episode 1

14 2 0
                                        

Pagi hari ini cuaca sangat tidak mendukung, bagaimana tidak? Langit sedang bermuram diri dengan gumpalan kapas abu abu yang menutupi sang surya. Seakan ingin menangis tapi masih tertahan.

Dewi, gadis itu mengeratkan pegangan pada tas punggungnya. Hari ini dingin tapi ia lupa membawa jaket.

"Abang, pelan pelan dong. ini dingin banget" Lirihnya dari jok belakang kepada abangnya yang sedang fokus memperhatikan jalanan yang sebenarnya cukup senggang untuk hari senin pagi.

"apa? kamu ngomong apaan?" Tanya Dirga, ia tidak mendengar jelas adiknya menggumam karena helm yang ia pakai dan tentu saja udara dingin yang mendengungkan telinganya

"PELAN PELAN" Teriak Dewi lagi kali ini sedikit memajukan wajahnya agar abang nya mendengar

"oh pelan pelan, ngomong dong kamu" Jawab Dirga, kemudian memelankan laju motornya.

Motor milik Dirga berhenti tepat di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi, di atasnya terdapat plang bertuliskan "SMA GAMA"

"Nanti abang pulang nya langsung aja ya, Dewi mau pergi sama Lita. Mau nemenin dia beli kaset dulu" Kata Dewi menyerahkan helm honda yang dipakai nya kepada Dirga

"Enggak mampir dulu ke angkringan kopi jos kan?" Tanya Dirga dengan nada sedikit menggoda

"Pengennya sih, atau sekalian aja Dewi naik kereta jurusan Prambanan ya" Kata Dewi, menunjukkan raut wajah yang berpikir

"Gundhul mu" Kata Dirga, menjitak kepala adiknya. Tawa keduanya pecah setelah itu, "Yawes, sana kamu masuk. Sudah di plototin sama pak Bam". Motor Dirga kemudian melaju meninggalkan adiknya dengan tatapan sinis pak Bam yang sudah mengikutinya dari sebelum masuk gerbang.

"Pagi pak", sapa Dewi dengan senyuman yang mengembang di bibirnya, sangat ramah.

"Pagi Dewi, hari ini apa yang ketinggalan?"

"Ah enggak ada pak, semuanya lengkap. Atribut saya, hati nurani, dan segenap jiwa raga sudah saya siapkan pagi ini dengan sangat matang hehe", jawab Dewi

"Jangan lupa ya, jam pelajaran saya setelah istirahat. Suruh ketua kelas kamu untuk mengumpulkan buku tugas di meja sebelum saya datang", kata pak Bam

Sebenarnya nama beliau adalah pak Bambang Sutejo, tapi katanya "panggil pak Bam saja biar keren seperti orang orang Jakarta."

"Siap, buku tugas di kum..." kata Dewi terpotong, ia lalu menepuk jidatnya dengan keras

"Masyaallah bapak, saya belum ngerjain tugas nya. Saya duluan ya pak mau cari sedekah jawaban kepada teman teman, selamat jalan pak" kata Dewi lagi

"Heh kebiasaan ya kamu selalu tidak mengerjakan, terus apa apaan itu tadi? Selamat jalan? Memangnya saya mau kemana? Dewi, heiii Cahya Ratih Tadewi" teriak pak Bam keras kepada salah satu siswi nya yang sering membuat kesal itu.

Dewi berlari menuju kelasnya dengan tawa yang terbahak bahak, menjahili pak Bam adalah kebiasaan nya setiap kali beliau bertugas menjadi tim tatib. Tapi alasan Dewi berlari yang sebenarnya adalah tugas matematika nya yang belum di kerjakan sama sekali. 20 soal pilihan ganda yang harus di tulis tangan beserta cara nya bukan hal yang mudah untuk ia lakukan.

Apalagi guru mata pelajaran jam pertama tidak bisa di ganggu gugat pelajaran nya, salah salah bisa di keluarkan tidak boleh mengikuti pelajaran selama satu semester. Bisa mampus Dewi, apalagi fisika bukan hal yang gampang untuk di pecahkan. Repotnya jadi anak IPA.

"Heh yang pinter, bagi contekan matematika dong" kata Dewi di depan pintu kelas bertuliskan '11 A3' dengan nafas yang naik turun tidak karuan.

"Assalamualaikum" jawab semua teman di kelasnya yang mendapatkan hadiah cengiran lebar dari sang pelaku

Du hast das Ende der veröffentlichten Teile erreicht.

⏰ Letzte Aktualisierung: Oct 07, 2022 ⏰

Füge diese Geschichte zu deiner Bibliothek hinzu, um über neue Kapitel informiert zu werden!

Bara TadewiWo Geschichten leben. Entdecke jetzt