1. Pesawat Kertas

266 21 2
                                        

Suara sepatuku terdengar seperti tapak kuda yang berlari begitu kencang. Bel sudah berbunyi dan aku masih harus ke kantor guru untuk mengambil absen kelasku. Kali ini aku kembali terlambat karena padatnya kota hari ini. Setelah mengambil absen, aku kembali berlari menuju kelasku yang berada di lantai dua. Dan Ternyata... Guru sains ku sudah ada di dalam kelas.

"Selamat pagi Bu" sapaku dari depan pintu kelas.

"Ya, Selamat pagi Tifa. Kamu kenapa hari ini terlambat?" tanya Bu Riani.

"Maaf Bu, tadi dijalan tifa terkena macet, karena sedang ada perbaikan jalan Bu."

"Yasudah, lain kali kamu lebih cepat berangkatnya ya. Silahkan masuk!".

Sains adalah pelajaran kesukaan ku. Aku tak pernah mau melewatkan pelajaran sains. Dan sekarang bel istirahat sudah berbunyi. Tak terasa sudah 3 jam mata pelajaran berlalu. Sekarang aku harus mengantar absen yang sudah ku isi ke meja piket. Biasanya aku selalu ditemani oleh Rara sahabat baikku. Tapi, hari ini dia tidak hadir karena sakit. Aku berjalan ke arah meja piket dan memberi absen kelasku kepada guru BP. Setelah itu aku berjalan meninggalkan meja piket.

Shuut..

Tiba-tiba sebuah pesawat kertas terjatuh tepat di depan ku. Aku tak tau ini dari mana. Hanya saja di kertas tersebut bertuliskan. "Hai Tifa, besok jangan terlambat lagi ya".
-aku-

Aku bingung itu pesawat kertas dari mana. Aku melihat ke kanan dan ke kiri tapi aku tak melihat ada seorang pun yang melihat ke arahku. Akhirnya aku membawa kertas tersebut dan pergi ke kantin... Di kantin aku bertemu Kiran. Dia adalah teman sekelas ku ketika di kelas XI kemarin.

"Hai Tifa. Kok lo tumben sendirian, Rara mana?"

"Eh, Elu. Iya nih kir, hari ini Rara ga datang karena sakit. Jadinya gue sendiri deh" Jawabku.

"Oh, Iya Tif. Tadi kawan gue titip pesan buat Lo. Katanya besok jangan terlambat lagi ya. Wkwkwk".

Baru saja aku ingin bertanya dia itu siapa, tapi Kiran sudah berlari dan pergi begitu aja. Aku sebenarnya penasaran dia itu siapa, hanya saja aku tak ingin terlalu mencari tau. Setelah selesai membeli makanan aku lalu kembali ke kelas.

Sesampai di kelas, Revan menghampiri ku dan duduk di depanku sambil membawa makanan yang tadi dibelinya dari kantin.

"Hai, Tif. Karena hari ini Rara gak datang. Biar gue aja ya yang duduk disini, biar Lo ada kawan makan juga" kata Revan.

"Lah, tumben Lo. Ada angin apa lu mau nemenin gue makan? Biasanya juga lo makan di kantin bareng hafizh" jawabku.

"Ya, gakpapa. Udah ah, kita makan aja dulu. Entar kalo bel masuk udah bunyi, gak jadi makan dah lu. kalo lo kurusan gimana? Bisa-bisa besok Rara gak kenalin lo lagi? Wkwkw"

Aku tersenyum kepada revan, lalu memulai untuk segera makan.

Revan adalah anak baru pindahan dari Jakarta. Dia berkulit Putih, berhidung mancung, memakai kaca mata, hobby main game dan terlihat begitu keren. Kawan-kawan sekelas ku begitu menyukainya.

Setelah selesai makan, bel berbunyi yang artinya bahwa kelas selanjutnya akan segera dimulai. Kami kembali ke tempat duduk kami masing-masing dan mengikuti pelajaran hari ini hingga selesai.

*** Pulang

Tak terasa bel pulang telah berbunyi. Seperti biasanya, ayah akan menjemputku untuk kemudian kami pulang bersama.

Sebenarnya ayah jarang menjemputku, namun karena akhir-akhir ini kerjaan ayah di kantor tak terlalu padat dan Rara yang juga lagi sakit. Ayah jadi  memutuskan untuk menjemputku hari ini.

Ayah meminta ku untuk di depan gerbang. Tak lama kemudian salah satu temanku yang bernama kiran  datang lagi menghampiriku.

"Tif, kamu lagi nungguin siapa?"

"Gue, lagi nungguin Ayah. Soalnya hari ini gue dijemput sama ayah."

"Oh gitu. Yaudah hati-hati ya. Oh iya ini ada sesuatu buat lo."

"Lah, pesawat kertas dari siapa Kir?"

Seperti kejadian tadi ketika di kantin, kali ini Kiran kembali pergi meninggalkan aku sendiri tanpa pamit.
Aku memperhatikan pesawat tersebut. Dan kali ini aku melihat pesan bertuliskan...

"Sampai Jumpa Besok".
-aku-

Aku merasa semakin penasaran, Siapakah orang iseng yang mengirimkan aku pesan ini?
Tiba-tiba...

Tin!!!

Aku yang awalnya melamun mendadak kaget. Aku tak sadar bahwa ayah sudah datang menjemputku. Aku pun segera masuk kedalam mobil dan pulang bersama ayah.

Meet and PassWhere stories live. Discover now