Hazel tidak pernah percaya bahwa cinta bisa menjadi tempat yang aman. Bukan karena ia tidak pernah melihat orang jatuh cinta, justru sebaliknya. Sejak kecil, Hazel tumbuh dengan melihat dua orang yang pernah saling mencintai perlahan berubah menjadi dua orang yang tidak lagi tahu bagaimana cara berhenti saling menyakiti. Ia tahu seperti apa suara pertengkaran dari balik pintu, tahu bagaimana rasanya duduk diam sambil berharap suara-suara itu segera berhenti, dan tahu bahwa rumah tidak selalu berarti tempat yang membuat seseorang merasa aman.
Karena itu, ketika kedua orang tuanya akhirnya berpisah, Hazel tidak hanya kehilangan bentuk keluarga yang selama ini ia kenal, tetapi juga kehilangan kepercayaannya pada cinta. Sejak saat itu, ia belajar satu hal-jangan terlalu dekat, karena semakin dekat seseorang, semakin besar kemungkinan orang itu bisa menyakitinya.
Maka ketika ia pindah ke tempat baru bersama sang mama, Hazel hanya menginginkan satu hal sederhana-hidup tenang tanpa harus membuka kembali bagian dirinya yang sudah susah payah ia tutup. Ia tidak ingin mengenal terlalu banyak orang, tidak ingin terlibat dalam sesuatu yang bisa membuat hidupnya semakin rumit, dan terutama, ia tidak ingin jatuh cinta.
Namun, semua rencana itu mulai berantakan ketika ia bertemu dengan Heksa, laki-laki yang tinggal tepat di sebelah rumahnya sekaligus pemilik coffee shop-bakery tempat Hazel kemudian bekerja. Heksa terlalu banyak bicara, terlalu suka ikut campur, terlalu sabar, dan entah bagaimana selalu menemukan cara untuk muncul ketika Hazel sedang berusaha menghindarinya.
Awalnya, Hazel menganggap Heksa hanya sebagai gangguan kecil dalam hidup barunya. Namun, semakin sering mereka bertemu, semakin sulit bagi Hazel untuk menganggapnya sekadar tetangga.
Heksa tidak pernah memaksanya untuk bercerita dan tidak pernah meminta Hazel menjadi seseorang yang berbeda. Ia hanya tetap berada di sana-menunggu ketika Hazel membutuhkan waktu, mendengarkan ketika Hazel akhirnya ingin bicara, dan memberinya ruang ketika ketakutannya kembali datang.
Perlahan, tanpa Hazel sadari, laki-laki itu mulai membuatnya mempertanyakan kembali semua hal yang selama ini ia percaya tentang cinta. Untuk pertama kalinya, Hazel mulai mengenal bentuk perhatian yang tidak terasa mengekang, kedekatan yang tidak membuatnya kehilangan dirinya sendiri, dan seseorang yang tidak memintanya untuk berhenti menjadi Hazel hanya agar hubungan mereka bisa berjalan.
Namun, semakin dekat Hazel dengan Heksa, semakin banyak pula ketakutan yang harus ia hadapi. Ia harus berhadapan dengan masa lalu yang selama ini ia hindari, dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban, dan dengan luka yang ternyata masih memengaruhi cara ia melihat dirinya sendiri maupun orang lain.
Sampai akhirnya Hazel menyadari bahwa ia tidak mungkin terus bersembunyi hanya karena takut sesuatu yang buruk mungkin terjadi. Ia harus memilih antara tetap berpegang pada ketakutan yang sudah bertahun-tahun ia kenal, atau mengambil risiko untuk percaya bahwa mungkin-tidak semua cinta akan berakhir seperti cinta yang pernah ia lihat.
Karena mungkin, cinta bukan tentang menemukan seseorang yang bisa menjanjikan bahwa kita tidak akan pernah terluka. Cinta juga bukan tentang memastikan bahwa sebuah hubungan akan selalu berjalan sempurna atau tidak pernah berakhir.
Mungkin, cinta adalah tentang menemukan seseorang yang membuat kita berani menghadapi rasa takut itu tanpa harus kehilangan diri sendiri. Seseorang yang tidak memaksa kita untuk tinggal, tetapi membuat kita ingin memilih untuk tetap berada di sisinya.
Untuk Hazel, orang itu adalah Heksa. Laki-laki yang pada awalnya hanya tinggal di rumah sebelah, yang tanpa disadari perlahan masuk ke dalam hidupnya, menjadi bagian dari hari-harinya, dan akhirnya menjadi seseorang yang membuat Hazel mulai mempertanyakan kembali arti sebuah rumah.
Namun, Hazel belum tahu ke mana semua kedekatan itu akan membawanya. Ia belum tahu bahwa di balik tawa, percakapan sederhana, dan hari-hari yang perlahan mereka lewati bersama, masih ada masa lalu yang harus ia hadapi. Masih ada luka yang belum selesai. Masih ada ketakutan yang suatu hari akan kembali mengetuk pintunya, dan mungkin, ada sebuah keputusan yang nantinya akan mengubah cara Hazel memandang cinta untuk selamanya.
Karena terkadang, seseorang datang ke dalam hidup kita bukan ketika kita sedang mencarinya. Ia datang ketika kita justru sedang berusaha meyakinkan diri, bahwa kita tidak membutuhkan siapa-siapa, dan Heksa mungkin saja menjadi seseorang yang mengajarkan Hazel, bahwa cinta tidak selalu tentang bagaimana sebuah hubungan akan berakhir.
Mungkin, cinta adalah tentang apa yang terjadi selama kita berani menjalaninya. Tentang seseorang yang membuat kita perlahan berani membuka pintu yang selama ini kita kunci, dan tentang sebuah tempat yang, tanpa pernah Hazel rencanakan, mungkin suatu hari akan membuatnya ingin tinggal.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Deserve This Love.✔
Romansa𝓘 𝓓𝓮𝓼𝓮𝓻𝓿𝓮 𝓽𝓱𝓲𝓼 𝓵𝓸𝓿𝓮 Hazel tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya akan berakhir seperti pernikahan kedua orang tuanya-dengan pertengkaran, luka, dan perpisahan. Sampai ia pindah ke kota baru dan bertemu Heksa, tetangga...
