiri hanya memandang makanan di depannya tanpa minat, tangannya sesekali mengusir lalat menjauhi makanannya.
"Coba tanya sama kasir, atau sama pelayan. Mungkin mereka tau sesuatu," saran Devan. Fikri hanya mengangguk tanpa minat, tangannya kembali bergerak, kali ini mengambil es jeruk yang sudah menghangat.
Keheningan menyelimuti meja mereka, baik Devan maupun Fikri tak ada yang berniat membuka percakapan. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing sebelum kedatangan seorang wanita setengah baya dengan dua pria berseragam polisi masuk ke dalam rumah makan.
Suasana mendadak ramai dipenuhi omongan banyak orang. Fikri melongok, sekadar ingin tahu apa yang terjadi.
"Dia terakhir masuk kerja hari Minggu, ga ada omongan atau perilaku mencurigakan. Dia emang pendiam pak, aku cuma pernah ngomong dua kali sama dia," ucap seorang pria gemulai panjang lebar, salah satu polisi itu mengangguk sementara rekannya mencatat pengakuan mereka.
"Kerja restoran kan memang berat Pak, jadi saya rasa tak aneh bila dia kabur karena tak betah." Kali ini giliran si wanita paruh baya yang memberikan kesaksian, Fikri masih acuh tak acuh, toh apa urusannya dengan dia, kan?
"Baiklah, terimakasih atas informasinya. Kalau ada perkembangan terbaru soal Nona Oliv, pasti akan kami kabari," ujar salah seorang polisi. Wanita paruh baya itu mengangguk, tumpukan kalung di lehernya saling bertubrukan satu sama lain. Kali ini Devan yang menengok, sedetik kemudian tertawa kecil.
"Kenapa?" tanya Fikri, Devan menggeleng.
"Bukan apa-apa, hanya toko mas berjalan di arah jam tiga," terang Devan. Kali ini giliran Fikri yang tertawa.
"Biarlah, mungkin tren ibu-ibu jaman sekarang memang seperti itu." Devan menganggukkan kepala, tampak setuju dengan ucapan Fikri barusan.
"Yakin ga mau dihabiskan?" ujar Devan sembari melirik piring makan Fikri yang masih setengah penuh, setengahnya lagi jatuh ke meja.
"Enggak, ga nafsu. Udah warnanya cuma hitam putih, sekarang rasanya juga sama hitam putihnya." Fikri kembali mengeluhkan soal ayam bakar dan Devan kembali manggut-manggut, entah karena setuju atau sudah terbiasa dengan kelakuan Fikri yang berlebihan.
"Ok, kalau begitu aku bayar dulu." Kali ini giliran Fikri yang manggut-manggut, ia berjalan ke arah pintu keluar sementara temannya berjalan ke kasir.
Kepulan asap rokok menyambut kepergiannya, wangi lilin aromaterapi dengan cepat hilang karena kalah saing dengan bau rokok. Fikri menutupi hidungnya, khawatir batuk setengah niat -Sebutannya untuk batuk tak berdahak- tiba-tiba datang dan meremukkan mood yang sudah pecah sejak awal.
Ia berjalan ke arah motor Devan, tapi motor itu diduduki oleh orang lain yang sialnya sedang merokok. Ugh, remuk sudah mood Fikri.
"Permisi," ucap Fikri selembut mungkin, orang yang merasa diajak bicara itupun menengok.
"Iya? Kenapa?" Tanyanya, Fikri menghela nafas berat. Mencoba menyusun kata yang tepat untuk menyuruhnya turun dari motor Devan dan mematikan rokok sialan itu, atau bahasa kerennya 'Minggir kau calon penyakitan.'
"Ini motor teman saya."
"Lalu?"
Sabar Fik, sabar
"Kami mau pulang sekarang, jadi tolong minggir." Si calon penyakitan -Panggilan sayang dari Fikri- malah tetap dalam posisinya, kali ini dengan sengaja meniup asap rokok ke arahnya.
"Yakin ini motor temen lo?" Demi Zeus yang sekarang kalah populer dari Gundala, ingin sekali rasanya Fikri marah dan meng-unboxing motor. Hanya butuh satu pantikan untuk mengeluarkan kata pantek dari mulutnya sekarang.
"WOI FIK, NGAPAIN DI SITU?" Teriakan Devan sukses meredam keinginan Fikri untuk viral karena tiba-tiba unboxing 2.0, Fikri menengok dan mendapati Devan sedang menstater motornya.
Sebentar, motornya?
"Itu temen lo?" tanya si calon penyakitan, Fikri menelan ludah.
"Lain kali ingat warnanya ya, motor temen lo warnanya putih, seputih muka lo sekarang. Sementara motor gue warnanya hijau," ujar si calon penyakitan sembari menstater motornya. Pudar sudah harapan Fikri untuk mem-pantek-annya, sekarang ia ingin jadi debu.
"Fik, kamu okay?" tanya Devan dari atas motornya, Fikri mengangguk sembari naik ke atas jok.
Devan menjalankan motornya ke arah gardu karcis, di sana mereka kembali berpapasan dengan si penyakitan.
"Asal kamu tau, aku itu buta warna monokromatik, pantek!"
YOU ARE READING
Monokrom : Alpha
Teen FictionKalau rasa menu favorit di rumah makan favoritmu berubah, apa yang akan kau lakukan? Ganti menu atau malah ganti restoran? Bagaimana kalau ku beritahu, ada orang yang cukup gila mendirikan Geng hanya karena rasa ayam bakar favoritnya tak seenak bias...
