Prolog

230 23 0
                                        

"El, ayo cepat mandi, teman-teman ayah mau datang sebentar lagi. Kamu nggak malu apa muka masih kucel begitu," ucap Gilang sambil menarik pelan tangan putri bungsunya itu.

"Bentar, Yah. Santai aja kali, masih jam segini juga, tanggung lagi push rank ini," jawab Elma masih terpaku dengan game online yang ia mainkan di ponsel pintarnya.

"Kamu ini, mumpung lagi libur kuliah bukannya kangen-kangenan sama ayah malah main terus, kalau nggak main ya laptopan," cibir Gilang.

"Yah, aku nggak cuma laptopan, tapi kerja. Udah seminggu ini aku rajin ngerjain update komik, dikejar-kejar editor, biarin lah aku main dulu, refreshing. Capek lho, Yah." Mata Elma masih terpaku pada ponselnya.

Gilang menarik napas panjang, gadis bungsunya ini memang sering membuat Gilang kebingungan. Di satu sisi, ia bangga pada putrinya yang sudah mampu membiayai hidupnya sendiri dengan menjadi komikus dan pekerja lepas, tapi di sisi lain, ia agak jengkel dengan kebiasaan Elma yang tidak begitu peduli dengan dirinya. Anaknya itu bisa dibilang cantik, dengan kulit putih dan mata bulat beriris hitam. Tapi gadis itu sama sekali tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan merawat tubuhnya itu.

Gilang juga bingung, tidak seperti gadis remaja lain, putri bungsunya itu sama sekali tak tertarik dengan make-up. Jangankan menyentuh segala macam keperluan penghias wajah, pakai bedak saja dia masih harus remedial. Gadis itu lebih tertarik ketika diajak ke lapangan tembak dibanding ke mall. Sulit juga membujuk putrinya untuk mengenakan gamis atau rok, apalagi setelah ia lulus SMA. Tak pernah sekalipun putrinya menyentuh benda itu, bahkan tak ada satupun rok yang ia miliki dalam lemarinya, kecuali rok-rok di zaman sekolahnya.

Gadis itu sangat keras dan tidak peduli, tapi herannya, begitu keluar rumah dia langsung menjadi sosok yang sangat berbeda, seakan ada sakelar yang mampu jadi pemicu perubahannya. Hangat dan banyak tersenyum. Pendiam dan penurut. Tetangga-tetangga Brigjen itu bahkan selalu memuji kecantikan dan kebaikan putri bungsunya.

Bahkan ada beberapa juniornya yang blak-blakan memandangi putrinya dengan tatapan tertarik setiap kali Gilang mengajaknya ke asrama tentara.

Mereka belum melihat kelakuan putriku yang sesungguhnya saja. Pikir Gilang berlalu membiarkan Elma yang masih asyik dengan permainan barunya. Ia tertunduk sedih. Mungkin saja kalau istrinya masih ada, Elma tak akan jadi setomboy itu. Mungkin, jika di rumah itu tak hanya diisi oleh dirinya dan kedua abang laki-laki Elma, gadis itu akan menunjukkan sisi feminimnya.

"Pokoknya nanti kamu yang siapkan teh dan snack untuk tamu ayah. Kamu juga yang harus bawa itu nanti ke hadapan teman ayah," perintah Gilang yang langsung dihadiahi tatapan tajam Elma.

"Ih, males ah, Yah!" Elma memanyunkan mulutnya.

"Kamu ini gimana sih? Yang namanya anak cewek ya begitu, masa mau abangmu yang buatkan sementara kamu duduk manis?"

"Yah, sekarang ini zamannya kesetaraan gender. Ya nggak apa-apa lah kalo abang yang buat. Ayah juga nggak perlu malu karena aku nggak akan duduk manis, tapi bobo cantik di kamar dan memastikan nggak ada satupun teman ayah yang tahu kalau anak bungsu ayah ini ada di rumah."

"Elma..."

"Lagian ngapain sih, Yah, harus banget ketemu sama temen ayah? Biasanya juga aku diem di kamar sementara ayah ngobrol sama temen-temen ayah yang prajurit itu. Aku tuh lagi males ketemu manusia, Yah. Harus pasang tampang senyum terus buat pura-pura," lanjut Elma tak ingin dipotong.

"El, kalau kamu bilang soal kesetaraan gender, kamu mau ayah suruh ganti ban mobil? Mau ayah suruh dorong mobil kalau tiba-tiba mesin mati? Mau ayah suruh lari keliling komplek sebanyak abang-abangmu?"

Elma tertunduk.

"Bersosialisasi itu penting, El. Jangan berpikiran kalau dunia itu cuma berputar di sekitar kamu. Kamu butuh orang lain. Sekarang, kamu berhenti main, terus mandi dan dandan yang cantik! Ini perintah!" Gilang merampas ponsel milik anaknya, menggeret Elma untuk pergi ke kamar mandi.

"Ck. Apaan sih, Yah, pake perintah-perintah segala! Aku ini anak kandung ayah, bukan anak buah!"

"Kalau ayah nggak paksa kamu, kapan kamu mau mandinya?" Gilang mengambil handuk dan segera mengalungkannya ke bahu putrinya.

"Aku kan udah bilang, aku cuma mau push-"

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu itu seketika mengalihkan tatapan kedua ayah-anak itu. Mereka langsung terdiam, disusul dengan Elma yang segera berlari memasuki kamar mandi dengan keadaan tergesa.

Gilang menggeleng. Dasar anak jaim itu.

Ia pun berjalan menuju pintu dan menyambut siapapun yang ada di baliknya dengan senyum sumringah.

----------***----------

Hoi~ maafkan diriku yang hadir setelah sekian tahun hiatus justru dengan cerita baru..

Jujur aja, aku sama sekali nggak ada mood buat lanjutin "Mr. Presiden", jadi, semoga kalian suka dengan cerita baru saya tentang cewek jaim dan kapten yang masih misterius~

Salam, C_L

Lembar SketsaWhere stories live. Discover now