Valentine Berdarah

7 1 0
                                        

"Hingga akhirnya, gua ikhlasin semua itu terjadi."

Dua orang di hadapanku diam. Suasana hening datang entah sejak kapan. Kami sibuk dengan perasaan yang berkecamuk di kepala.

Angin kering semilir bertiup. Melewati sela dua orang di hadapanku. Menembuh celah-celah topeng putih bercorak anonymous dan mendarat di wajahku. Ada luka yang harus aku sembunyikan di balik topeng ini.

Setidaknya bukan untuk dua orang di hadapanku, melainkan untuk viewer mereka.

Sekitar 2 minggu yang lalu mereka datang. Bertiga, satu orang lagi adalah orang yang aku kenal. Mati-matian memohon kepadaku untuk mengisi konten youtubenya. Berkeras hati menganggap aku orang yang mereka maksud. Sedang aku yang mati-matian menolak serta mengatakan bahwa aku bukan orang yang dia maksud.

Hingga akhirnya aku memilih pasrah. Entah bagaimana ceritanya mereka tahu detail nama, tempat tanggal lahir, bahkan sejarah sepak-terjangku. Aku mengiyakan dalam satu anggukan

Mau apalagi, setelah aku pikir lagi kejadian itu sudah terlewat jauh. Jauh sekali puluhan tahun lamanya, hingga hanya menyisakan cerita-cerita orang yang sudah dimodif sana-sini, sampai lama kelamaan kabur pula cerita aslinya.

Aku mengerutakkan jari tangan dengan jari lainnya untuk membuncahkan kekosongan. Ada yang mungkin baru mereka berdua sadari tadi—ada yang ganjil dari suara gemerutak barusan. Hingga akhirnya mereka berdua mengangguk mafhum.

"Gua nggak bisa bayangin sih kalau gua ada di posisi lu!" Ucap satu orang yang duduk tepat di hadapanku. Sedang satu lainnya kembali sibuk dengan kameranya—merekamku.

Kami duduk di atas balkon sebuah cafe kecil tak jauh dari kediamanku saat ini. Balkon ini harusnya berisi 2-3 set meja lengkap dengan kursi untuk pelanggan. Tapi sore ini hanya ada satu meja dengan 3 kursi single sit.

Sore yang cerah, setidaknya tidak semurung ingatanku. Kedai kopi yang masih sepi bukan karena sesaknya ingatanku melainkan karena cafe ini masih 1 jam lagi beroperasi secara utuh. Kami memesan buka 1 jam lebih awal untuk urusan shooting kali ini.

"Jangankan elu, gua aja seketika itu ingin bahwa yang gua lihat saat itu tuh mimpi. Sekarang lu bayangin deh, gimana rasanya jari telunjuk lu ampir putus. Tinggal daging juga kulit dikit, daging ama tulang dibaliknya udah putus kena tebas clurit." Aku menatap laki-laki di hadapanku serius.

Bulu kudukku bangun. Begitu pula adrenalin yang sudah lama mati. Bayangan hari itu melintas ulang dalam sekedip. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sendiri mengusir segala perasaan aneh yang tiba-tiba datang.

Darah, darah, darah, mengucur, mengalir, memerah. Tidak ada namanya minta tolong, tidak ada istilah minta ampun. Rantai dengan ekor sabuk berterbangan, berputar-putar. Tongkat kayu, besi, celurit, golok. Sore itu, seperti sore sebelumnya, selalu ada harga untuk sebuah kemenangan. Selalu ada yang dikorbankan untuk kemenangan.

Siapa yang datang sore itu hanya orang-orang yang bertekad membawa pulang harga diri atau dibawa pulang dengan kondisi separuh mati. Aku menatap lamat jari telunjukku. Daging yang mengering, bekas jahitan, tulang yang tak bisa diluruskan karena disambung pen, sejak hari itu aku tak pernah bisa meluruskan jari telunjukku.

Ingatanku terbang jauh di siang itu. Melayang jauh, melesat bak bau asap knalpot kopaja yang tanpa disadari telah sampai hidung. Tiba kemudian berhenti di debu-debu yang tersapu kaki-kaki kami.

Sebab Dunia Ada Tanpa Karena; KumcerHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora