Prakata

41 6 1
                                        

Berjalan di trotoar kota pada hujan gerimis, memapah mantel pada pundak, kuyup dan dingin. Tak ada mentari untuk berbagi cerita sepanjang langkah kaki. Kedai kecil adalah tujuan yang bijak kali ini.

Kring Kring Kring.

Penjaga kedai minuman menoleh, penasaran dengan pelanggan yang baru saja datang.
"Kau basah sekali, tak bawa payung?"

"Ya seperti kelihatannya, apakah ada Cerita disini?" Pena taruh mantel basahnya, mata menyapu seisi ruangan beraroma kopi dan kueh manis.

"Bisa kau cari diantara rak buku itu, dia bersama Puisi, berbagi aksara disana," Ia masih membersihkan gelas-gelas kaca, "Kau mau pesan apa?"

"Kopi hitam, tak perlu sepahit kisah ku, tapi jangan kau bohongi pula dengan hal manis yang terlalu mengada-ada, dan ku ingin wafel, dengan topping kehidupan diatasnya, sedikit rice chocolate tak apa."

Pena segera menghampiri deretan rak buku di pojok kedai. Dia dapati Cerita sedang berdua dengan Puisi, dibalik lembar-lembar buku yang terbuka, entah apa yang dibicarakan, cukup seru sepertinya.

"Hai Tuan Pena, kemarilah, bergabung dengan kami, ceritakan hal yang bisa kau puisikan." Sapaan datang dari Cerita setelah ia menyadari kehadiran Pena.

Pena mengambil kursi dan ia dekatkan dengan meja mereka berdua. "Ada apa? Ada apa? Sepertinya seru sekali pembicaraan kalian ini."

"Ya Puisi sedang bercerita, tentang dirinya dan sastra di jaman ini." Cerita seakan-akan menjadi juru bicara.

"Kenapa memang?" Pena dekatkan tubuhnya kepada Puisi. Mencoba menoreh setiap dikte yang akan terucap.

Puisi hanya tersipu, "Baiklah," akhirnya berbicara, "Kini ku sadar, bahwa aku tak seperti pendahulu ku dulu, bertutur kata dengan rima-rima indah, mendayu atau membawa suara resah, penuh dengan metafora, hiperbola, personifikasi atau majas lainnya, pepatahpun kadang ada di dalamnya," Puisi sesap teh rosela yang ia pesan, "Dan apa kau tau, kini aku tak bisa sepenuhnya seperti itu, di jaman milenial ini, puisi lebih seperti ajang curhat masing-masing penulis serta pembacanya, aku tak suka seperti itu. Aku bukan hanya dari hati, tapi perlu juga di pikirkan secara logika, jika hanya puisi lembek seperti biasanya, puisi anak umur tujuh taun kepada ibunya itu lebih baik." Setengah ter-engah ia bercerita.
"Ya bagaimana sekarang?"

"Ya, aku menyesuaikan keinginan para penikmat literasi." Puisi memberi isyarat kutip dengan kedua tangannganya.

"Literasi hampir mati di bumi ini kawan." Cerita tiba-tiba ikut berbicara.

"Mati?" Puisi tersentak.

"Ya, sudah habis jaman kata-kata adalah pujangga, dan pujangga adalah kata-kata. Semua lebih menyukai permainan dan tontonan, bukan lagi rangkaian aksara yang di susun spasi per kata, paragraf per kalimat dan lembar per kertas." Es susu menjadi korban akibat seraknya suara yang di tekan dengan emosi.

"Di jaman milenial ini lebih diminati hal-hal visual, karena lebih menarik." Sedikit sendu nada dari paraunya Puisi.

"Lalu apa kita tak menarik? Dengan segala ilmu yang bisa kita tularkan, pemahaman, dan permainan kata yang kita berikan. Aku tak paham, harus seperti apa lagi aksara yang kita metaforakan, ilmu yang kita hiperbolakan dan bagaimana membungkus pepatah menjadi indah." Hentakan kaki menjadi irama emosi percakapan saat ini.

"Bukan begitu kawan." Logika datang membawa secangkir kopi dan wafel pesanan tuan Pena. "Kita masih memilki penggemar bukan? lihat di jajaran kota ini, banyak toko buku dan berbagai kantor penerbitan. Kalian kenal dengan seorang lelaki yang duduk didekat sungai setiap sore harinya?"

"Tak."

"Ah aku tau! Dia adalah pemuda yang bahkan tangan nya tak pernah lepas dari buku, tapi aku tak begitu mengenalnya."

"Ya begitu, kita tak perlu peduli dengan apa yang dunia katakan, lakukan yang terbaik menurut kita, dan satu hal, kita tak bisa membahagiakan semua orang."

"Baiklah baiklah, kau selalu bijak akan hal ini Gika."  Wafel potongan kecil lalu Pena makan, "Apakah kau tau bagaimana rasanya tinta terbuang sia-sia?"

"Aku tak tau, karena aku tak punya tinta, bagaimana?"

"Ini terasa saat seluruh jerih payah itu hanya bersarang tanpa terbang ke lensa-lensa, kau tau? Aku menumpah tinta dengan jiwa, ku bagi setiap bagian jiwa ku saat membuat karya, menitih kertas dengan kelam yang gelap, tapi itu terang, tercurah seluruh harap pada aksara yang terukir pada serat putih yang kemudian abu. Namun, tak ada apresiasi itu karat. Bukan maksudku meminta sebuah mendali atau sertifikat yang tertoreh nama ku, tapi aku hanya ingin kata-kata ku terbaca oleh mata-mata yang kini hanya melihat kaca-kaca yang menimbulkan visual." Sebuah potongan wafel kecil kini hilang di dalam lahapan, Kopi terasa lebih dingin di mulut Pena.

"Mungkin kau terlalu udik?" Logika membuat dua orang lain menatap dia tajam.

"Bukan, dunia ini terlalu penat." Pena masih menyalak.

"Hey-hey ini terlalu jauh pembahasan kalian ini."  Cerita tak mau terlibat hal-hal keributan.

"Tak apa, ini menyenangkan bukan? bertukar resah dari kisah, karena kenang yang masih terawat dalam kening. Kapan bisa seperti ini lagi? karena kadang waktu tak merasa iba pada kita." Logika masih berdiri dengan nampan kayunya.

"Memang apa salahnya jika kita tak ada?" Puisi mencoba meminta penjelasan.

"Kedai ini tak akan ramai dengan debat-debat kecil, tapi pelik kalian." Logika tertawa kecil.

"Bisa saja, bilang kalau kau masih butuh uang untuk makan, Gika." Pena seperti masih memiliki sedikit dendam pasa Logika.

Ketiga orang lainnya tertawa, hangat diantara sisa-sisa perjuangan hujan yang turun.

Dengan sisa tawa Logika bercerita "Kalo kita tak ada, ya tak ada rugi untuk kita, tapi saja, bunga tak akan mekar, karena angin tak akan menarik dan membawa benang sari pada putik."

"Awan tak akan berarak mengitari langit sambil berkejaran satu sama lain, membuat sebuah arus dilangit, dengan angan sebagai kapal yang berlayar disana." Puisi coba ikut andil.

"Laut tak akan berombak, dan daun kelapa tak akan melambai pada kapal yang meninggalkan dermaga. Debur nya akan sunyi, dan ia menagih janji pada air yang jatuh sebagai hujan." Cerita berucap dengan gagasannya.

"Gunung tak akan berpasak, dan bumi tak akan berpijak, dengan segala bintik yang tergantung dan menemani Lunar melalui dinginnya malam. Disini dan tak akan pergi." Pena tak mau kalah.

"Bukan kita yang butuh di baca, tapi kalian yang butuh aksara." Lanjut semuanya.


You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 07, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PRAKATAStories to obsess over. Discover now