1

233 30 3
                                        


Hujan bulan Juni adalah sesuatu yang jarang terjadi karena saat itu sudah memasuki musim kemarau.

Namun bukan berarti mereka tidak pernah datang, bahkan untuk tahun ini curah hujan terlalu sering singgah di daerah ini daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sama seperti sekarang, mereka kembali lagi menjatuhkan tirainya. Beradu bersama beragam elemen yang berhasil diterpanya, terpias meninggalkan jejak pada kaca jendela. Dingin menyapa namun tidak menghentikan kegiatan seorang pemuda berambut pirang yang sibuk berkutat di depan cermin.

Kise menatap kagum dirinya sendiri, berkali-kali mengusap tatanan rambut yang dianggap sangat keren. Tidak bisa di sangkal bahwa Kise memang tampak sempurna hari ini.

Dering telpon bersanding bersama alunan lagu yang sengaja di putar kencang melalui pemutar musik di televisi.


Knock Knock


Kise menghentikan aktifitas narsisnya dan berbalik untuk sekadar menggeser tombol hijau pada layar ponsel yang masih tergeletak di atas meja.

Sambungan telpon sengaja di loudspeak sementara Kise menyiapkan beberapa lembar roti untuk dipanggang.


"Kau dimana?" suara berat seorang pria menyapa dari seberang telpon.


"Aku masih dirumah, 10 menit lagi berangkat, tolong jemput yah Senpai!"


"Ah, tidak perlu buru-buru. Syuting dramanya akan ditunda sampai hujan reda. Kau bisa bersantai dulu sebentar. Aku kesana 30 menit lagi."


Kise berhenti meminum jusnya. Kali ini Sang Pemuda fokus pada penjelasan Sang Manajer mengenai perubahan jadwalnya hari ini.


"Pokoknya nanti akan aku jelaskan lebih detail. Dah."


Sang Manajer langsung menutup telpon secara sepihak, tanpa memberikan Kise kesempatan untuk berkomentar.


Kise hanya bisa menggerutu sebal, manik menatap kearah jendela kaca. Memang benar hujan masih saja betah berlama-lama membasuh kota ini. Padahal Sang Pemuda sudah mempersiapkan diri dan tidak sabar menantikan syuting untuk drama pertamanya bersama artis cantik idola.


Knock Knock


Hujan pagi ini ternyata cukup deras, Kise bahkan sempat terkejut kala mendengar suara petir menyambar. Cukup berbahaya rasanya untuk menyalakan perangkat elektronik saat ini.

Kise menggeliat diatas sofa menghadap layar televisi yang kini sudah mati. Padahal ini sudah jam 9 pagi, tetapi suasananya seperti sudah mau malam saja. Langit gelap ditambah hujan dan petir.


Knock Knock Knock


Tubuh Kise menegak. Sebenarnya dia sudah merasa janggal sejak tadi, gemuruh hujan membuatnya tidak yakin akan suara pintu yang diketuk. Siapa yang bertamu di tengah cuaca buruk ini? Apa Kasamatsu sudah sampai lebih awal?


Knock Knock Knock


Suara ketukan pintu kembali terdengar, kali ini cukup jelas.

After Rain | Kise RyoutaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora