Cat Café

65 3 0
                                        

"Munchkin!"

Entah ke berapa kali nada sok kekanak-kanakan ini hampir mengoyak gendang telingaku.

Mengekspresikan kegemasannya dengan menangkup wajah kucing itu, seolah itu anaknya, mungkin.

_______

I don't really like hip-hop

I don't really like cats

"Ah, ada siamese juga, Poo! Boleh dibawa pulang gak sih, hehe"

I didn't even want to travel around the world

But the day when I saw your bucket list,


"Makanya, ayo mana nih plan ke Thailand nya? Kan biar makin banyak ketemu siamese cat"

My dream became traveling the world


_______

"Don't be too harsh or too loud to the cats, please " Pemilik kafe kucing ini menegur dengan lembut dan tersenyum.

"Ah, sorry, Sir. We're just too excited" Aku segera mewakili dengan sedikit malu akan tingkah kami.

Kami tersenyum canggung. Tapi tak lama Poo menyingkap lengan jaket jeansnya, membuka tangannya untuk memeluk anak-anak barunya.

Iya, kucing.
______

Seekor kucing siamese terus berusaha memainkan kacamataku. Lucu, tapi menyebalkan.

Dan Poo melihat itu.

"Kenapa sih tumben banget pake kacamata? You hate it, i know that"

"Capek kali pake softlens terus. Lagian cuma kesini doang, elah."

Aku masih setia fokus bermain dengan kucing siamese itu, tapi aku bisa merasakan tatapan Poo yang mengajak mengobrol.

"Lah? Biasa juga ke Alfa effort banget kudu pake softlens perasaan. Dan kesini sejam dari flat ya. Jauh."

Aku terkekeh pelan. Menoleh ke arahnya, sembari melepas si kucing siamese.

Dahiku mengernyit; separo karena terpaksa harus menanggapi leluconnya,
separo karena dia tidak menyadari besarnya effort menutupi mata sembab ini dengan kosmetik.

"Sembuh kek bawelnya! Lagian, London sebelah mana sih yang punya Alfamart"

Dia hanya tertawa renyah. Persis keponakanku yang menertawai lelucon jayus tantenya.

Hatiku menghangat, dan membalas tawanya lembut.

_______

Aku kembali memakan chips yang kami pesan.

Sendirian, sambil menonton sahabat tengilku ini yang masih gemas bermain dengan kucing.

Mengantuk dan lapar menjadi senjata alasan untuk memisahkan diri sejenak.

Mata kini menjadi satu-satunya indera yang paling kurasa. Terpaku setia pada titik yang sama; Poo dan para kucing.

Entah sejak kapan aku meminum vanilla milkshake ini, yang pasti indera pengecap-ku seketika berfungsi saat mendengar lagu yang diputar pemilik kafe.

...

Tidak. Jangan sekarang.

...

playlist.Donde viven las historias. Descúbrelo ahora