Saat Semua Berawal

89 9 17
                                        

Halo, namaku Ava. Usiaku hampir 17 tahun. Orang banyak menyebut usia 17 itu Sweet seventeen. Padahal aku sama sekali nggak tahu, apanya yang ‘sweet’. Hidupku sama sekali nggak manis. Ibuku meninggal saat aku berusia 10 tahun.

Dua tahun setelah itu, ayah berubah banyak. Dari seorang laki-laki penyayang, hingga menjadi monster bagiku. Ayah juga menjadi penyebab aku  tidak bisa tampil manis. Tepatnya Tante Rosie, teman ayah, yang membuatku rela tampil kumuh begini.

Saat gadis seusiaku mulai belajar dandan, aku cuek dengan rambut sebahu yang kuikat ekor kuda asal-asalan. Kubiarkan wajahku kusam tak terawat. Ada dua jerawat menghiasi pipi dan kening, tapi biar saja. Toh, wajahku lebih sering kusembunyikan di balik bayang-bayang topi lusuh yang warna birunya sudah mulai pudar.

Soal baju jangan ditanya. Sedikit bau matahari dan keringat justru membuatku aman. Mengapa? Sebab semakin lusuh penampilanku, Tante Rosie tidak akan melirikku. Lirikan Tante Rosie itu bisa berakibat fatal. Dulu, aku tampil lebih bersih dan segar. Tante Rosie melirik saat ayah mengenalkan padaku. Dia hanya berkomentar,

“Hmmm, cantik. Harganya bisa mahal, nih,” ujarnya sambil bergelayut manja pada ayah.
Ayah menanggapi dengan mencubit hidungnya, membuatTante Rosie terkikik. Kulihat lapisan bedaknya yang tebal retak-retak di garis tawanya. Tante Rosie terus terkikik saat ayah menariknya masuk ke kamar dan mengunci pintu.

“brengsek!” umpatku pelan.

Saat itu aku masih umur 14 tahun. Itulah pertama kalinya aku mengumpat. Semakin hari, semakin banyak koleksi kata umpatanku. Jangan heran dari mana aku belajar mengumpat. Mudah saja, cukup mendengarkan ayahku setiap harinya. Ada banyak kata umpatan yang diteriakkannya padaku. Apalagi sejak ayah mengajak Om Brewok ke rumah.

Aku nggak tahu nama asli Om Brewok, ayah memanggilnya Brewok. Dia pun memintaku memanggil dengan panggilan yang sama. Memang brewoknya itu lebat. Aku jadi penasaran, jika dia mencukur habis brewoknya, apakah namanya akan berubah jadi Om Klimis? Entahlah.

Om Brewok inilah yang mengajariku ilmu kecepatan tangan. Aku berlatih ilmu ini kurang dari dua minggu. Om Brewok bilang aku punya bakat alam. Dia tidak tahu, siang malam aku berlatih diiringi umpatan ayah yang menggelegar. Aku berusaha keras untuk menguasai ilmu ini karena telingaku sudah capek mendengar bentakan ayah.

Tepat saat ulang tahunku yang ke-15, ayah memaksaku memamerkan ilmu yang kupelajari.

“Nanti, kalau berhasil, ayah akan memberikan hadiah untukmu. Kau ingin apa?” tanyanya dengan suara di manis-maniskan.

“Es cokelat.” Jawabku pendek.

Hari itu aku berhasil memindahkan dompet tebal seorang ibu ke balik kausku. Ibu itu tidak menyadarinya. Rupanya latihan ilmu kecepatan tangan itu berhasil. Yaah … orang lain menyebut ini mencopet. Aku tak peduli, yang ada di pikiranku adalah es cokelat yang akan kunikmati sebagai hadiah ulang tahun hari ini.

Namun, ayah ingkar janji. Seharusnya aku bisa menduganya. Ayah mengambil semua uang dari dompet yang kucopet dan membawanya pergi setelah menelepon Tante Rosie.

“Sialan!” aku mengumpat lagi.
Malam itu, aku merayakan ulang tahunku tidak dengan es cokelat, tetapi dengan secangkir teh dingin yang rasanya tawar. Gula di dapur habis.

Yahh … itu semua masa lalu. Sekarang, hampir setiap hari aku minum es cokelat. Aku meminumnya di gudang tempat persembunyianku. Setahun lalu, aku menemukan gudang ini saat sedang dikejar orang. Apes, hari itu aku gagal mencopet seorang ibu gemuk yang bersuara nyaring. Saat menyadari tanganku merogoh tasnya, ibu itu langsung menjerit dengan suara stereo,
“Copeeettt!!”

Duh, aku langsung lari secepat kilat. Ada beberapa orang mengejarku. Aku berlari menyusuri gang-gang sempit. Sampai akhirnya menyusupkan tubuh kurusku ke sela-sela pagar gudang ini yang sedikit terbuka.

Sepertinya gudang ini sudah lama terbengkalai. Baunya apak. Debu di mana- mana. Tapi aku merasa aman di sini. Ada beberapa kotak kayu yang kususun untuk alasku duduk atau kadang berbaring sejenak sebelum pulang ke rumah.

Di bawah jendela, kuletakkan sebuah kotak kayu tempatku menyusun gelas plastik bekas es cokelat yang kuminum. Baunya sudah kecut, karena gelas-gelas itu tidak kucuci. Aku hanya menumpuknya. Kuanggap gelas-gelas itu bagai koleksi piala yang kuraih dengan susah payah. Aneh? Konyol? Biarlah.

Sayangnya hari ini aku tidak bisa minum es cokelat. Entah kenapa, tak satupun dompet yang kudapat. Setiap melihat kesempatan, aku tiba-tiba ragu di saat terakhir.

Sekarang, saat sudah hampir senja, aku masih duduk di dalam gudang. Rasa lapar di perutku, memaksa untuk membuat keputusan yang aku yakin bahkan detik ini pun kusesali. Aku berdiri dan menarik kotak kayu yang kududuki. Kubalikkan kotak kayu itu kemudian meraih gulungan kertas yang terselip di sana.

“Ava, si copet yang rajin menabung dan tidak sombong,” gumamku sambil terkikik geli sekaligus miris.

Aku memang menyisihkan setiap lembaran uang pecahan dua ribu yang kudapat dari mencopet. Hanya pecahan lima ribu ke atas saja yang kusetorkan pada ayah. Itu pun setelah dikurangi beli es cokelat. Sedikit curang pada ayah tak apa, kan? Sebab ayah tak pernah menuruti keinginanku. Semua uang yang kusetorkan disimpannya sendiri.

“Beraninya kau minta padaku. Kau kan sudah kuberi makan. Itu saja sudah cukup!” bentaknya saat aku minta dibelikan kaus baru.

Kaus yang sering kupakai sobek di bagian lengan saat aku menyusup di pagar kawat. Untung lenganku hanya tergores. Karena ayah menolak membelikan kaus baru, kujahit saja lengan kaus yang sobek itu sebisaku. Hasilnya lumayan. Sedikit berkerut, tapi tak apalah.

Sejak itu aku memutuskan untuk menyisihkan uang hasil mencopet. Walaupun aku hanya berani mengambil yang pecahan dua ribu saja, tetapi aku yakin suatu saat pasti cukup untuk membeli kaus.

Sayangnya, hasil tabunganku saat ini harus kuserahkan pada ayah. Daripada aku pulang tanpa hasil mencopet sama sekali. Bisa-bisa aku dipukulinya sampai mati. Atau yang lebih ngeri lagi, aku bakal diserahkan pada Tante Rosie. Aku gak bisa membayangkan jika harus ikut-ikutan pakai baju kurang bahan seperti dia. Apalagi jika harus tersenyum genit seperti Tante bermake-up tebal itu. Mending dipukuli ayah, deh. Sampai mati pun tak apa.

Dengan langkah Gontai, aku masuk rumah sambil menggenggam segumpal uang pecahan dua ribu. Jumlahnya seratus tiga puluh ribu rupiah. Seharusnya cukup untuk beli kaus. Namun, uang ini terpaksa kuberikan pada ayah. Semoga ayah nggak marah karena setoran hari ini Cuma sedikit.

“Dari mana saja, kok baru pulang!” hardik ayah sambil menadahkan tangan.

Aku hanya diam. Kuserahkan gulungan uang itu dengan tangan bergetar.

“Kamu habis mencopet segerombolan anak TK?”

Pertanyaan ayah lebih terdengar seperti sebuah tuduhan.

“Cuma segini? Kau tahu, hari ini ayah perlu uang lima juta dan kau pulang hanya bawa recehan busuk. Dasar bodoh!”

Ayah memaki sambil menyeret masuk ke kamarku. Saat dia keluar lagi, pintu dikuncinya dari luar.

Kudengar suara ayah menelepon. Kutempelkan telinga rapat-rapat ke daun pintu. Mencoba menguping. Beberapa kali kuusap perutku, agar suara keruyukannya tidak mengganggu pendengaran.

“Katamu dia manis. Nanti tinggal kau mandikan saja. Aku yakin kamu bisa mendandaninya hingga cantik. Aku butuh uang untuk bayar hutang, Rosie sayang.”

Aku sangat terkejut! Apakah ayah berencana menjualku pada tante Rosie? Duh.

“Maki aku, Ayah. Pukuli aku. Sampai mati juga tak apa. Tapi jangan jual pada Tante Rosie!” jeritku dari dalam kamar.

“Diam!” bentak ayah sambil menendang pintu.

Aku kebingungan. Tak ada jalan kabur dari kamar ini. Jendelaku tertutup terali besi. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar sempit ini.

“Tolong aku, Tuhan” ucapku.

Kuharap copet sepertiku masih boleh berdoa.

***

Catatan Copet CantikWhere stories live. Discover now