PROLOG

87 11 4

Aku tak benar-benar ingat kapan dan bagaimana ini bermula

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aku tak benar-benar ingat kapan dan bagaimana ini bermula.

Namun, akan kuceritakan juga sebuah kisah. Ini bukan tentangku. Juga bukan tentangmu. Ini hanyalah catatan-catatan kecil yang terserak dalam ruang-ruang ingatan.

Tentang sejumlah percakapan panjang. Tentang dirinya. Tentang setia. Tentang kebingungan yang mungkin dialami banyak orang. Dan aku hanyalah seseorang yang setia untuk berada di sisinya. Menemani setiap cerita yang disampaikannya.

Aku tak paham bagaimana cara ia jatuh cinta. Aku juga tak mengerti perasaan seperti apa ketika ia mencintai sosok itu. Namun jika aku boleh menggambarkan bagaimana perasaanku ketika jatuh hati. Maka akan kukatakan, sepertinya aku tahu kenapa ia menceritakan kisah itu kepadaku.

Lalu jika ia patah hati kemudian, namun tetap bertahan untuk berada di sisi orang tersebut. Aku hanya bisa membandingkan dengan apa yang kulakukan saat ini.

Menunggu ia, di satu sudut kedai yang kutemukan tanpa sengaja.

* * *

Ini adalah kali pertama aku datang ke tempat ini.

Aku memilihnya secara acak. Aku tak mau memilih tempat yang sudah kukenal, karena aku tahu, kenangan seperti apa yang akan kuhimpun, dan kegalauan seperti apa yang akan kutemui ketika aku datang ke tempat itu lagi.

Ia bertanya, apakah aku ada waktu untuk menemaninya hari ini. Kujawab segera, "Ya, aku bisa. Aku mau." Waktu, tempat dan janji temupun dibuat.

Aku memilih tempat ini melalui kata kunci kuketik di mesin pencarian. Ke manapun hasil mesin pencarian itu membawaku, ke sanalah aku akan datang.

Sebuah kedai kopi yang sebagian interiornya dibuat dari kayu dan batu alami. Lampu LED berwarna ungu menuliskan identitas kedai ini. Moscato namanya.

Saat aku tiba, seorang lelaki muda langsung menyapaku dengan senyum yang ramah. Ia mempersilakan aku memilih meja-meja yang masih kosong. Dan pilihanku adalah sebuah meja bar di sisi kanan. Letaknya tak di sudut, namun juga tidak di tengah kedai. Sebuah pilihan yang aman jika ia mencari keberadaanku, karena akan mudah baginya untuk mencari.

Jeans dan flat shoes tidak akan menggangguku walaupun meja bar ini cukup tinggi. Aku bersyukur tak memilih mengenakan short dress. Aku tak tahu kenapa memilih berpakaian seperti ini. Mungkin karena cerita-cerita yang pernah ia bagi. Ah, kenapa aku mesti membicarakan itu?

Ia datang dua puluh menit setelah aku duduk sendirian. Menunggu dirinya dengan kudapan biskuit yang diberikan cuma-cuma sebagai teman mengopiku.

Ia mengenakan kemeja denim. Kaca mata hitam menyelubungi matanya ketika ia turun dari mobil. Gayanya kasual, rapi, menarik. Penampilannya bisa mengundang decak. Dengan rambut yang tertata rapi serta rambut tipis yang dipangkas sedemikian rupa hingga membujur dari jambang ke bagian dagu dan atas bibirnya. Langkahnya tenang dan tidak tergesa. Seolah membiarkan orang menikmati kekaguman ketika melihat dirinya.

Setelah meletakkan clutch di meja, ia melepaskan kaca mata hitamnya. Senyumnya menguar dengan ucapan terima kasih atas kesempatan ini.

"Mau aku pesankan?" tanyaku.

"Nggak usah. Aku pesan sendiri." Ia memilih pergi sejenak ke meja barista. Lalu kembali ke meja untuk duduk bersamaku.

"Ada yang mau diceritain?" tanyaku.

"Ya."

"Tentang?"

"Kamu tahu."

Aku mencoba untuk tersenyum. Memberi respons yang nyaman baginya, sebab ia tahu, tak banyak orang yang bisa mendengar kisah ini.

"Memangnya nggak capek?"

"Nggak ada kata capek untuk cinta."

Aku mengangguk, memahaminya. Kuangsurkan piring berisi biskuit milikku. Sebagai budaya sopan santun di negeri ini. Kalau kau punya punya sesuatu, sudah sewajarnya kau tawarkan pada orang lain.

"No, thanks." Ia menolak. Ia tak datang untuk itu. Ia hanya ingin berbagi. Dan budaya sopan santun tadi tak berlaku bagi dirinya.

"Cerita apa tentang dia yang akhirnya membawamu kemari?"

"Ia akan segera punya anak. Minggu-minggu ini."

"Lalu?"

"I'm happy for him."

"Yang kedua?" Sebab aku tahu, akan ada alasan lain setelahnya.

"Aku membayangkan kebahagian dirinya. Aku tahu kualitas hidup yang ia punya."

"Dan kamu berharap kamu ada di dalam lingkaran kebahagiaan itu?

"Kamu tahu persis."

"Aku tahu kamu."

Ia tertawa kecil kemudian. Tawa sedih. Aku ikut tersenyum. Senyum yang tak ia ketahui artinya.

"Kalau sudah seperti itu. Lalu mau bagaimana?" tanyaku kembali, melanjutkan percakapan yang terhenti sejenak.

"Kupikir, cerita denganmu akan membuat perasaanku lebih baik. Kamu tahu semuanya. Kamu mengerti apa yang terjadi. Mengerti aku. Dan yang terpenting, aku bebas menceritakan tentang diriku tanpa judgment darimu."

Karena aku menerimamu, ucapku dalam hati.

"Kamu tahu aku nggak bisa lepas dari dia."

I knew.

"Pertanyaanku masih sama. Sampai kapan?"

Ia mengedikkan bahu. Aku tahu artinya itu.

"He has a happy live. And you deserve the happiness too."

"But how? Kalau kamu tanya apakah aku akan tetap memikirkannya, membicarakannya, mengatakan kepadamu tentang perasaan itu. Aku akan jawab, selalu."

"Untuk sesuatu yang tidak pernah bisa dimiliki?"

Ia tertawa lagi. Tawa sedih yang sama.

"Kenapa kamu masih bertahan di sini?" Ia yang bertanya kali ini. Dan gantian aku yang mengedikkan bahu.

Aku hanya bisa bilang. Aku akan selalu mendengarkannya. Kapanpun ia datang. Kapanpun ia kembali. Kapanpun ia akan bercerita.

Namun sesungguhnya, ini seperti... sebuah kisah yang tak pernah menyentuh titik akhir. Dan kini kau akan tahu bagaimana semuanya bermula.

* * *

Between Always And NeverRead this story for FREE!