1. BERTEMU

38 5 7
                                        

“Pertemuan bukan hanya akhir dari sebuah cerita, tapi juga awal dari sebuah cerita”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Pertemuan bukan hanya akhir dari sebuah cerita, tapi juga awal dari sebuah cerita”

Lelaki itu sedang mengamati buku-buku yang tertata rapi diatas rak  yang menjulang tinggi. Buku yang tersusun dengan rapi menurut jenis dan ukuran.

Lelaki itu mencari-cari buku yang sendari tadi ia inginkan. Setelah beberapa rak buku ia lewati, akhirnya lelaki itu menemukan buku yang ia inginkan.

Terukir senyum dibibirnya saat melihat buku yang ada didalam genggamannya.

“Heh, gimana sih kamu? Cuma disuruh nyari buku satu aja lama! Dasar pelayan nggak becus” teriak seorang gadis dari meja resepsionis.

Lelaki itu menoleh melihat sang gadis yang sedang marah-marah kepada seorang petugas perpustakaan dihadapannya. Gadis yang tengah ia lihat mulai memukul meja resepsionis karena ucapannya yang tidak dibalas.

Karena sikap gadis itu yang mulai urakan, dan menjadikan dirinya menjadi pusat perhatian para pengunjung perpustakaan.

Beberapa menit kemudian muncul seorang lelaki paruh baya membawakan buku yang gadis itu inginkan, kalau tidak salah ia adalah ketua pengurus perpustakaan itu.

Lelaki paruh baya tadi meminta maaf atas ketidak becusan anggotanya. Gadis tadi segera keluar perpustakaan tanpa malu sedikitpun.

Lelaki tadi tidak henti-hentinya menatap sang gadis hingga gadis itu keluar melewati pintu dan hilang dari pandangannya.


***

“Delvin!” teriak salah seorang laki-laki dari belakang.

Sang pemilik nama akhirnya menoleh setelah mendengar namanya dipanggil. Delvin menatap dua orang lelaki yang sedang berlari menghampirinya.

“Kantin kuy” ajak salah seorang lelaki itu.

Delvin hanya mengangguk, menanggapi ajakan temannya. Mereka bertiga berjalan menuju kantin sekolah yang sedang penuh dengan makhluk-makhluk yang sedang kelaparan.

Beruntungnya mereka saat melihat bangku kosong di deretan paling depan. Delvin segera menarik tangan teman-temannya menuju bangku itu. Tetapi kedua temannya berhenti untuk melangkah ke bangku yang dituju oleh Delvin.

“Kenapa?” tanya Delvin.

“Vin mending cari tempat yang lain deh, itu tempat untuk gengnya Ella” jawab Alvaro.

“Siapa?” tanya Delvin memastikan.

Alvaro dan Leo hanya bisa mengusap wajah mereka karena frustasi dengan temannya yang satu ini. Wajahnya memang lebih diatas rata-rata, namun dirinya yang lebih suka menyendiri dan tertutup, membuatnya tidak mengenal para penghuni sekolahan.

Delvin yang masih kebingugan hanya diam, tiba-tiba tubuh Delvin terdorong maju. Untunglah Delvin bisa mengatur keseimbangannya, sehingga ia tidak jatuh.

Delvin pun menoleh untuk melihat siapa yang berani mendorongnya, ia hanya memasang wajah datar saat meihat gadis yang menabraknya itu.

Cewek kemarin batin Delvin

“Ops! Sorry, salah sendiri lo halangin jalan gue” ucap gadis yang menabrak Delvin.

Delvin tidak menjawab dan hanya diam saja. Gadis didepannya geram dengan sikap Delvin yang hanya diam saja dan malah memasang wajah datar.

“Bisa minggir nggak, gue mau lewat” ucap Gadis tadi lebih keras sambil mendorong Delvin. “Dasar orang cupu” sambung Ella. sambil berjalan melewati Delvin.

Semua orang hanya terdiam melihat apa yang terjadi, mereka tidak berani melawan Ella. Karena jika ada orang yang berani melawan Ella, maka habis sudah harapannya untuk sekolah di SMA Cakrawala.

Alvaro dan Leo yang sejak tadi berdiri dibelakang Delvin hanya bisa tercengang melihat sikap gadis tadi kepada Delvin. Bagaimana bisa Ella yang sombong itu menghina temannya itu.

Alvaro dan Leo segera menatap Delvin yang sejak tadi hanya diam. Alvaro dan Leo kembali tercengang melihat penampilan Delvin.

“Sejak kapan dia pakai kacamata kek gini?” tanya Alvaro yang terkejut.

“Perasaan tadi nggak pakai kacamata deh!” jawab Leo yang juga terkejut dengan penampilan temannya yang satu ini.

“Pantesan dibilang cupu! Gara-gara kacamata ini toh” tera Alvaro sambil menunjuk kacamata yang dikenakan Delvin.

Delvin yang sendari tadi dibicarakan hanya terdiam melihat apa yang dilakukan oleh teman-temannya itu.

Delvin segera melangkah meninggalkan teman-temannya, mencari bangku yang kosong.
Mereka bertiga segera memesan makanan yang mereka inginkan. Tanpa menggubris ucapan orang-orang disekitar mereka.

Dasar cewek songong, lihat saja nanti batin Delvin

***

Maaf ya kalau ceritanya masih acak-acakan dan gak jelas. Soalnya author juga lagi belajar.

Jangan lupa ya!! Follow + Vote +
komen ya!! :)

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 19, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DelvinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang