bonus rank 1

100K 3.8K 128
                                    

Hari ini masih dini hari, angin malam sepertinya berarak menggerakkan dedaunan yang setia menari di tempatnya. Rembulan nampak malu-malu terlihat di ujung pohon. Sinar temaram rembulan yang teduh, menyempurnakan hari yang indah untuk beribadah di sepertiga malam ini.

Namun, di dalam kamar sepasang suami istri itu, peluh sudah membanjiri tubuh Aisyah, nafasnya mulai ngos-ngosan. Aisyah masih mengelus perut besarnya. Menanti Azka yang tengah sholat tahajud.

"Aduh.... Astaghfirullah," gumam Aisyah sambil terus mengelus perutnya yang terasa sakit.

Rasanya sudah tidak tahan lagi. Aisyah sampai menangis sesegukan menahan sakit.

"Hikkss...hiks..abang..." Kata Aisyah sambil menangis.

Azka yang baru saja selesai sholat terlonjak kaget melihat istrinya sudah basah karena air ketuban.

Azka langsung menghampiri istrinya sambil mengelus pinggang istrinya dan mengecup kening Aisyah yang sudah banjir keringat.

"Astaghfirullah! Sayang kok ngga panggil abang," seru Azka khawatir.

"Abang... Sakit..." Bisik Aisyah menahan tangisnya.

Azka memakaikan gamis, khimar dan cadar Aisyah. Lalu menggendong Aisyah ala bridal style.

"Bi Ulfa, siapkan tas Aisyah. Ini mau melahirkan," teriak Azka.

Wanita setengah baya bertubuh tambun itu berlari mengambil tas yang di maksud tuannya dengan langkah tergopoh.

"Pak Sanusi, siapkan mobil sekarang," kata Azka dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.

Pak Sanusi telah siap dengan mobilnya. Azka meletakkan istrinya di belakang dengan hati-hati.

"Bi, ikut mobil Pak Hasan," titah Azka. Pak Hasan adalah salah satu sopir yang Azka siapkan untuk Aisyah.

Mobil melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Azka masih setia mengelus pinggang Aisyah sambil terus berdzikir. Ini bukan kali pertama Azka melihat wanita akan melahirkan, dia seorang dokter. Tapi sungguh, sekarang istrinya yang tengah berjuang. Azka sampai blank karena sangat khawatir. Semua teori kedokteran yang dipelajarinya seolah berlari begitu saja dari otaknya.

"Istighfar sayang," bisik Azka.

"Sa-kit a-bang," bisik Aisyah terbata.

"Iya, berdzikir sayang," bisik Azka sambil menahan air matanya yang menggenang.

Dengan brankar yang disiapkan beberapa perawat rumah sakit, Aisyah dibawa ke ruang bersalin.

"Dokter Fania! Panggil dokter Fania, " kata Azka tergesa.

Semua yang disitu ikut panik karena Azka yang terkenal tenang terlihat sangat panik.

Dokter Fania berlari menuju ruang bersalin. Azka bersikeras ikut masuk ke dalam.

Dengan berat hati Dokter Fania akhirnya mengijinkan. Siapa yang berani menolak permintaan seorang Azka, lelaki muda yang sangat berpengaruh di negeri ini.

"A-bang.." bisik Aisyah sambil menangis.

"Abang disini, semangat sayang,"bisik Azka.

Azka menggenggam erat tangan Aisyah.mengecupnya berkali-kali memberikan kekuatan. Aisyah telah membuka cadarnya. Sekarang keringat terlihat membanjiri wajah cantiknya yang kini terlihat sedikit pucat.

************

"Oeeek...oeeek...." Suara tangis terdengar menggema hingga ke sudut ruangan.

AISYAH WEDDING (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang