"RINDU DI PUCUK WAKTU"

9 2 1
                                        

        Kala itu, hal yang diawali dari derasnya hujan yang sedang membumi. Saat itu aku sedang bersiap menuju sekolah baruku. Sekolah yang dikira rasanya aku tampak seperti orang asing dan bingung akan semua hal-hal baru.

       Hal yang tak kuinginkan rasanya benar-benar terjadi. Namun itu hanyalah perkiraan semata. Hal yang kurasa buruk ternyata tidak seperti apa yang aku bayangkan. Hingga tiba di depan sekolah baruku pun aku merasa akan ada banyak teman-teman yang baik di sana.

       Dan pada akhirnya rasa percaya diriku pun patah setelah melihat tiga orang anak yang menjahili ku disana. Baru saja hari pertama masuk di sekolah baruku, aku sudah di jahili dengan di sembunyikannya tas ku. Saat itu aku merasa bahwa aku benci dengan sekolah baruku itu.

        Awal pembelajaran pun dimulai. Hari itu aku awali dengan perkenalan pertama ku di depan kelas. Aku memperkenalkan diriku bahwa nama ku adalah Hilda. Ia nama ku Hilda Yuvita Sari. Aku merupakan seorang anak pindahan dari Semarang tepatnya di SMAN 02 Semarang. Kini aku bersekolah di SMA negeri 09 Bogor. Setelah teman-teman ku mendengarkan ku perkenalan, mereka tampak seperti biasa saja dan menghiraukanku. Seketika itu, aku pun duduk di kursi belakang yang kosong.

         Alasanku pindah ke Bogor dikarenakan orang tua ku sudah bercerai. Ayahku seorang pengacara di Semarang sedangkan ibuku seorang pejabat di daerah bandung. Aku tinggal bersama nenekku di bogor. Hal ini lah yang membuatku pisah dari kedua orang tuaku dan memutuskan untuk tinggal bersama nenek ku di bogor.

          Ku pikir tak akan ada teman yang ingin berteman dengan ku disekolah baruku ini. Ternyata pikiranku salah aku memiliki dua orang teman yang baik dan ramah mereka adalah Dita dan Nindi. Dita merupakan anak yang humoris dan asik sedangkan Nindi adalah anak yang lumayan puitis tapi seru berteman dengan mereka yang super kocak itu.

           Entah kenapa selalu ada saja yang menjahiliku di sekolah baruku ini. Anak itu bernama Angga. Setiap aku dengar namanya saja dipikiranku hanya ada rasa dendam. Bayangkan saja semua perlengkapan sekolah ku sudah berhamburan dilemparnya di depan kelas.

           Aku benci padanya padahal aku tidak pernah ada salah kepadanya namun dengan santainya ia merasa bahwa sekolah itu adalah miliknya. Dia memperlakukanku semena-mena. Untunglah ada Dita temanku yang melaporkan kejadian itu kepada guru. Untuk hari itu aku merasa terselamatkan dari anak nakal itu.

           Seketika pulang sekolah, lagi-lagi aku bertemu anak itu. Dengan sombongnya ia mengatakan bahwa dia akan balas dendam kepada ku akibat dia dihukum oleh guru pada waktu itu. Aku hanya terdiam saja, aku pun bergegas pulang dan menghiraukan perkataan anak itu.

            Ketika dirumah, nenek pun menghampiriku dan bertanya padaku tentang awal pertama aku bersekolah.

“Eh..hilda sudah pulang. Gimana awal pertama masuk sekolahnya? (nenek)

“Yaa.. lumayan membosankan nek.” (hilda)

“Lho.. kok bosan, apa sekolahnya kecil dan ga seperti sekolahmu yang lama?”(nenek)

“Bukan nek.. orang-orangnya nakal nek.. Hilda ga betah.(hilda)

“Gapapa hilda... kan masih awal pertemuan lama-lama mereka bakalan seneng sama kamu.”(nenek)

      Terbesit didalam benakku bahwa aku ingin pulang ke Semarang, aku benci sekolah baruku. Tapi aku harus menerima itu semua. Andai saja orang tua ku tidak berpisah mungkin aku tidak akan seperti ini.

       Untuk kesekian kalinya aku bertemu Angga di depan kelas. Wajahnya seperti tak senang denganku. Entah kenapa aku harus satu kelas dengan anak seperti itu. Saat istirahat pun tiba, saat itu Angga menumpahkan ku dengan semangkok bubur di atas kepalaku pada jam makan siang. Betapa malunya aku, hingga aku ditertawakan anak-anak satu sekolahan pada waktu itu. Aku malu dan aku tak mampu membendung air mata ku saat bersama Dita dan Nindi.

RINDU DI PUCUK WAKTUStories to obsess over. Discover now