Dia mendudukkan badannya tepat di sampingku. Tepat sekali. Bisa dibilang mepet. Pundaknya pun menempel di pundakku. Seketika aku jadi salah tingkah, gelagapan. Apa maksudnya? Siapa gadis ini?
Aku memandangnya sekilas. Mukanya tampak murung. Dia tak berucap apa-apa–walau sekadar permisi duduk. Badanku seketika jadi ungkep di dekatnya, keringat di pelipis mulai bercucuran. Aku memang jarang sekali dekat dengan perempuan. Apalagi duduk berpepetan seperti ini. Kesendirianku memang sudah bertahun-tahun.
Aku takut bertanya duluan. Sepertinya dia lagi sensi. Seperti layaknya orang yang sedang ada masalah dan tak ingin diganggu. Setelah beberapa menit kami saling diam, akhirnya dia mengeluarkan pertanyaan yang seketika membuatku gelagapan.
"Bagaimana perasaanmu padaku saat ini??"
"Hah??!!" Aku seperti tersambar petir. Seketika reflek memastikan wajahnya.
(bersambung)
YOU ARE READING
RINDU LUKA
Teen FictionSebuah upaya menyembuhkan luka-luka yang mendera karena rindu-rindu yang tak kunjung jadi temu.
