Prologue

514 42 6
                                        

London, 1 Januari 2200.

Namanya adalah Kim Kai. Seorang lelaki SMA yang menjalani hidupnya dengan sengsara selama enam belas tahun. Menjadi sosok yang selalu dibenci, ditindas, diolok-olok, dan dibuang hingga usianya menginjak enam belas tahun. Kai culun, tapi itu dulu. Kai lemah, tapi itu dulu. Kai tertindas, tapi itu dulu. Kai dibuang, tapi itu dulu.

Kini, Kai adalah lelaki tangguh. Seorang lelaki yang awalnya ditindas menjadi seorang lelaki yang menindas. Matanya yang sehitam jelaga menjadi kekuatannya. Tatapannya setajam pisau yang siap menghunus jantung. Kai adalah seorang lelaki yang kini menjadi pujaan hati bagi para wanita.

Dulu, matanya terhias kacamata bulat. Poni yang menutupi dahinya dan model rambut yang sungguh membuatnya terlihat culun. Namun kini, rambut Kai ditata dengan gaya comma, Kai tidak lagi mengenakan kacamata. Teknologi semakin maju, Kai menggunakan uang tabungannya untuk melakukan lasik.

Kai bukan berasal dari keluarga berada. Dia dirawat oleh bibinya yang seolah tak pernah menganggapnya ada. Makan seadanya sejak kecil dan tidak pernah diperhatikan. Bibinya selalu keluar setiap malam, pulang membawa lelaki yang selalu berbeda tiap malamnya. Kai tahu pekerjaan bibinya. Oleh karena itu, Kai seringkali mengambil pekerjaan sampingan.

Kai berubah bukan tanpa sebab. Masa lalu menyakitkan yang membuatnya harus berubah. Sebuah kenangan yang membuatnya membenci dirinya sendiri. Membenci dirinya yang lemah. Membuat lubang yang dalam dan retakan yang lebar dalam hati Kai. Membuat Kai terjatuh ke dalam kegelapan tak berujung yang berakhir membuatnya menjadi Kim Kai saat ini. Kim Kai yang pemberontak, penindas, dan jauh dari kata baik.

Karena kenyataannya, orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti.

~^~

Kai mendesis marah ketika tubuhnya ditabrak oleh seorang murid yang tergesa-gesa. Minuman yang dibawa murid itu tumpah mengenai seragam sekolah Kai. Kai memandang murid yang menabraknya dengan tatapan tajamnya. Murid itu menunduk dalam-dalam.

"Ka-Kai, ma-maaf," cicitnya.

Kai menggeram karenanya. Dicengkramnya leher murid lelaki itu. Murid lelaki itu membulatkan matanya. Dia mendangak menatap Kai yang dibalas tatapan tajam dari Kai. Seisi kantin panik ketika melihat kejadian itu.

"Maaf kau bilang?" geram Kai.

"Ugh... Ka-Kai," lelaki itu mulai terbatuk.

Tangannya menggenggam pergelangan tangan Kai yang mencekik lehernya. Wajahnya mulai memerah karena pasokan oksigennya yang kian menipis. Dan sebelum lelaki itu kehilangan nafasnya, Kai membanting tubuh lelaki itu. Sebenarnya, Kai ingin sekali membuat lelaki ini pingsan, namun melihat kedua sahabatnya datang membuatnya mengurungkan niatnya. Kai memandang datar ke arah lelaki yang terbatuk-batuk itu. Seisi kantin kini telah mengerubungi mereka. Membantu lelaki malang itu untuk berdiri.

"Kau selamat kali ini," desis Kai.

Kai berjalan dengan angkuhnya meninggalkan lelaki malang itu. Membiarkan bisikan-bisikan mencemooh atau pun bisikan lainnya menghujani dirinya. Kai tidak peduli. Lagipula, dari dulu Kai sudah menerima seluruh caci maki itu.

"Kai! Oh Tuhan, apa kau sudah gila?! Kau hampir membunuhnya!" suara yang tak asing bagi Kai membuat Kai berdecak.

Itu adalah salah satu sahabatnya, namanya Axelero Jr. Seorang lelaki berambut pirang dengan mata cukup sipit dan kulit putih. Matanya berwarna biru langit, begitu indah dan tampan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 24, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Alpha {Kai EXO}Stories to obsess over. Discover now