Pulang I

762 16 1
                                        

karena kita tak pernah tahu
siapa di antara kita yang lebih dulu
"pulang"

*****


"Kamu harus pulang!"

Iya, pulang.

"Ga usah mikir ini itu, harus gini harus gitu. Yang penting kamu hadir di sini, cukup."

Iya. Tapi...

"Tapi apa? Ga ada tapi tapi, pulang saja, sudah."

Oke. Sah.

"Sah apa?"

Aku pulang.

"Kamu pulang aku bikin kacang rebus."

Ga usah repot-repot.

"Engga. Harus mau."

Maksa.

"Ga ada kacang rebus, kecuali berarti ada kamu."

Kok gitu?

"Ya emang siapa lagi yang nanyain kacang rebus kalo pulang selain kamu?"

Bikin sendiri? Emang bisa?

"Ah elah, kacang rebus doang."

Kacangnya beli sendiri ya?

"Kamu lah yang beli, aku ngrebusin aja."

Sama aja aku yang repot.

"Biasanya juga begitu. Kapan ya terakhir bikin kacang rebus?"

Kapan ya? Tahun lalu.

"Berarti tahun lalu juga ya kamu di sini."

Hahaha iya.

"Ga kangen?"

Hahaha apaan si? Kan nanti juga pulang.

"Sekarang aja bisa ga?"

Udah malam kan. Emang ada yang jualan kacang mentah malam-malam gini?

"Hemm"

"Hati-hati ya pulangnya."

Kan belum.

"Ya kan hati-hati dulu dari sekarang, mumpung masih bisa ngingetin."

Hahaha apasi? Iya hati-hati.

"Pulang, ya."

Iya, pulang. Cerewet.

"Oke, ditunggu."

Iya.

●●●

Della cerewet sekali memang. Tapi tidak seperti sebelumnya, ketika menjelang libur panjang ini dia ingin sekali aku pulang. Entah kangen, entah apa, mungkin karena sudah setahun lebih kami tidak bertemu. Kupikir wajar saja, namanya hubungan jarak jauh, konsekuensi terbesar memang menahan rindu yang kian menebal.

Padahal hampir setiap hari kami bercengkerama melalui gawai, bertukar kabar, berbagi cerita, sampai video call juga sering kami lakukan. Tapi begitulah, seperti dendam yang belum tuntas tanpa terbalas, pun rindu yang tak pernah lunas tanpa bertatap langsung. Tidak berlebihan kan?

Sebulan lagi libur panjang lebaran, seperti tradisi masyarakat Indonesia pada umumnya, yang dilakukan saat libur lebaran adalah mudik ke kampung halaman, tak berbeda, begitupun dengan aku. Setahun lebih mencari rupiah di tanah rantau, lebaran adalah momen terbaik untuk berkumpul dengan orang-orang terkasih.

Sudah jauh-jauh hari kurencanakan untuk pulang. Della sudah tahu, lebaran pasti aku pulang, tapi namanya perempuan belum lengkap kalau tidak dibumbui kecerewetan. Memaksa aku pulang seolah-olah aku tidak akan mudik lebaran nanti. Karena kesal beberapa hari lalu kuledek sekalian tingkahnya.

PulangWhere stories live. Discover now