Mentari tampak malu malu untuk menyapa dunia dipagi ini. Cahayanya sangat samar terlihat. Mungkin ia enggan jika harus mengusir kabut yang sudah berbulan-bulan tak pernah menyapa. Yaps, baru malam tadi hujan mengguyur bumi Yogyakarta.
Ctakkkk....
"Awww," teriak Melia reflek.
Ia dan ketiga temannya langsung seketika menghentikan lari kecil mereka. Mata mereka langsung tertuju pasa kaleng susu bear brand putih yang bergelontang.
"Hey ... berhenti!" Bulbul berteriak sok menjadi pahlawan.
Sebuah mobil berplat nomer R 3 NDY menepi lalu berhenti. Bulbul berjalan sambil menyincing lengan bajunya. Sesampainya disana ia langsung menggedor kaca samping kiri bagkan depan.
"Kamu nggak papa Mel?" tanya Priska, yang termanis dari empat gadis itu.
Melia hanya menggelengkan kepala sembari mengelus jidatnya.
"Bulbul gimana sih, bukannya protes tapi malah diem aja," gerutu teman Milea yang satu lagi. Tercantik, imut dan centil abis.
"Kesana aja yuk Sil," ajak Priska.
Sang pemilik mobil akhirnya keluar. Lalu ia melepas kaca mata hitamnya. Tampaklah matanya yg sipit dengan hidung mancung. Jadi mata sipitnya tak menguranginya untuk terlihat tampan dan cool. Bulbul terpesona. Bukannya ngomel, ia malah memberikan seuntai senyum pada lelaki itu.
"Emang loe yang terkena kaleng gue?" tanya Rendy.
Saking terpananya, Bulbul hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
Melihat Bulbul yang tetap terpaku, Sisil berteriak dari jauh, "Woiii ... gendut! Jangan bengong aja!"
Tapi tetap saja tak digubris oleh Bulbul. Melia hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya.
Rendy nendengar teriakan Sisil. Ia langsung nemandang ke arah tiga cewek yang sedang berjalan mendekatinya. Matanya menangkap sebuah keindahan. Melia. Gadis yang berada di tengah. Tak secantik sebelah kanannya. Lalu, apa yang membuat Rendy tertarik? Apa karena dia adalah yang berjilbab?
Tapi nggak biasanya aku tertarik sama wanita muslimah kayak gini kan? rasanya gadis itu memiliki aura tersendiri sehingga bisa membuatku terkesima.... Fikir Rendy.
Sesampainya ... ternyata Sisil seperti halnya Bulbul. Ia terpana dengan wajah tampan Rendy. Raut muka Sisil yang semula berapi api, langsung berubah dingin penuh kesejukan.
"Hey, kenalin ... gue Gracelia. Panggil aja Sisil."
"Aku Priska ... dan ini Melia." Tiba tiba Priska juga menyahut.
"Dan aku... Nabilla" kata Bulbul dengan mengulurkan tangannya lebih panjang daripada teman temannya.
"Nabilla? Bulbul kali," kata Sisil dan Priskaa serentak meledek.
Melia tak unjuk bicara. Ia kesal karena teman-temannya malah terpesona dengan lelaki itu.
"Ini kartu nama saya. Jika minta pertanggung jawaban silahkan hubungi nomer disini. Tapi, untuk saat ini saya sedang sibuk," kata Rendy seakan melupakan kata maaf. Melia semakin kesal. Tapi ia hanya terdiam. Lain dengan ketiga temannya yang langsung menampakkan ekspresi terkejut.
"Hey ... sok banget sih loe jadi cow--" belum selesai Priska bicara, Rendy melepas kartu namanya sehingga terhempaskan ke tanah. Lalu ia pergi meninggalkan mereka.
"Ada yah, manusia sewatados itu." kali ini Melia berkomentar karena benar benar kesal.
😘😘😘😘😘
Pukul 21.00. Rendy masih saja sesekali mengecek hp-nya. Barang kali ada nomer baru yang menghubunginya. Pastinya Melia yang ia harapkan. Sedikit lelah dan jesal karena lama menunggu, iapunmerebahkan punggungnya diatas kasur empuknya. Ia kembali mengambil handphone. Lalu Rendy nembuka akun facebook. Ia ketik nama Melia disana. Sekitar dua lima menit mencari, tangannya tetap hampa.
KAMU SEDANG MEMBACA
love argument
Romance"jangan pernah tanya tentang aku dan perasaanku camelia... apakah pandangan dan perjuanganku belum cukup sebagai bukti perasaanku?"
