Padang rumput yang hijau di sertai pepohonan berjajar rapi dan angin sepoi-sepoi menyapa dengan senang hati, hal itu dapat mudah dirasakan namun untuk dilihat takkan bisa, karena benda itu sudah berhakikat dirasakan saja, betapa indahnya ciptaan Allah. Kicauan burung-burung dari dahan pohon, menyeru akan masuknya waktu dhuha.
Diluar ruangan, disinilah terjadi percek-cokkan antara Umar dengan Wirga karena melihat sifat Umar yang mulai sakartis.
"Jangan bilang kau mencintai wanita itu." ucap Wirga hati-hati karena melihat tingkah baru Umar ketika sudah mulai berkenalan dengan seorang wanita yakni Miyanira, wanita yang selama ini menjadi alasan penyeru semangatnya.
"Jika aku mengatakan 'iya' mengapa?" timpal Umar sederhana merasa biasa-biasa saja.
"Kau sudah gila? wanita yang kau cintai itu sudah mempunyai pacar, brother." terang Wirga menunjuk jari telunjuknya tepat di wajah Umar.
Umar hanya tersenyum datar dan menggelengkan kepalanya "Pacar? hal itu tidak akan membuatku berputus asa ataupun menyerah, untuk apa secepatnya itu aku putus asa jikalau masih nama pacaran saja kau ancamkan padaku, aku pun bisa melakukannya dengan mudah tetapi aku takut, Allah Maha Melihat. Dia lah yang melihat gerak-gerikku dan melihat apa yang sedang kulakukan, dan cintaku bukan cinta semu belaka seperti orang pacaran yang senang merangkai dosa secara terus-menerus, membanggakan diri dalam ikatan dosa. Ingat, Allah lah pemilik cinta yang sebenarnya. Entah Allah mempunyai skenario yang terbaik untukku, menderita disetiap waktunya namun bukan berarti akan membuatku menyerah begitu saja. Tidak akan!" tegas Umar dengan suara yang cukup lantang.
"Umar, kau akan merasakan yang namanya derita, pedih dan rundung ketika hendak menuntunnya!" ujar Wirga melihat Umar yang dari tadi bersikap biasa-biasa saja "Padahal wanita bukan dia saja, banyak di sekitaranmu yang masih lebih baik daripada dia yang berlumuran dosa pacaran dan bagiku dia hanya wanita murahan yang senang di ajak dengan lelaki lain, pantaskah dirimu merasakan hal itu?."
Umar menatap tajam Wirga seolah-olah seperti pisau yang hendak menusuk dadanya secara pelan-pelan, dan ia hanya menggelengkan kepalanya saja "Namun ketika sudah berubah, ia bahkan lebih mahal dari berlian yang ada di dunia ini. Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasaan dunia adalah wanita yang sholehah." Umar mempertegaskan Wirga kembali.
"Dan kau berpikir dia wanita yang mahal? Sholehah? Suci?." rentetan pertanyaan di ucapkan Wirga "Sadar Mar, aku percaya kau bisa menuntunnya ke jalan Allah, tetapi kau akan mendapatkan segala ujian di balik itu yang belum tentu baik untukmu pula." lanjutnya.
"Ku serahkan kepada Allah, lalu selanjutnya aku akan teruskan alur-Nya, apapun itu aku akan menerima apa yang sudah Allah kehendaki untukku pada suatu hari nanti." ucap Umar dan pergi meninggalkan Wirga seketika, tanpa memikirkan ucapan Wirga yang sempat membuat dirinya terlampaui emosi karena berusaha menjatuhkan tekadnya.
"Bersiaplah merasakan hati yang pedih, Umar" lirih Wirga menoleh ke Umar, namun tak di dengar oleh Umar yang sudah pergi meninggalkannya.
Namun Umar kembali lagi seraya dengan tatapan yang dingin, yang mungkin ia sempat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Wirga "Urusanku adalah urusanku dan urusanmu adalah urusanmu!" tegas Umar menunjuk jari telunjuknya tepat didada kanan Wirga.
Wirga salah satu kawan Umar yang paling misterius, seolah-olah seperti kawan imanjinasinya, layaknya seperti merasakan angin yang berlalu. Maka Umar tidak ingin lebih lanjut menanggapi kawan seperti itu. Bukan berarti tidak memperdulikan kawan, hanya saja bagi Umar tidak ingin seseorang mencampuri urusannya. Setelah percakapannya dengan Wirga yang ringkas dan pada saat itulah menjadi percakapan awal dan terakhirnya Umar dan Wirga.
Angin berhembus ke arah berlawanan mengiringi dedaunan yang hendak jatuh ke tanah. Di saat Allah senantiasa menaburkan benih-benih nikmat-Nya yang terkadang sungkan dari hamba-Nya mendustakan, padahal ketika kesehatan menyusut dan yang pertama kali dicari saat itu adalah nikmat Allah yang pernah di dustakannya manakala kesakitan masih membelenggu diri. Maka jadikanlah iman sebagai penampung nikmat-Nya.
YOU ARE READING
Benih Diam
Non-FictionHentakan kaki menuju jalan yang berseri-seri, di penuhi hikmah yang selalu menelusuri. Melewati setiap jalan-Nya, di kerumuni ujian-ujian yang berupa baik dan buruk, apakah seperti itu skenario yang Allah timpakan padaku?. Mengapa Allah mempertemuka...
