Happy reading!
Author's pov
"Hay tayo hay tayo dia bis kecil ramah, melaju, melambat, tayo selalu senang." Seorang pemuda laki laki bersenandung ria. Wajahnya terlihat ceria setiap hari dan entah apa yang membuatnya selalu ceria.
Pemuda tersebut pun berhenti di depan pintu gerbang sekolah yang telah tertutup. Bel masuk telah berbunyi dari tadi.
Pemuda tersebut pun melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 08.09 pagi.
"Oh ayolah, gue hanya terlambat 5 menit saja...(padahal terlambat 1 jam)." Pemuda tersebut memanggil satpam yang tengah tertidur di pos sekolah.
"Pakkk...hellowwww pak satpam??? Budeg kah anda pak satpam?? Pakkkkkkk?!?!?!." Teriaknya lalu membuat pak satpam terkejut dan jatuh dari kursinya.
Ia pun meringis kesakitan sambil menggosok gosok pantatnya yang sakit. Matanya pun beralih melihat pemuda yang tengah menahan tawa.
"Ya ampun Nio, kau ini selalu saja terlambat." Ujar pak satpam tersebut lalu membuka pintu gerbang.
"Biasa lah pak, orang ganteng sepertiku ini harus dimanjakan dulu dirumah." Ujarnya lalu memasuki sekolah sambil menyandang tas kesayangannya.
"Weleh weleh, di rumah dimanjain tapi di sekolah kena hukuman terus",ujar pak satpam lalu menutup pintu gerbang sekolah.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
"Berdiri di tengah lapangan hingga jam pelajaran saya habis!" Tungkas seorang guru yang berbadan gemuk kepada Nio ketika ia masuk ke dalam kelasnya.
Para teman Nio pun menertawakan Nio tak terkecuali sahabatnya Justin.
"Aelah buk, tiap hari gini terusss....apa gk bosan buk." Gerutu Nio lalu pergi ke tengah lapangan dan berdiri disana.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Gue bosan coeg." Ujar seorang gadis bersurai hitam dengan lemas kepada sahabatnya, namun sahabatnya itu tidak bergeming.
Karena tak mendapat balasan, ia pun melirik ke arah sahabatnya tersebut yang ternyata tengah memperhatikan seorang laki laki yang bermain basket.
"HEH!" Sahut gadis bersurai hitam tersebut sambil memukul kecil pundak sahabatnya.
"Hah? Apa?" Ujar sahabatnya terkejut.
"Lu ini gak denger apa yang gue bilang sih, oh ya pasti lu suka sama cowok yang baju hitam itu kan??" Ujar gadis bersurai hitam tersebut sambil menunjuk telunjuknya ke arah lapangan basket.
"Ehehe, tau aja lu Va." Ujarnya.
"Oh gitu, woyyy!!! Yang bajunya warna hitam!!! Sahabat gue suka sama lu niiihhh" teriak gadis bersurai hitam tersebut yang tak lain adalah Ziva Oktavia.
Seketika pandangan laki laki yang berbaju hitam tersebut mengarah kepada mereka berdua yang sedang adu bacot.
"Kamvret lu Vaa!!!" Sahut sahabat Ziva lalu memukul kepala Ziva.
"Aduh!, sakit woy liat tuh...dia ngeliat kita loh Wil." Tunjuk Ziva dengan dagunya.
Terlihat pria tersebut menatap ke arah mereka berdua atau lebih tepatnya kepada Willa Anastasya. Pria tersebut tengah menatap Willa dengan tatapan bingung sedangkan yang ditatap malah diam seperti patung.
Seperkian detik kemudian pria tersebut pun kembali melanjutkan permainannya.
"Wil?? Will??" Panggil Ziva, namun yang dipanggil malah diam.
YOU ARE READING
Dejarte
Teen Fiction[End✔] FYI: maaf jika banyak kesalahan dalam pengetikkan dan kata kata yang tidak sesuai dengan PUEBI karena author masih belajar dalam menulis. "Ah, iya Rista. Nerd girl yang waktu itu, ya? Padahal, kan gaya itu cocok banget buat lo." Nicky berusa...
