"Hai!" Senggolnya yg tiba tiba mengaburkan lamunanku. "Eh, buat kaget saja kau ini"
"Kau masih saja seperti ini, Embun. Tidakkah kau kedinginan dengan hujan yg lebat ini?" Tanyanya seperti biasa keheranan
Aku menggeleng. Sejak hari itu, aku memang tak pernah lagi melewatkan hujan. Ketika awan awan mulai berkumpul, bersatu menutupi mentari, aku sudah sigap berjalan ke tempat ini. Berjalan gontai sembari menatap orang orang berlarian, buru buru menyingkirkan jemurannya. Sampai akhirnya aku tiba di tempat ini.
Zafraan, temanku. Tidak, sahabatku, selalu saja menyusulku kesini. Tak peduli dengan dinginnya air hujan, dia tetap menyusulku. Dia tak mau melihatku melakukan hal yg aneh aneh lagi, jawabnya setiap kali ku menyuruhnya pulang.
"Hei, Embun. Mungkin bagimu, kata kata ku ini hanyalah omong kosong, tapi percayalah, di masa depan kau takkan lupa hal ini" Zaf menghela napas. "Apapun yang kau alami, hari kemarin, bukan berarti kau tak punya harapan untuk esok hari. Kau lihat hujan ini, jika besok kemarau, kau tetap akan menunggunya bukan hingga ia datang lagi bukan?
"Semua tercipta karena memiliki harapan, memiliki tujuan, Embun. Jika kau berhenti disini, kau takkan pernah tau apa yg terjadi esok hari. Namun jika kau memutuskan untuk bangun dan berjalan, walau terseok seok awalnya, kau akan sampai" Ucap Zaf bercampur dengan lebatnya air hujan, aku tertampar
"Bangun, Embun. Jadilah kembali Embun sahabatku yang kukenal!" Ucap Zaf sambil menepuk bahuku, tamparan kedua.
Aku terdiam, bergumam dalam hati sembari masih menunduk, hai zaf, aku ribuan kali mengulang kalimat itu untukku sendiri, namun tak satupun berhasil. "Aku lelah, Zaf, Tak adakah satu keinginanku terkabul?"
Hujan semakin lebat, namun aku tak juga beranjak. Hujan bagiku sangat menyakitkan, tapi setidaknya, ia jadi obat untuk diriku. Obati sesak didada, obati segala sakit, obati segala tangis. Atau setidaknya, tangisku takkan terlihat bukan?
YOU ARE READING
Hujan yang Tak Diundang
Teen FictionTeruntuk hujan, yg datang tak jarang berikan lara Teruntuk cinta, yg tak sanggup hapuskan luka Teruntuk rasa, yg tak pernah dihargai Teruntuk kenangan, yg tak kunjung pergi Saat hujan, burung - burung indah beterbangan Saat hujan, mentari tak sanggu...
