Siapa Dia?

106 39 36
                                        

Akan kututurkan sebuah kisah asmara

Seperti melodi angklung yang terngiang di telingaku saat ini

Iramanya begitu indah

Hingga aku sendiri memilih untuk pergi

Suara tepuk tangan kini memenuhi kepala gadis itu. "God job," ucap Luna kemudian menunjukkan ibu jarinya. Gadis itu terus menengok ke sudut ruang kelas tanpa memperdulikan teman sebangkunya yang sedang memuji kehebatan gadis berambut panjang itu.

"Cha ... lo liatin siapa sih?" tanya Luna yang ditanggapi dengan muka cuek dari Shasa. "Cha!" bentaknya kemudian.

"Hah?? Em..." Shasa seperti orang terkejut. "Ada apa Lun?" sambungnya.

"Ih kebiasaan deh," balas Luna dengan wajah cemberut.

"Maaf, maaf. Tadi lo ngomong apa?" tanya Shasa.

"Penampilan lo keren," ucap Luna menyeringai

"Makasih ya," balas Shasa. Gadis itu kembali menengok ke bangku paling belakang.

"Cha, tolong simak puisi gue ya. Soalnya gua belum begitu hafal," ucap Luna sambil memberikan bukunya kepada Shasa.

"Putri Sejagad

Jika ... paras cantik nan anggunmu adalah mahkota

Lalu kau anggap apa keluguan hatimu ....

Apakah ...."

Luna melupakan kalimat dalam puisinya. "Lanjutnya apa Cha?" tanyanya. Luna melihat Shasa yang kembali memperhatikan sudut ruangan. "Chaca!" teriak Luna.

"Iya," jawab Shasa terkejut. Kini semua siswa melihat mereka berdua. "Disimak dong Cha," keluh Luna.

"Ada apa Luna? Kenapa kamu berteriak?" tanya Ibu Rossa.

"Maaf bu, saya hanya menghayati puisi," balas Luna.

"Baiklah," ucap Bu Rossa kemudian tersenyum.

"Cha, kenapa sih ngeliatin anak baru itu terus," tanya Luna.

"Gua kaya gak asing sama muka dia," ucap Shasa.

"Pernah ketemu di Tanah Abang kalik." Luna mencoba bercanda meskipun Shasa merasa tidak terhibur sama sekali.

"Lo kira pedagang kaki lima," ucap Shasa dengan sinis menanggapi guyonan Luna.

"Ya siapa tau kan." Luna terkekeh.

30 menit yang lalu

"Silahkan masuk," ucap Bu Rossa. "Anak-anak ini siswa baru di SMA kita. Dan dia masuk di kelas ini. Perkenalkan diri kamu!" sambungnya.

"Saya Davino Priambada, dari SMA 12 Samarinda," ucap laki-laki itu.

"Follow ig gue @salsabila21" teriak Salsa yang duduk di deretan bangku paling belakang.

"Wuuuuuuu." Seisi kelas menyoraki Salsa.

"Silahkan duduk Davino," ucap Bu Rossa kemudian setelah dirasa sesi perkenalan sudah cukup.

Laki-laki itu melewati Shasa dan menatap gadis itu. Dia menghentikan langkah kakinya dan kini berada dihadapan Shasa.

"Kenapa?" tanya Davino dengan mengangkat salah satu alisnya.

~Sesunyi Piano Tanpa Dentingnya~

Hai hai!!
Gimana nih ceritanya?😂

Untuk next akan lebih panjang, ini baru pengenalan aja :))

FYI
~Sesunyi Piano Tanpa Dentingnya~ merupakan cerita hasil dari kolaborasi beberapa author, antara lain :
Gebytaprimadewi02
QianaAletha
Ismaalyzulfa
yunip3n3
rennyndari24
Amanah_Utami
megis28

Jadi, mohon pengertiannya kalau ada alur atau penulisan yang kurang tepat😃

Komentar berupa kritik maupun saran dari reader's sangat kami hargai :)

Jangan lupa pencet bintangnya ya😄

Regards💖
Author

Sesunyi Piano Tanpa DentingnyaStories to obsess over. Discover now