> Aerilla Devi <
Sekarang aku berada di depan rumah yang cukup megah dengan banyak tamu yang mulai datang memasuki pintu masuk rumah tersebut yang tak lain adalah kediaman Hutama. Aku disini karena dipaksa Liam menemaninya datang ke acara pesta resepsi pernikahan anak bungsu keluarga Hutama. Acara seperti ini yang terdapat banyak orang kalangan atas bertemu, seperti mereka adalah acara yang paling tak kusukai. Namun aku kasihan pada Liam yang selalu kutolak ajakannya selama ini, jadi sekarang aku mengalah padanya. Terlebih karena dia bilang yang menikah adalah salah satu kenalannya dan akan ada banyak teman Liam yang datang. Liam ingin mengenalkanku pada teman-temannya, namun sejak memasuki ruangan aku benar-benar tidak bisa nyaman sedikitpun.
Aku hanya mengikuti Liam kemanapun ia membawaku dan mengenalkan diriku sepatutnya. Hingga aku merasa haus dan mulai mengambil minuman, saat itulah aku melihatnya. Pandanganku langsung terkunci pada sosok itu, dia begitu mempesona dengan memakai setelan hitam senada yang begitu pas dengan tubuhnya yang tinggi dan proporsional. Wajah tegas dengan rahangnya yang kokoh, alis tebal dan mata cokelat yang berkilat tajam menambah kesan maskulin darinya, ‘dia tampan’ kuakui. Namun bukan hal itu yang membuat pandanganku terkunci padanya, mata cokelat tajamnya itulah yang seolah menarik sesuatu dalam diriku. Debaran jantungku langsung menggila tepat setelah sebelumnya berhenti berdetak untuk sepersekian detik ketika mataku untuk pertama kali menangkap sosoknya dari kejauhan.
‘Kenapa mataku tak bisa beralih darinya? Aku terus memutar otak dan terus mengingatnya, namun nihil. Dia tak ada dalam benakku. Siapa dia? Kenapa dadaku terasa sesak ketika aku memandang mata cokelatnya. Mata itu begitu memikatku, ada rasa rindu, sakit, senang, dan perih yang kurasakan. Sangat……… perih karena aku tidak bisa menemukan jawabannya. Kumohon Tuhan sadarkan aku! Siapa dia? Kenapa hanya dengan melihatnya dari jauh di pertemuan pertamaku dia sudah menyiksa tubuhku sedemikian kejam begini.’
“sayang!”
Kudengar suara itu yang jelas aku hafal membangunkanku dari lamunan, Liam. Kurasakan Liam telah disampingku dan tangannya bergerak menggamit lenganku dengan posesif. Kemudian tanpa kusadari Liam telah menarikku berjalan menjauh dari meja tempatku berdiri tadi. Liam menuntunku menuju padanya…..
TIDAK!....
LELAKI ITU……
‘kumohon! Jangan kesana! Please Liam ….. please don’t……’ desisku dalam hati.
Hati dan pikiranku tidak bisa diajak kompromi, hati kecilku berteriak memerintahku untuk mendekat namun pikiranku yang kuanggap masih normal memaksaku untuk menjauh. Namun sepertinya perdebatanku dengan diriku sendiri memakan waktu lama, karena tanpa kusadari kini aku sudah dihadapan lelaki tersebut. Bahkan pembicaraan Liam dengan lelaki tersebut dan juga dua orang lain disekitarku tidak dapat aku dengar, hingga panggilan Liam menyadarkanku, sepertinya dia telah memanggilku berkali-kali, karena panggilannya terdengar cukup keras di telingaku. Sontak aku langsung mendongak dan mendapati lelaki tersebut memandangku. Karena aku bingung, akhirnya dengan cepat aku membuang muka dari lelaki tersebut dan menoleh menatap Liam yang kini wajahnya tampak kesal dengan sebelah alisnya yang terangkat.
“apa?” tanyaku polos tak memperdulikan tatapan kesal Liam.
“kenalkan dirimu sayang!” geram Liam.
“oh maaf. Perkenalkan nama saya Aerilla Devi, anda sekalian dapat memanggil saya Aeri. Salam kenal” ucapku sedikit kaku dengan membungkukkan badanku sekilas.
Sambil menekan kegugupanku sekuat tenaga, aku berusaha berbicara dengan penuturan sewajar mungkin. Saat aku mendongak, aku dikejutkan dengan uluran tangan lelaki tersebut, lelaki yang sejak tadi membuatku harus menahan gejolak didalam hatiku. Wajahnya tersenyum ramah saat mengulurkan tangannya, membuatku harus menahan gejolak lain dalam tubuhku, seperti ada rasa rindu. Perlahan tanganku tanpa kusadari bergerak menyambut uluran tangannya dan menjabatnya, tanganku bergerak sendiri tanpa aba-aba dariku dan hal itu juga membuatku bingung. Aku merasa kalau aku didekat lelaki ini lebih lama maka aku tidak bisa mengendalikan tubuhku dengan benar, aku tidak tahu apa yang nantinya akan aku lakukan. Saat kulit tanganku bersentuhan dengan kulit tangannya seperti dejavu, dan saat dia mempererat genggamannya seperti ada sengatan listrik yang mengalir, menyengat tepat ke saraf-sarafku. Ada rasa hangat yang menjalar ke tubuhku hingga bisa kurasakan pasti sekarang wajahku merona.
ESTÁS LEYENDO
The Relation Of Us
De TodoTentang kita yang dipertemukan takdir. Membawa kembali ikatan yang pernah terputus waktu. "aku ingin mengingat tentangmu" Aerilla Devi "dia satu-satunya yang kupunya" Ellina Rosita "akan kudapatkan kembali milikku" Ferdian Allby "tak ada yang berhak...
