sebuah cerita tentang Amora, seorang gadis yang memiliki sebuah impian tetapi tidak bisa meraihnya.
"kesempatan mungkin tidak selalu menghampiri tiap orang, jadi jangan menyia-nyiakan sebuah kesempatan" ~Amora.
tentu saja jangan lupa beli 2 cerita author yang sudah terbit di Play store (bagian buku) dan Google Play books.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
-
"Mora, tolong ke sini.." teriak Bu Dewi dari dalam ruangannya. Amora menghela nafas pelan setelah mendengar panggilan itu, sebelum akhirnya Amora bangkit dari kursi dan melangkah masuk.
"Ya, bu?" tanya Mora.
"Tolong kerjakan ini, harus selesai siang nanti." jawab Bu Dewi.
Amora mengangguk, mengambil tumpukan berkas yang menggunung dari meja ibu Dewi. Amora kembali ke kursinya, melihat tumpukan kerjaan yang baru saja diterimanya itu. Amora jadi mengingat masa sekolahnya dulu, ketika duduk di bangku SMA Amora berharap bisa melanjutkan pendidikan hingga bangku kuliah. Amora sudah menyusun rencana-rencana masa depannya. Sayang, kedua orangtuanya tidak mendukung Amora.
Masalah biaya menjadi alasan dari kedua orangtuanya, meskipun Amora tahu itu tidak sepenuhnya benar. Keluarganya memang bukan keluarga yang bergelimang harta, kehidupan mereka cukup biasa. Tetapi Amora tahu, kedua orangtuanya masih sanggup untuk membiayai pendidikannya sampai kuliah.
Kedua orangtua Amora bisa dikatakan masih kuno, mereka memegang prinsip dimana hanya anak laki-laki yang pantas mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Seorang anak perempuan hanya perlu menyelesaikan pendidikan secukupnya dan belajar menjadi seorang istri serta ibu yang baik. Itu menjadi alasan bagi kakak laki-laki Amora yang bisa menempuh pendidikan S1 di salah satu universitas bergengsi. Berbeda dengan Amora, pendidikannya terhenti sampai di bangku SMA.
Amora memiliki sebuah impian kecil, menjadi seorang dokter. Karena ingin mewujudkan impiannya itu, Amora belajar dengan sangat baik. Amora menjadi salah satu siswi berprestasi, tetapi semua hal yang dicapai olehnya berakhir sia-sia.
Amora membenci ayahnya, ketika sang ayah menolak untuk menandatangani berkas pengajuan kuliahnya. Amora juga membenci ibunya, ketika sang ibu menyuruhnya untuk bekerja diusianya yang baru saja genap delapan belas tahun. Ibunya berkata, Amora perlu bekerja agar bisa mengenal banyak orang sehingga memudahkan dia mendapatkan pendamping. Jodoh tidak akan datang, ketika dia hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. Setelah menikah, Amora harus berhenti bekerja dan fokus menjadi seorang ibu rumah tangga seperti ibunya saat ini.
Ketika semua teman-temannya menikmati masa-masa kuliah yang menyenangkan ataupun menegangkan itu, Amora harus duduk di depan layar komputer selama delapan jam setiap harinya. Bekerja sebagai salah satu staff accounting di perusahaan swasta, yang jauh dari bakat dan mimpinya. Amora membenci segala hal yang harus dijalaninya saat ini.
"Hei.. jangan melamun." kata Nadia.
Amora menoleh, Nadia sahabat baiknya yang dikenalnya sejak pertama kali masuk kerja. Nadia banyak membantunya, bahkan menyemangati Amora ketika dia kesal dengan tumpukan pekerjaan yang tak henti-henti datang. Mungkin ibu Dewi tidak menyukainya, itu sebabnya Amora selalu mendapatkan pekerjaan berlebih dibandingkan yang lain. Amora benci menjadi seorang penjilat, dan ibu Dewi sepertinya menyukai penjilat.
"Apa aku berhenti kerja saja, ya?" tanya Amora.
Nadia mendesah. "Kalau kamu berhenti, kamu mau ngapain? Pasangan aja kamu belum punya, bisa-bisa setiap hari ibu kamu neror kamu nanya kapan menikah."
"Iya juga, tapi aku bisa mati pelan-pelan kalau kerja bagai kuda kayak gini."
Nadia melirik sekilas ke arah tumpukan pekerjaan milik Amora. Nadia tahu, sahabatnya itu tidak menyukai pekerjaan ini dan juga atasan mereka.
"Kamu mau pindah kerja? Kebetulan, sepupu aku belum lama ini buka tempat penerbitan buku." kata Nadia setelah mengingat.
"Tempat penerbitan buku?"
"Iya. Penerbit indie, kerjaannya menerbitkan karya-karya orang gitu. Terus penjualannya lebih mengutamakan secara online. Kamu suka nulis, kan?"
"Terakhir kali aku nulis novel waktu SMP, Nad. Kalau aku kerja di sana, aku jadi apa? Dan apa hubungannya dengan aku suka nulis?"
"Sepupu aku lagi nyari pendamping buat bantuin dia menyeleksi karya-karya yang masuk. Kamu kan suka nulis, otomatis kamu suka baca. Jadi pasti bisa membantu sepupu aku, lagian ya di saat kamu senggang, kamu juga bisa nulis novel lagi. Sepupu aku bisa bantuin supaya karya kamu terbit. Setidaknya pekerjaan itu masih sedikit berhubungan dengan bakat kamu, ya kan?"
Amora berpikir, jika perkataan Nadia ada benarnya. Dia suka menulis dan membaca, bukan hal yang susah baginya untuk membaca karya-karya orang lain. Dibandingkan melihat angka-angka seharian, bukankah dia lebih baik melihat karya seni orang lain?
"Aku mau, Nad. Tapi apa sepupu kamu nerima aku?" tanya Amora.
"Udah, kamu tenang aja Amora. Aku pastikan kamu lolos seleksi." jawab Nadia.
"Makasi ya, Nad."
"Iya, sama-sama. Tapi aku sedih, bakal kehilangan temen curhat tiap istirahat."
Amora tertawa. "Kita masih bisa tetap ketemu, Nad. Kamu tetap jadi sahabat terbaik aku."