Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
Dihapus jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu dijalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
disetiap akar pohon bunga itu
"Sapardi Djoko Damono." Tutur gadis itu sambil menutup kembali buku dipangkuannya.Mata itu menatap lurus kedepan,helaan nafas berat terdengar berluang kali.
"DORRRRR" Teriak seorang dari belakang membuat gadis yang terduduk menoleh dengan wajah kagetnya.
"Kebiasaan banget sih,kalo mau ngagetin bilang dong." Bisa dilihat dari nada bicaranya,gadis itu terlihat kesal.
"Namanya juga ngagetin mana bisa bilang bilang" Tembal silawan biraca.
"Kalo gue jantungan gimana,mau tanggung jawab lo!"
"Ya udah sorry sorry,lagian gue gak ngamilin lo masa minta tanggung jawab."
"JOVANNNNNNNNN."
Reina,ya gadis itu berteriak sambil memukul Jovan dengan brutal.Sedangkan laki-laki itu tertawa sambil menahan pukulan gadis didepannya.
Taman belakang sekolah memang enak untuk dijadikan tempat istirahat atau bolos pelajaran seperti kedua manusia yang saling kejar mengejar itu.
Jovan tak hentinya membuat Reina kesal dia sengaja menggelitiki gadis itu agar meminta ampun pada Jovan.
"Hahahahaa..... Stophh..hh jo,ampunnn." Tawa renyah terdengar dari keduanya.
"Joo ampun ishhh udahhh." Lagi-lagi Reina memohon.
"JOO GAWATT !!" Teriak laki-laki yang berlari mendekat,nafasnya memburu ia menatap Jovan panik.
"Dewa Jo dewaa."
Jovan melangkah mendekat saat nama itu terucap."Dewa kenapa?"
"Nyiksa anak bawah."
"Bangsat"
Umapatan Jovan membuat mata Reina membulat.Kenapa Jovan terlihat berbeda sekali dengan saat mereka smp dulu,laki-laki yang sopan juga tutur katanya lembut.Tapi apa barusan,Jovan mengumpat didepan dia.
"Di aula Jo."
Setelah mendengar itu,Jovan langsung berlari meninggalkan taman belakang bahkan dia melukpakan gadisnya itu yang termenung melihat punggung Jovan yang mulai menghilang dibalik tembok diikuti temannya.
Diaula terlihat banyak sekali orang,mereka mengerumuni siswa yang tengah beradu tinju bak pertandingan MMA.
"BANGSAT ANJINGG." Seru laki-laki dengan seragam yang dibiarkan terbuka menampilkan kaos hitam polosnya terlihat.
"DIBAYAR BERAPA LO BANGSAT." Lagi-lagi pukulan keras terdengar begitu renyah mengenai pipi kanan lawannya.
Darah segar keluar dari sudut bibirnya.Belum puas dengan itu dia menarik kerah baju lelaki dihadapanya lalu menendang perutnya hingga terkapar lemah kelantai.
YOU ARE READING
Dear You
Romance[Follow sebelum membaca] Seberapa dingin tatapan itu tak membuat aku takut untuk mendekatimu.Karena yang ku lihat hanyalah tatapan kosong tak tersentuh. "Dewa" "Hm" "abdi bogoh ka anjeun itu artinya apa?" "Aku cinta kamu" "Aku juga" Sadewa Arka Zora...
