END

32 11 0
                                        

Saat aku melihatnya di lobi sekolah, tak sadar aku mulai mengaguminya diam-diam.  Dia selalu saja lewat di depan ku, entah itu senganja atau tidak yang jelas aku mulai menyukainya..

*
*
*

Hari ini aku mendapat tugas untuk mengambil buku di perpustakaan sekolah, walaupun aku sebenarnya malas untuk keperpustakaan, karena selalu ramai dan selalu mengantre untuk mengmbil buku, tapi itu sudah menjadi tugas ku sebagai ketua kelas. Seperti dugaan ku, perpustakaan sangat ramai di penuhi anak-anak yang sama seperti ku, mengambil buku dan bahkan hanya menumpang wifi. Karena malas mengantre terlalu lama, ku putuskan untuk menunggu sambil membaca komik berjudul “Auntum Love” yang aku ambil di rak paling depan, kumpulan komik perpustakaan.

Sudah beberapa lembar yang aku baca, dan antrean masih panjang. Ku teruskan membaca walau hanya ku bolak-balik halamanya karena bosan menunggu. Saat aku sudah mulai bosan dan suntuk karena antrean yang belum juga selesai, tiba-tiba seseorang duduk disebelah ku dan menyapa ku. Perasaan ku langsung tak karuan, aku salah tingkah dan aku menjawab sapaanya dengan sangat gugup. "Park Jimin, orang yang dari lama aku kagumi dan bahkan aku menyukainya menyapa ku." gumam ku dalam hati. Aku sedikit menundukan wajah ku karena  gugup, dia mulai membuka pembicaraan dengan menanyai ku, hati ku dag-dig-dug tak karuan ketika dia mengulurkan tangannya untuk memeperkenalkan dirinya dan bertanya nama ku.

"Oh tuhan bagaimana ini." Aku mengulurkan tangan ku dengan sedikit gemetar dan menjawabnya dengan gugup, aku tak tahu rasanya saat itu ada sesuatu yang membludak di hati ku, tak bisa ku ucapkan dengan kata-kata, aku sangat bahagia. Muka ku mulai memerah dan kami mulai sedikit berbincang walau aku gugup. Wajahnya sedikit ku lirik, senyumnya begitu manis, badan yang tidak terlalu tinggi, kulit putih dan semua yang ada pada dirinya membuat aku semakin jatuh cinta.



Waktu pulang sekolah tiba, hari ini tak seperti biasanya aku begitu bersemangat, karena ya, kejadian tadi di perpustakaan masih terngiang di pikiran ku. Saat aku menunggu angkutan umum bersama beberapa sahabat ku, kulihat dia yang akan meninggalkan sekolah dengan motornya, entah aku yang terlalu percaya diri atau bukan, tapi ku lihat dia melihat ku dan tersenyum pada ku. Aku makin salah tingkah, dan aku senyum-senyum sendiri tak jelas.

Saat aku sampai di rumah langsung menuju kekamar,karena memang tak ada orang di rumah kecuali bibi ku, ayah dan ibu selalu sibuk bekerja selalu pulang malam dan ya, mereka selalu sibuk dengan urusan mereka, walau begitu aku sangat menyayangi mereka, karena mereka sudah mengurus ku dari kecil hingga sekarang. Ku tulis semua kejadian hari ini di sekolah di buku harian ku, aku memang selalu menulis semua kejadian yang menurut ku penting, atau hanya isi curahan hati di buku harian pemberian dari ibu saat ulang tahun ku 2 tahun lalu.

Ponsel berdering dengan suara latar lagu kesukaan ku Promise yang ku jadikan sebagai nada dering. Ku lirik ponsel tertulis Veina di layar ponsel ku, Veina adalah teman sebangku ku dan selaligus  sahabat ku dari kecil, dia selalu ada di saat aku sedang sedih, dia sangat baik pada ku.

Ku angakat telfonnya, dia mengajak ku untuk menemaninya ke toko buku, aku segera bersiap berganti baju dan memebawa tas. Ku dengar bunyi bel di depan. Veina, ternyata dia sudah datang, kami langsung menuju toko buku di pertigaan jalan. Veina yang sedang memilih buku di bagian fiksi, sedangkan aku melihat-lihat pada rak komik. 'Thanks for your love' sebuah komik karya Andini Farda aku membaca bagian sinonpis belakang buku, dan menurut ku sangat menarik untuk di baca.

Aku membayar komik itu dengan harga yang cukup murah yaitu Rp.32.000,00. Viena sudah selesai memilih buku, kami menuju sebuah kedai kopi di pusat kota, pelayan kedai itu sudah sangat mengenal kami, karna memang kami sering mampir ke kedai itu setiap pulang sekolah dan bahkan kami sudah menjadi langganan kedai itu. Aku selalu memesan coffee latte dengan sedikit gula, karena aku tidak suka kopi terlalu pahit, dan Viena selalu memesan coffee fresto tanpa gula yang menurutnya sangat enak.

SERENDIPITYWhere stories live. Discover now