Seorang gadis bertubuh gemuk berjalan memasuki lingkungan sekolahnya, atributnya melengkapi pakaian putih biru yang ia kenakan saat ini. Ia berjalan dengan langkah penuh optimisme akan masa depan. Cita-citanya ia gantung dengan sangat tinggi, setinggi harapannya akan kehidupan yang diharapkannya akan berjalan dengan sempurna. Ia tersenyum melihat salah satu teman baiknya yang juga berjalan kearahnya seraya tersenyum.
"Selamat pagi, Rafina", sapa gadis tersebut.
Gadis bernama Rafina itu tersenyum menatap temannya yang bertubuh besar itu.
"Selamat pagi, Akasia Cantiik", Jawab Rafina.
"Haish, aku gemuk, Na.. Bukan cantik", Ralat Akasia.
Namanya sangat tidak asing ketika berada di mata pelajaran Biologi, ya.. Pohon Akasia, pohon yang biasanya tumbuh sangat besar dan memiliki akar kokoh yang sulit untuk ditumbangkan. Seperti itulah harapan kedua orangtua Akasia dengan memberikannya nama tersebut. Menjadi wanita yang tangguh dan tidak terpatahkan. Tapi sayangnya... tubuhnya mengikuti nama yang orangtuanya berikan. Sesuai dengan namanya, ia bertubuh besar dengan kulit gelap, berkacamata tebal, dan rambut yang selalu tampak berantakan bak dedaunan yang tertiup angin kencang.
Rafina terkekeh pelan.
"Tidak Ka, kamu itu cantik", balas Rafina.
"Berhenti berbicara seperti itu sebelum para pembully mendengar dan menambah ejekan untuk.."
"Oh astaga! Lihat! Itu Rangga, ganteng banget ya dia? Lihat Ka.. aku sudah jatuh hati dengannya sejak kelas 1 SMP dan sekarang kita sudah kelas 2, itu artinya sudah 1 tahun aku memendam rasa kepadanya.. Dia anak orang kaya, ayahnya pengusaha dan ibunya seorang dokter. Kakak perempuannya caaantiiik sekali. Ah.. andai saja aku berada di kelas yang sama dengannya", seru Radina dengan antusias menjelaskan secara rinci mengenai Rangga yang entah darimana ia mendapatkan informasi seperti itu.
"Rafina, memangnya kamu sudah ngerti apa itu jatuh hati? Lagipula, darimana kamu tau tentang keluarga Rangga sampai sedetail itu?", tanya Akasia.
"Tentu saja! Aku tertarik dengannya dan aku suka ketika melihatnya, artinya aku jatuh hati kan? Dan soal info tentang keluarganya, sepertinya hampir seluruh penjuru sekolah ini tau tentang keluarganya", jawab Rafina.
Akasia yang penasaran bagaimana rupa lelaki yang disukai temannya itu melihat dan memperhatikan laki-laki yang dikatakan oleh Rafina.
Wajahnya terlihat sedikit oriental, kulitnya berbanding terbalik dengan kulit Akasia yang gelap, tidak terlalu tinggi.. mungkin dia, bukan mungkin tapi sudah pasti ia masih dalam masa pertumbuhan seperti anak remaja pada umumnya. Rambutnya sedikit ikal tapi dipotong rapi. Dari cara berjalannya tampak sekali anak dari keluarga dengan ekonomi yang bagus.
Dan Akasia pun terpesona pada detik yang sama. Ia sepenuhnya menyadari, bahwa kini hatinya juga telah jatuh ke lelaki yang sudah dapat dipastikan tidak akan menyukainya.
Samar-sama Akasia mendengar seseorang memanggil namanya.
Akasia..
Akasia!
Akasia!!!
"Ada apa?", tanya Akasia. Ia tersadar dari ingatan masa lalunya tentang seseorang yang sudah tidak pernah lagi ia lihat.
"Jangan melamun terus, kita sedang dikejar deadline untuk strategi yang sudah kita canangkan bersama minggu lalu", jelas Jenny, rekan kerja Akasia yang kini tengah sibuk mencetak beberapa dokumen.
Ah.. aku memikirkannya lagi, pikir Akasia.
"Ck! Lagi-lagi melamun, kamu lapar ya? Kalau lapar aku punya mi instan cup yang bisa kamu makan sambil menunggu jam makan siang", decak Jenny.
Akasia tersenyum dan menggeleng.
"Tidak, aku belum lapar kok. Maaf tadi aku sedang memikirkan kalimat yang akan aku tulis di lapiran yang akan kita sampaikan ke direktur", bual Akasia.
Jenny tersenyum.
"Jangan sampai stress, ya. Perjalanan kita masih panjang. Dan ini mi instan ku, kamu makan saja.. tidak mungkin perutmu yang besar itu tidak laparkan?", goda Jenny seraya menyerahkan mie instan miliknya.
Akasia tergelak, baginya candaan bully seperti itu sudah biasa. Dan ia sudah bisa menerima kenyataan bahwa dirinya memang gemuk. Hanya saja kulitnya sudah tidak segelap dulu, tapi Akasia tetaplah Akasia. Tubuhnya masih sama besarnya seperti dulu.
"Thanks, Jen", ucapnya.
Ya.. Saat ini Akasia sudah berumur 23 tahun, dan berprofesi sebagai asisten manajer di sebuah perusahaan multi-nasional yang terkenal di negaranya.
Setelah disadarkan oleh Jenny, ia kembali fokus ke pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Ia harus mengerjakan sebaik mungkin untuk bisa mendapatkan promosi naik jabatan ke level manajer.
Sampai akhirnya waktu pulang kantor pun tiba, ia pulang dengan perasaan ringan karena target laporannya hari ini sudah selesai. Ia mengendarai mobilnya membelah hiruk pikuk jalanan ibukota menuju apartemen studio yang sudah ia tinggali selama 2 tahun.
Ia melempar tasnya dengan asal ke ranjangnya, membuka blazer hitamnya dan menggantungnya di tiang penggantung baju yang berada di sudut lemarinya. Kemudian ia melangkah ke meja kerja kecil yang terdapat beberapa tumpuk buku. Ia duduk dan mengambil sebuah buku berwarna putih dan membuka halaman kosong untuk ia isi dengan bolpoin tinta.
Dear Diary,
Hari ini aku melamun lagi.
Jenny menyadarkanku 2x saat aku sedang memikirkannya. Aku memutar kembali memoriku saat pertama kali melihatnya waktu SMP.
Apa kabarnya ya?
Kehadirannya bagai sebuah bintang di langitku yang kelam ini. Aku ingin mengejarnya, tapi aku tau hal itu sia-sia. Aku ingin menggapainya, tapi tak akan pernah bersambut. Aku tau, mencintainya adalah sebuah konsekuensi besar yang harus aku terima.
Lucu.
Satu kata itulah yang menari-nari di dalam benakku sekarang. Aku memikirkannya hari demi hari, tapi ia mungkin tidak pernah melihatku bahkan mengingatku. Bagaimana mungkin? Kami tidak pernah berkenalan ataupun berbicara. Kalaupun jika ia tau aku pasti dengan sebutan-sebutan yang teman-teman SMP-ku buat untuk mem-bully ku.
Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Aku ingin melupakannya, tapi hatiku yang bodoh ini selalu mengalahkan logikaku.
Apa suatu hari kita bisa bertemu? Apakah semua ini hanya anganku semata? Angan yang tidak mungkin terwujud...
Akasia menutup buku diary-nya yang selalu menemani setiap malam. Pikirannya kembali menerawang menyelami memori yang sama sekali tidak ingin ia lupakan.
"Oi ada ikan paus lewat! Minggir!!"
Akasia memejamkan matanya mendengar teriakan Herdian yang mem-bully dirinya.
"Eh, ndut jalan jangan merem nanti jatuh disini gempa HAHAHAHA", ujar Yogi, teman Herdian.
Ia berjalan cepat untuk menghindari bully-an yang menyesakan hatinya.
Dan disitulah hatiku kembali nyaman, melihatmu dan teman-temanmu tengah tertawa di dekat toilet wanita. Tawamu menularkan senyum diwajahku yang buruk ini...
Rangga, taukah kamu jika ada wanita yang menunggumu walaupun tau dirinya tak pantas untukmu? Dan wanita itu adalah aku...
*******
To be continued
Halo, apa kabar?
Mungkin beberapa dari kalian sudah melupakanku. Tapi, aku akhirnya memutuskan untuk kembali menulis setelah sekian lama tidak menghasilkan sebuah tulisan.
Kali ini tentang seorang secret admirer yang belum bisa melupakan cintanya 9 tahun yang lalu.
Semoga aku masih bisa menulis dengan baik, ya!
Love, Alicha
VOCÊ ESTÁ LENDO
Akasia's Love Story
RomanceAkasia. Gadis bodoh ini mengharapkan cinta masa remajanya pada pria yang tidak mengenal dirinya. Jangankan mengenal, mengetahui dirinya bernafas di dunia inipun tidak. Rangga. Pilot berwajah rupawan itu disukai oleh Akasia. Memiliki standar kecantik...
