•Anemone•

13 0 0
                                        

WARNING!!! LEBIH OKE SAMBIL MENDENGARKAN LAGU THE TRUTH UNTOLD-BTS

••¤••

Cinta yang tak pernah luntur, ketulusan serta harapan yang pudar menyadarkan ku bahwa aku telah jatuh dalam indahmu.

••¤••

       Bunga bunga itu bermekaran disaat semua terasa penuh kesepian. Sebatang duri menembus luka jiwa yang tak terobati. Aku mati menggantung diri di istana pasir. Kelopak mata ku menutup. Aku melihatmu di ujung sana tersenyum menggenggam bunga yang ku tanam untuk mu. Sekejap hilang berganti, kini aku kembali disaat itu.

  ••¤••

       Pagi itu seperti biasa aku menyiram bunga yang ku tanam sebagai alasan untuk bahagia. Bunga yang mengingatkan ku tentang kelembutan seorang wanita. Aku melihatmu di ujung mataku. Bersembunyi, diam-diam memetik setangkai bunga biru. Aku berpura-pura dan hanya terus memperhatikanmu.

   Keesokan harinya kau kembali. Dan lagi-lagi kau memetik bunga bunga di taman ku. Menjengkelkan! Siapa kamu?! Setelah memetik beberapa tangkai bunga kau lantas pergi. Kali ini aku mengikutimu. Kau terus berjalan di depan ku dengan gaun putih lusuh tak bertangan serta goresan luka di sepanjang kaki yang  tak pernah kulihat sebelumnya.

     Tempat ini begitu asing bagiku, terlalu ramai. Aku yang begitu kesepian tak pernah melihat sekumpulan orang berbicara, tertawa atau bahkan beradu argument seseru ini. Ku edarkan pandanganku di penjuru tempat ini. Terlalu banyak orang yang sedang berusaha. Ada yang tengah berusaha mengangkat barang, menawar harga, berusaha berteriak agar menarik pembeli bahkan para pemalak di gang sempit yang terus berusaha mengambil koin emas milik warga.

     Pandangan ku akhirnya tertuju pada mu. Kau tengah berbicara dengan seorang wanita paruh baya bertubuh gempal yang terlihat pemarah. Sesekali kau tertawa canggung dan wanita itu terus melipat tangannya dengan wajah tak suka. Dengan sedikit memohon kau tukarkan bunga yang telah kau petik di taman ku dengan beberapa keping koin emas. Ada apa ini?

Lalu kau beranjak pergi menuju bapak tua  yang menjual kiloan gandum di toko miliknya. Aku terus mengikuti setiap langkah kakimu. Kurasa jalan ini sudah terlampau jauh dari kastil ku. Aku tidak tau apakah aku bisa pulang tanpa tersesat nantinya.

  
      Kini aku berada di dalam hutan yang sunyi. Hanya senandung nyanyian  mu yang entah  mengapa membuat ku merasa sedikit lebih tenang. Tak terasa, aku melihat puluhan gubuk di depan sana. Terlalu banyak orang yang berpenampilan sepertimu. Aku bersembunyi di tempat  yang menurutku aman, tempat dimana tak ada satu orang pun yang melihatku.

    Aku melihat seorang wanita paruh baya tengah sibuk menggosokkan beberapa lembar pakaian pada sebuah papan kayu, lalu mencelupkan pakaian tersebut ke dalam sungai.

" Ibu!!! Lihat aku mendapatkan sekantung gandum untuk kita!!!"Seru mu yang tengah berlari menuju wanita paruh baya itu.

"Bagaimana bisa? Kau dapat uang darimana?"

Ibu mu terlihat tidak percaya.

"Kau menjual diri?!!"

"Astaga ibu!! Mana mungkin aku seperti itu!! Lagipula tidak ada satu orang laki-laki pun yang mau denganku." Kini kamu terlihat murung, menunduk sambil melihat kakimu yang terluka.

"Maafkan Ibu Anne Lalu kau dapat dari mana uang itu?" Ibumu memegang pelan bahumu.

     Dia terlihat sangat khawatir kau tau. Aku ingin kau melihat tatapan matanya. Kau mengangkat wajah mu dan tersenyum.

The Truth UntoldWhere stories live. Discover now