DEVAN ELVANO ARDAFA

123 15 3
                                        

"Yakin lo mau lawan dia lagi?" tanya seseorang kepada bosnya sambil memperhatikan gerak gerik lawan yang akan menjadi tandingan bos nya itu malam ini.

Dia Aksa, Aksa Reynand Alvian. Salah satu dari lima berandal yang disegani di sekolahnya. Lelaki yang memiliki paras tubuh tegap dengan rambut berwarna hitam kecoklatan itu nampak mengalihkan pandangannya dan menunggu jawaban dari bos nya itu.

"Gue yakin nih, dia kalah lagi hari ini." Suara tersebut berasal dari Aron Adinata Pratama, salah satu dari lima berandal tampan tadi. Lelaki itu nampak yakin dengan ucapannya barusan.

"Palingan ntar kalo kalah lagi tuh anak kaga terima trus ngajak ribut lagi." Jawab Ezra dengan diikuti tawa geli dari teman temannya. Ezra Dion Pratama juga ikut menanggapi perkataan Aksa.

"Gue mah yakin segitu banyaknya anak buah Egar juga kaga mempan kalo lawan kita berlima." Ucap Jova Arizqi dengan tertawa kecil yang diikuti dengan anggukan dari ke empat temannya.

"Kita lihat aja nanti." Jawaban itu keluar dari bibir Devan. Devan Elvano Ardafa, yang diyakini sebagai bos dari kelimanya.

Siapa yang tidak mengenal Devan? Salah satu anak orang terkaya, terkenal akan ketampanan yang dimiliki dengan sikap dingin dan ketegasan yang dimilikinya membuat siapa saja akan percaya bahwa Devan patut disegani dan wanita mana saja akan rela berlomba lomba untuk mendapatkannya. Namun Devan, tidak peduli dengan semua itu.

Kelimanya kini nampak mengalihkan perhatiannya pada seorang wanita yang tengah berjalan dengan pakaian yang sangat seksi ke tengah-tengah arena menandakan bahwa balapan antara Devan dan Egar yang notabennya adalah musuhnya, akan segera dimulai.

Devan berjalan ke tengah arena dan menaiki motor sportnya dengan teriakan dukungan dari teman-temannya.

Mata elang Devan kini tengah melirik Egar yang juga sudah siap dengan motor sportnya. Lelaki itu kini mengenakan helm dan mulai memfokusan diri pada jalanan yang akan dilewatinya.

Merasa sudah siap wanita tersebut menghitung angka satu sampai tiga dan tepat diangka ke tiga bendera yang dibawa wanita itu diangkat membuat kedua motor sport tadi sudah melaju kencang membelah jalanan malam hari.

Belum lama balapan, Devan sudah berhasil menyalip Egar dan membuat lelaki itu tersenyum miring.

15 menit menunggu suara motor sport pun mulai terdengar. Semuanya nampak menduga duga siapa yang akan memenangkan balapan malam ini.

Tak lama Devan terlihat dengan motor sportnya datang dan berhenti tepat di garis finish. Sorak sorai pendukung Devan pun terdengar.

"Udah gue bilang, Devan menang lagi malam ini." ujar Aron dengan tersenyum penuh kemenangan pada teman teman nya yang kini sedang menghampiri bos nya itu.

Saat suara motor sport yang lain baru saja datang membuat semua pasang mata menatap Egar. Lelaki itu langsung melepas helm dan turun dari motornya lalu terlihat menghampiri Devan.

"Selamat, lo kali ini menang. Tapi di balapan selanjutnya lo gaakan gue biarin menang lagi." ucap Egar pada Devan dengan setengah berbisik. Lelaki itu nampak berlalu dan mengaba aba teman temannya agar segera pergi meninggalkan arena.

#-#-#-#-#

Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Devan memasuki rumahnya sambil mengacak rambutnya frustasi. Baru saja memasuki rumahnya beberapa langkah, suara seseorang dapat menghentikan langkah kaki Devan.

"Devan, kenapa jam segini baru pulang? darimana saja kamu nak?" suara itu berasal dari Dita, mama Devan.

Devan hanya melirik mamanya itu sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya. Tidak memperdulikan ucapan mamanya barusan.

"Kenapa kamu gak jawab pertanyaan mama?" Devan menoleh dengan enggan. Sudah malas berurusan dengan mamanya itu.

"Masih peduli? Urusin aja selingkuhan mama disana, gak usah sok peduli sama Devan sama Papa." Hanya itu kalimat yang terucap dari bibir Devan. Lalu berlalu meninggalkan mamanya sendirian.

Dita, adalah mama kandung Devan. Tapi semenjak papa Devan alias Arya semakin sibuk dengan perusahaannya, membuat lelaki itu hanya pulang kerumah setiap 4 bulan sekali. Dita merasakan kesepian dan memutuskan untuk mencari pasangan dibelakang Arya. Darimana Devan mengetahui itu semua? jangan tanyakan Devan bahwa dia memiliki "tangan kanan" dimana-mana yang siap siaga mengawasi mama dan papanya diluar sana.

Salah satu perlakuan Dita tersebut membuat Devan sangat kecewa dan menjadi orang yang semakin dingin dan semakin tertutup pada lingkungan sekitarnya.

Semenjak kejadian itu, Devan malas berurusan dengan seorang wanita dan tak pernah terpikir untuk mencari seorang pasangan.

Yang Devan pikirkan saat ini adalah hidup tanpa atau dengan seorang wanita akan sama aja bukan?

DEVANWhere stories live. Discover now