Kantin sudah penuh dikerumuni siswa siswi yang lapar dan haus. Jangankan untuk memesan makanan, menembus kerumunan itu saja rasanya harus rela berdesak desakan dan saling dorong. Maklum, hari ini makan sepuasnya di kantin tanpa bayar alias gratis karena salah satu siswa kelas 12, sedang berulang tahun dan mentraktir teman teman satu sekolahan.
Dari belakang, dekat pintu kantin, 4 orang cewek sedang berdiri dan matanya memantau, mencari celah untuk menembus kerumunan itu. Ada satu orang cewek yang menarik perhatian disana. Cewek itu berambut lurus sebahu bewarna coklat. Tingginya–standar. Wajahnya cantik, dihiasi oleh dua bola mata yang sedikit besar. –Alika. Alika Rasyid. Cewek kelas 11 jurusan Bahasa di salah satu sekolah swasta di Yogyakarta, sekolah swasta Vennus.
Alika memilih Bahasa sebagai jurusannya karena dia sangat senang belajar Bahasa. Di jurusan Bahasa, Alika mendapat 5 pelajaran Bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Jepang, dan Jerman. Selain itu, setelah Alika membaca sebuah brosur yang di bagikan di kelasnya sewaktu SMP, dia mendapati bahwa ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh jurusan Bahasa di Vennus adalah Broadcasting.Hal itu semakin memantapkan Alika dengan pilihannya. Cewek itu juga suka dengan dunia public speaking.
"Al, di panggil Bu Rini," kata seorang cewek yang datang dari samping kiri Alika.
Alika menolehkan wajahnya ke samping kiri, "Dimana?"
"Di kantor,"
"Oh, iya. Makasih ya infonya," ucap Alika– cewek itu mengangguk dan meninggalkan mereka berempat lalu tertelan dalam kerumunan di kantin.
"Far, Fit, Li. Gue ke bu rini duluan ya," pamit Alika.
Tanpa menunggu jawaban dari ketiga temannya, Alika segera pergi menuju kantor bu Rini– guru sekaligus salah satu pembina ekstrakurikuler broadcasting. Saat tiba di depan pintu kantor, Alika menarik badannya untuk bergeser ke samping kanan dan menilik posisi bu Rini dari jendela agar saat dia masuk, dia tidak perlu mencari lagi.
"Assalammu'alaikum," Ucap Alika sedikit pelan bahkan rasanya tidak terdengar oleh guru guru lain disana. Saat dia sudah membuka pintu kantor dia segera menemui bu Rini yang sedang berdiskusi dengan Pak Yuda– pembina broadcasting, di meja kerja pak Yuda. "Maaf bu, ibu manggil saya?"
Bu Rini menoleh ke Alika yang berdiri di sampingnya, "Oh, iya. Duduk dulu," jawab bu Rini ramah. Alika duduk di kursi kosong samping bu Rini.
"Kamu besok ini bersedia gak jadi reporter liputan acara sekolah?" tanya guru berlogat medhog khas Jawa itu,
"Oh, yang dalam rangka syukuran kemenangan klub basket sekolah ya, bu?"
"Iya... Nah, kalo bersedia, nanti kamu langsung ke studio ya habis istirahat pertama ini, briefing sama crew yang lain juga. Nanti surat ijin meninggalkan pelajaran di kelas tak gawekke, (aku buatin)" Jelas bu Rini.
Bu Rini langsung ambil kesimpulan bahwa Alika bersedia, padahal Alika belum menjawab bersedia atau tidak. Bu Rini seperti tidak perlu menunggu jawaban dari Alika, karena beliau tahu betul murid kesayangannya itu tidak akan menolak permintaannya selagi dia bisa. Meskipun ini terkesan dadakan. Tapi, bagi Alika, ia sudah sering mengalaminya, seperti jadi MC danhost yang juga serba dadakan. Bahkan ia pernah diminta menjadi MC pada hari H acara.
"Tapi bu, boleh gak saya ajak satu temen? saya kayaknya besok butuh asisten deh bu, hehe"
"Oh, bagus itu. Boleh, boleh banget dong," Jawab bu Rini bersemangat. "Mau ajak siapa?" sambungnya.
"Farrah, bu."
"Oh, Farrah teman semeja mu itu?" ucap pak Yuda spontan.
"Hehe iya pak,"
"ya sudah, gak apa apa ya bu," Pak Yuda melihat bu Rini– bu Rini mengangguk setuju, "Biar makin tambah ilmu broadcasting-nya." Sambung pak Yuda.
"Baik Pak, bu. Kalo gitu saya pamit dan infokan ke Farrah dulu ya pak, bu. Biar bareng ke studio buat briefingnya." Alika berdiri, "Duluan nggih(ya) pak, buk. Assalammu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam," jawab bu Rini dan pak Yuda.
Alika keluar dari ruangan yang ber-ACitu. Di depan pintu kantor, dia mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. Mulai mencari satu nama di whatsapp. Farrah. "Far, dimana?" ucap Alika segera setelah telefonnya di angkat.
"Kelas, Ndes."
"Ikut gue ke studio, ada briefing." Alika berjalan meninggalkan pintu kantor menuju Studio di lantai 3.
"Ha? Ameh ngopo? Kok aku melu studio? (ha? Mau ngapain? Kok aku ikut ke studio?)"
"Udah, ikut aja. Nanti dijelasin di studio,"
"Yowes, aku tak ke sana sekarang. (yaudah, aku ke sana sekarang)"
Telefon terputus. Alika memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku dan sedikit berlari pelan. Dia takut ketinggalan info saat briefing.
"Assalammu'alaikum," ucap Alika saat dia membuka pintu studio.
Wa'alaikumussalam
"Nah, ki reporter e wis teko. Kene Al, lingguh, (nah, nih reporter nya dah dating. Sini, Al. duduk,)" ucap salah satu crew mempersilahkan Alika–Irhas. Cameramen handal kebanggaan Vennus's broadcasting.
Alika masuk dan duduk di lantai yang diselimuti karpet bewarna merah.
Alika melihat crew liputan untuk acara besok–tidak ada wajah asing. Semuanya sudah dikenal oleh Alika. Ada Irhas, anak kelas 12 IPS 3, ada Hadid, teman seangkatannya, IPS 1, ada juga Rudi, teman sekelasnya.
Studio Broadcasting dilengkapi oleh berbagai macam fasilitas seperti; 2 buah komputer, 4 buah kamera besar beserta tripod,ada audio mixer, beberapalighting set,sebuah lemari cukup besar untuk menyimpan kabel kabel dan menggantungkan pakaian, switcher, dan perlengkapan lainnya. Lengkap sekali untuk standar murid yang sedang belajar. Dan juga, ada AC yang bisa buat betah kalo shootingatau briefingdi sana.
"Lho, Mas. Katanya ada adek kelas 10 ya?" tanya Rudi
"Iya, harusnya sih ada. Tapi, mbuh ngopo, jare bu Rini dee ra sido melu,(tapi gak tau kenapa, kata bu Rini dia gak jadi ikut.)" jawab Irhas sambil membagikan sebuah kertas kepada seluruh anggota.
"Katanya sih, dia jagain neneknya di rumah sakit," kata Hadid menambahkan.
"Emang siapa sih?" Tanya Alika
"Assalammu'alaikum" ucap seseorang–Farrah.
Wa'alaikumussalam
"Pintune ncen sengojo ra ditutup po?(pintunya emang sengaja gak tutup ya)" Tanya Farrah.
ESTÁS LEYENDO
ADOLESCENE
Novela JuvenilALIKA RASYID. Cewek cantik yang populer sejak dikenalkan sebagai reporter sekolah tahunan. Aktif di broadcasting dan sangat merasa nyaman didalamnya. Cewek pecicilan yang tidak bisa diam dan banyak bicara. Namun, dibalik sikapnya yang periang, Alik...
