Catatan Luka | Prologue |

7 2 0
                                        

Hidup di tengah-tengah keluarga penuh masalah membuat hidup Greyasa Ariananda hancur, setiap hari ia selalu mendengar cacian dari kedua orang tuanya. Sang Ayah selalu memukul Ibunya kala sang Ibu ingin menghampirinya, Kakak satu-satunya selalu pergi dari rumah.

Tidak ada yang menyayanginya, tujuh belas tahun ia hidup tapi tidak pernah sama sekali mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, saat Ibu dan Ayah serta Kakaknya pergi, ia pasti selalu di titipkan di panti asuhan. Mereka tidak mau mengajaknya ikut berlibur bersama.

Hari demi hari Ana lewati dengan air mata. Ana ingin suatu hari ia dapat merasakan apa yang namanya kebahagiaan, hidup bersama keluarga yang penuh dengan canda tawa setiap harinya.

Ailfi Arianindya, adalah nama Kakaknya, Kakak yang selalu berada di sampingnya saat kedua orang tua memarahi serta mencaci maki dirinya, walau sang Kakak selalu pergi dan pulang satu minggu sekali, tapi tak urung Ailfi selalu memanjakan Ana saat waktu luang. Setidaknya itu mampu mengobatinya kala hatinya di rundung kesedihan.

Hari ini Ana pulang dengan senyum merekah di kedua bibirnya, tadi di sekolah ia mendapatkan hasil ulangan yang cukup memuaskan, sembilan puluh, nilai yang mendekati sempurna. Tidak sia-sia ia belajar siang malam demi menggapai mimpi yang selalu ia idam-idamkan.

Menjadi seorang dokter adalah mimpi Ana dari kecil, ia ingin menyembuhkan orang yang tidak mampu untuk berobat, mendirikan sebuah klinik di desa terpencil tempat ia tinggal, dan menjadi dokter ahli bedah yang profesional.

Ah, Ana tidak sabar hari itu akan datang. Walaupun ia tergolong dalam keluarga yang cukup mampu jika di bandingkan dengan tetangga-tetangganya yang hidup pas-pasan tidak membuat seorang Ana menjadi orang yang congkak, pelit, dan sombong. Ana sudah di didik oleh Ibu panti untuk menjadi manusia yang suka menolong sesama dan berhati mulia.

Ana menghela napas panjang, kenapa yang selalu mendidik Ana adalah Ibu panti, kenapa tidak Ibunya sendiri saja?

Dengan berat hati Ana mengetuk pintu rumah di depannya, rumah yang menjadi tempat tinggal Ana selama tujuh belas tahun, dan rumah yang menjadi saksi bisu ke-sengsaraannya.

Pintu terlihat terbuka dari dalam dan melihatkan wajah seorang wanita paruh baya berumur lima puluh tahunan, itu adalah Ibu Ana, Ibu yang selalu ia bangga-banggakan di depan teman-temannya.

"Kenapa baru pulang, mau ikutan jadi jalang kayak Kakak kamu. Pergi pagi pulang pagi." sembur Arlina saat membukakan pintu, wajahnya terlihat sangar di tambah kulit yang keriput tapi tidak menutupi kecantikan yang di milikinya.

Ana hanya mampu menghela napas panjang saat sang Ibu lagi-lagi menuduhnya yang enggak-enggak. Yang Ana tahu Kakaknya itu bekerja di sebuah pabrik kosmetik di luar kota, bukan menjadi seorang jalang yang melayani nafsu pria.

"Tadi ada ulangan mendadak, Bu. Jadi Ana pulangnya telat, tapi nilai Ana bagus kok, Bu. Nih." Ana menyodorkan hasil ulangan bernilai sembilan puluh yang tadi di pegangnya, senyum masih menghiasi wajahnya.

Tapi senyuman itu surut seketika saat sang Ibu menarik kertas ulangannya lalu mensobeknya secara paksa. Walau hanya sebatas kertas, tapi jerih payah mendapatkan kertas bernilai itu cukup melelahkan, ia harus menguras otaknya untuk berpikir selama berjam-jam harus kandas karena ulah sang Ibu.

"Ibu nggak butuh ginian, Ibu butuhnya uang. Mendingan kamu cari kerja sampingan, gih. Daripada di rumah nggak ada gunanya." setelah mengucapkan sederet kalimat yang membuat kuping Ana sakit, Arlina melenggang pergi memasuki rumah.

Ana masih tersenyum, mungkin Ibunya lagi banyak pikiran. Berpikir Positif selalu Ana lakukan, ia tidak pernah memasukkan kata-kata Ibunya ke dalam hatinya, kecuali jika yang di katakan Ibunya adalah sebuah motivasi untuk meraih mimpinya.

Ia berjalan memasuki kamar yang berada di lantai dua. Lantai yang di pakai khusus untuk kamar tidur dan ruang kerja sang Ayah.

Menghempaskan tubuhnya ke kasur yang empuk lalu memejamkan matanya menikmati jahatnya dunia yang dia tempati. Ia sebenarnya sudah lelah selalu di salahkan dan di bawa-bawa dalam masalah orang tuanya, tapi ia bisa apa? Hanya bisa tersenyum dan berdo'a pada Tuhan agar semuanya selesai dan mencapai happy ending.

Deringan telepon menyadarkan Ana dari alam bawah sadarnya. Segera ia meraih benda pipih yang tadi sempat ia kantongi.

Hati Ana berbunga-bunga saat melihat nama sang Kakak tertera di layar handphone berlogo apel digit miliknya.

Hai, dek.
Besok Kakak pulang kerumah, bilang sama Ayah dan Ibu kalo Kakak pulang bawa calon mantu..
-Kak Ailfi

Ternyata, senyum Ana luntur saat melihat sang Kakak akan pulang seraya membawa calon suaminya, itu artinya Ailfi tidak bisa memanja-manjakannya lagi. Ailfi harus bisa menjadi istri yang baik, merawat suaminya, di tambah saat ia punya anak nanti. Pasti Kakaknya akan sangat sibuk atau malah Ana bakal di lupakan.

Ana tidak suka itu, satu orang yang di sayanginya akan pergi meninggalkannya. Dan hidup Ana akan semakin bermasalah jika sang Kakak akan meninggalkanngnya di dalam keluarga bermasalah ini.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 20, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Catatan LukaWhere stories live. Discover now