3 tahun yang Lalu
"Toni bangun"itu suara ayah "ada apa yah"aku bertanya heran ayah tidak pernah membangunkan ku di tengah malam begini "Ibumu, me.. me.. meninggal"mendengar kalimat ayah hati ku merasa tertusuk benda yang sangat amat tajam
Aku dan ayah pergi ke Rumah sakit aku melihat kakak yang sedang menangis di Sepang jenazah ibu. Aku pergi mendekati Kakak "Kenapa kak,kenapa kakak menangis?" Aku tahu aku tak seharusnya berkata seperti itu tapi,aku tahu kakak orang yang kuat "ini semua bukan salah kakak ini sudah takdir kak"
"Ini semua salah kakak,kalau saja kakak tidak memaksa Ibu pergi tengah malam ibu tak akan seperti ini dik"
Aku sekeluarga menginap di Rumah sakit bukan karena tidak ingin pulang namun rasa bersalah kakak yang membuat kita tidak pulang. Kakak memani jenazah ibu sepanjang sisa malam keesokan harinya aku bersama keluarga memakamkan jenazah ibu.sepanjang pemakaman aku menahan tangis usiaku 14 tahun
aku sudah dewasa "kalo kamu sudah kamu besar kamu tidak boleh menangis" itu kata kata Ibu yang membuat ku menahan tangis
2 tahun kemudian....
Tok tok tok, ada seorang yang mengetuk pintu aku berlari membukakan pintu aku kira itu ayah yang pulang tapi... Ternyata itu adalah seorang polisi yang membawa senjata lengkap membawa ayah dengan keadaan tangan sedang di borgol, aku bertanya tanya pada diriku apa kesalahan ayah apa yang telah diperbuat ayah "maafkan ayah nak" itu kalimat terakhir ayah padaku sebelum ayah di bawa oleh polisi
Kini aku tinggal berdua dengan kakak
apa Kaka tahu soal ayah yang ditangkap oleh ayah tidak mungkin aku memberi tahu kakak. Kakak baru saja pulang "dik, apa kamu tahu soal ayah" itu kalimat pertama kakak saat masuk ke Rumah "sudah...." aku menjawab pelan "kamu harus sabarnya dik"ternyata kakak sudah tau soal ayah. Ditangkapnya ayah membuat aku dan kakak menjual rumah dan aku harus pindah ke sekolah yang lebih murah daripada sekolah yang dulu
Dan disinilah kisahku dimulai.
