Lagi-lagi perasaan itu..
Perasaan gugup dan berdebar setiap bertemu dengan orang-orang baru.
Meski ini sudah yang ketiga kalinya aku pindah sekolah, tapi tetap saja perasaan gugup dan takut ini selalu menghantui diriku.
Di lorong yang sepi ini, aku dapat mendengar degup jantungku sendiri. Bahkan suara tawa para murid di kelas yang letaknya berada di gedung depan yang cukup jauh dari koridor ini dapat terdengar olehku meski samar-samar tentunya.
"Tenang saja, Beomgyu. Kau pasti bisa berteman dengan mudah, anak-anak di kelas yang akan kau masuki nanti muridnya baik-baik semua." Ujar Guru wanita di hadapanku ini, aku tidak ingat siapa namanya.
"Ah, ya.. saya harap juga seperti itu," jawabku seadanya.
"Nah, memang gedung sekolah ini terlihat tua dan seperti bangunan era Victoria, tapi tenang saja, kau masih berada di benua Asia." Guru wanita itu tertawa dengan lelucon yang di ucapkannya sendiri. Aku hanya tertawa pelan agar menghargai leluconnya.
Setelahnya ia hanya bicara hal-hal tidak menarik yang ku yakini kalian pasti tidak ingin mendengarnya. Sejarah sekolah, prestasi sekolah, dan hal-hal membosankan lainnya sehingga aku berharap kita cepat sampai ke kelas baruku.
Akhirnya, setelah perjalanan yang menurutku panjang itu, kami pun tiba di sebuah kelas dengan papan bertuliskan 11-3. Terletak di deretan ketiga dari empat kelas yang ada dan urutan ketiga dari tangga utama, di belakang tempatku berdiri.
"Omong-omong, aku adalah wali kelas mereka dan akan menjadi wali kelasmu juga. Ini masih beberapa hari kembalinya murid-murid dari libur panjang mereka, jadi kemungkinan kau tidak akan sendirian di kelas ini. Tunggu sebentar disini dan masuklah ketika aku memanggil namamu." Ujarnya, aku hanya mengangguk, lalu ia masuk ke dalam ruangan kelas 11-3 itu.
Aku dapat mendengar suara wanita itu itu berbicara, bisikan murid-murid di kelas, dan suara-suara lainnya yang teredam oleh bisingnya suara di sekitarku.
"Baiklah, silahkan masuk, Beomgyu!" Panggil Guru wanita itu, aku yang sebelumnya larut dalam pendengaran ku tersadar dan buru-buru merapikan penampilan ku.
Begitu aku melangkah masuk, aku dapat melihat dan mendengar persis bisikan dari para murid perempuan dan beberapa murid laki-laki. Setidaknya itu yang selalu ku dapatkan setiap kali melangkah masuk ke dalam kelas baru ku.
"Perkenalkan dirimu," ujar guru wanita itu.
"Namaku Choi Beomgyu. Aku pindah ke sekolah ini karena alasan tertentu, aku tinggal sendirian. Ku harap kita semua bisa akrab." Aku membungkukkan tubuhku, lalu mengangkatnya kembali begitu terdengar suara tepukan tangan dari seisi kelas, hanya bunyi tepuk tangan seadanya saja.
"Baiklah, Beomgyu.. kau bisa duduk di kursi paling belakang di dekat dengan jendela di sebelah kananmu." Tunjuk guru wanita itu pada bangku kosong di pojok ruangan. Aku mengangguk dan melangkahkan kakiku menuju tempat duduk baruku.
Aku menatap lurus ke depan tanpa menoleh karena jujur saja aku sedikit gugup jika harus bertatapan dengan orang asing. Aku dapat merasakan dari balik punggungku tatapan-tatapan para murid-murid yang lain tertuju padaku. Ketika aku duduk di bangku ku, akhirnya perasaan ditatap itu berhenti dan kelas kembali fokus seperti sewajarnya.
***
"Yo! Beomgyu!" Sapa murid laki-laki yang duduk di hadapanku. Ia bahkan sampai repot-repot memutar kursinya untuk menatapku.
"Halo.." sapaku seramah mungkin.
"Oh! Maafkan aku, perkenalkan, namaku Yang Jeongin! Salam kenal!" Yang Jeongin mengulurkan tangannya padaku.
YOU ARE READING
Eventide | TXT
HorrorBeomgyu harus pindah sekolah saat tahun ajaran baru dan menjadikannya murid kelas 11 di sekolah barunya. Tanpa keluarga, tanpa teman, dan tanpa kenalan. Di hari pertamanya sekolah, ia tanpa sengaja melihat kumpulan "sosok mencurigakan," yang tengah...
