Perjalanan yang cukup memakan waktu telah di tempuh dengan selamat sosok seorang gadis berjubah hitam dengan niqob yang ia gunakan. Gadis itu termenung di sebuah lobi airport bersama kedua orang tuanya lebih tepatnya orang tua angkat.
Ia belum sadar telah sampai di tanah kelahirannya tempat dimana semua kenangan itu tertoreh. Sungguh ia tak menyangka akan kembali lagi kesini di negeri ini.
3 bulan yang lalu ia menolak untuk kembali kesini karena belum siap untuk mengenang masa lalunya, tapi uminya selalu bilang sepahit apapun kenangan itu harus dilawan jangan menghindar. kuatkanlah Allah selalu ada bersama kita dan di hari ini ia kembali bersama umi dan abinya.
"Nak hayu jangan bengong kuatkan kamu pasti bisa ada kami yang selalu membantumu"umi menguatkan ku
Ku teguhkan hati ku langkahkan kaki di gandeng umi yang paling ku sayang. Abi mendahului kami berjalan memimpin jalan keluarnya kami.
Ku lihat disana ada mobil beserta supir yang menunggunya. ternyata mobil itu jemputan kami.
lalu kami di persilahkan masuk ke dalam mobil. suoir utu menyalakan mesinnya dan kami pergi meninggalkan airport. entah kemana aku di bawa oleh orang tua angkatku aku selalu percaya padanya.
###
Keheningan menyelimuti suasana dalam mobil aldiera masih gugup untuk memulai percakapan.
Ia masih terbayang naik pesawat tadi.
selama di penerbanganpun, ia tak pernah tidur dan selalu beristigfar. sesekali ia bersholawat untuk menghilangkan rasa takutnya. kejadian 4 tahun yang lalu yang membuat ia trauma.
dimana pada saat itu ia harus menglami kecelakaan dan kehilangan orang tuanya.
Dulu pesawat yang di naiki aldiera dan orang tuanya mengalami kecelakaan pada saat perjalanan menuju Australia. Padahal tinggal beberapa langkah lagi namun ada kesalahan pada bagian mesinnya hingga mengalami gagal pendaratan.
Aldiera langsung dibawa kerumah sakit dan mengalami koma kurang lebih 7 bulan sedangkan orang tuanya tak terselamatkan.
Selang beberapa hari aldiera masuk rumah sakit. Ada pasangan suami istri yang kebetulan habis jengukin temannya yang di rawat di rumah sakit yang sama dengan Aldiera.
Ketara sekali terdengar penjelasan kedua dokter, sebenarnya mereka tak bermaksud menguping cuman keberadaan dokter yang cukup dekat dengan keberadaannya saat ini,
dokter itu berkata " keadaan pasien yang bernama Aldiera yunahsoejatri mengalami koma dan kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat saudaranyapun susah untuk di hubungi" kurang lebih seperti itu.
Sungguh Pasangan suami istri itu tertegun mendengarkan penjelasan kedua dokter itu.
Gadis yang malang, hidup sendirian siapa yang akan merawatnya siapa yang akan menjaganya siapa yang mendidiknya setelah ia sadar nanti. Pikir kedua pasangan itu
berhari-hari sang istri memikirkan gadis malang itu yang terbaring lemah di rumah sakit sendiri tanpa keluarga yang menjenguknya.
malam harinya sang istri pun memberanikan diri berbicara tentang gadis malang kepada suaminya itu bahwa ia ingin menjenguk, menjaga, dan merwatnya hingga sembuh. Sang suami pun menyetujui permintaan sang istri
####
"Nak bangun sayang sudah sampai" terdengar suara umi.
Perlahan kubuka mata dan menggeliat sedikit mencoba membetulkan cadarku yang sedikit berantakan. Umi dan Abi mendahuluiku turun dari mobil.
ku pijakkan dan ku langkahkan kakiku menemui umi dan abi yang sedang menungguku di sana. Ada rasa cemas yang menyelubungiku. karena ini kali pertama aku datang ke tempat ini.
"Pesantren ?? " tanyaku pada umi dan abi
" ya nak, ini pesantren yang sering kami ceritakan padamu" balas umi
" hayu kita masuk" ajak abi
Aku di gandeng umi mengekori abi masuk ke dalam gedung pesantren ini. mereka bener-bener antusias menyambut kedatangan kami. banyak santri laki laki dan santri perempuan berjejer terpisah. Dan di ujung sana aku yakin itu guru gurunya karena lebih tua dari mereka. Dan yang sedang menuju kami merentangkan tangannya untuk siap memeluk abi aku yakin itu kakeh orang tuanya umi.
Kini kakek menghampiri aku dan umi. Umi langsung memberikan salam dan pelukan rindu untuk bapaknya. Aku tersenyum meskipun tak terlihat karena terhalang cadarku tapi aku yakin kakek pasti tau lewat mataku.
"Assalamualaikum warahmatullah, kek" salamku pada kakek
"Waalaikumussalam warahmatullah cucuku" balas kakek
Sungguh aku ingin memeluknya seperti umi dan abi tadi tapi aku tau aku bukan cucu kandungnya. jadi otomatis aku bukan muhrimnya abi yang selalu bilang kaya gitu.
Yah meskipun aku selalu cerita apapun kepada abi tapi aku tak pernah memeluknya apalagi meminjam bahunya untuk aku bersender. hanya umi saja yang selalu aku peluk hanya pundak umi tempat aku bersender.
"Cucu nenek, Assalamualaikum warahmatullah" sambut nenek ibunya umi istrinya kakek
"Waalaikumussalam warahmatullah nek" ku sambut pelukan hangat nenek. aku merasakan kasih sayang dan rindu yang begitu kuat dari nenek aku merasa, aku begitu di tunggu disini.
Setelah itu kakek memperkenalkan guru guru pesantren dan santri santri disini padaku mereka begitu ramah. banyak santri perempuan yang mengenakan pakaian seperti berjubah dan bercadar.
Ketika kakek memperkenalkan santri laki laki aku hanya menunduk mengiyakan dan aku hanya menjaga pandangan saja.
Perkenalan pun selesai aku masih di gandeng nenek memasuki rumahnya sampai aku di persilahkan duduk.
"Gimana nak senang lihat pesantren ini, selama ini kami selalu menunggumu kami ingin melihatmu secara langsung"ucap nenek sambil mengelus punggung tanganku
"Senang banget nek, maaf ya nek sudah membuat nenek menunggu" aku merasa bersalah -batinku
"Ibu udah dong hayo antarkan nak aldiera ini istirahat di kamarnya" ujar kakek
Umi dan abi tersenyum melihat kedekatanku dengan nenek. Nenek yang menghantarkanku ke kamar. selama di pesantren aku bakalan tinggal di rumahnya kakek dan nenek bersama umi dan abi.
"Kamu yang betah betah ya tinggal disini, kalau ada apa apa bilang ke nenek. Nenek akan selalu ada buat kamu" ujarnya
" iya nek" balasku. Aku masuk ke kamar di temani nenek aku peluk nenek dengan erat
"Makasih ya nek maaf udah ngrepotin" sebenarnya setiap meluk nenek aku jadi ingat oma
"Iya sayang ya udah kamu istirahat dulu. eh jangan deh sholat ashar dulu tuh udah adzan" ujar nenek sambil menunjukan jari telunjuknya
" iya nek siap" balasku dengan mengangkat tanganku tanda siap
"Makasih nek" lanjutku. Nenek begitu kaget tiba tiba aku mencium pipinya.
" ya udah nenek keluar dulu ya, Assalamualaikum" pamit nenek sambil senyum
"Waalaikumussalam"
Ku duduk di tepi kasur mensyukuri apa yang telah terjadi hari ini, umi yang selalu ngajarin aku untuk tetep bersyukur apapun keadaannya
" mah, pah aku kembali ke negara kita tapi aku gak tau apa aku siap kembali ke rumah kita atau tidak"
Aku bangun untuk mengambil air wudhu dan sholat ashar aku akan bercerita pada-Nya
cerita baru kisah baru ahh gak tau bakal gimana jadinya sabar sabar aja kalau ada yang baca bersyukur kalau nggak ada ya sudahlah mau di gimana kan lagi.. Sukses selalu sobat
YOU ARE READING
Sujud Harapanku
Teen FictionIndahnya memujimu dalam bait yang ku toreh dalam setiap sujudku saya Aldiera yunahsoejahtri merindukan menjadi sosok bidadari syurgaNya taat pada suami itulah tujuannya untuk mendapat syurgNya.
