1. Senja Cahaya Purnama

424 54 3
                                        

"SEEENNJJAAA...."
Sebuah lengkingan suara yang berasal dari luar kamar, membuat gadis ini terbangun dari tidurnya.

"Iyaaa maa!!" Gadis itu mengulat berusaha bangun dari tempat tidurnya yang memiliki gravitasi yang lebih tingggi dari bumi. Ia duduk di kasur dengan keadaan masih memejamkan matanya, ia masih mengumpulkan semua nyawanya.

"Senjaa!! Udah jam berapa ni! Cepetan abang kamu udah nungguin itu di bawah!" Tegas ani, seorang ibu rumah tangga yang dikenal galak oleh anak-anaknya.

"Iya ma, ini udah bangun." ucap Senja bermalas-malasan menuju luar kamar dan bergegas membersihkan dirinya.

Senja Cahaya Purnama, Nama yang unik untuk seorang gadis yang memiliki hobi berimajinasi ini. Senja artinya bagian waktu dalam hari atau keadaan setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam, ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala. Orang tuanya memberi nama itu karena konon ia dilahirkan ketika matahari sedikit tenggelam. Sama seperti namanya Senja paling suka melihat moment matahari terbenam.

"Senja!! Abang duluan ya! Udah telat nih! Kamu naik angkot aja!" Teriak Zidan, kakak pertama Senja, bahkan ia adalah satu-satunya kakak yang Senja miliki. Berwatak cuek tapi jail. Ia sekarang sedang menjalankan kuliahnya di universitas indonesia fakultas kedokteran. Zidan memang pintar lain halnya dengan Senja, dapat nilai KKM dalam matematikanya saja sudah bersyukur.

"Yahh bang!! Bentar lagi selesai!" Teriak Senja.

"Udah ah! Lama! naik angkot aja!" Zidan langsung pergi menuju motornya dan meninggalkan rumahnya.

Senja baru saja selesai dengan persiapannya, ia langsung menuju ruang makan untuk menemui mama dan papanya, bukan untuk sarapan melainkan untuk meminta jatah uang jajan. Senja tidak biasa untuk sarapan pagi, ketika ia sarapan pasti rasa mulas diperutnya selalu datang.

"Ma? Pa? bang Zidan udah duluan?" Tanya Senja polos.

"Udah, kamu si bangunnya telat. Kalau mau bareng bang Zidan itu harusnya bangun lebih pagi! Ini dibangunin malab tidur lagi!" Ani berkicau di ruang makan. Setiap pagi memang Senja selalu saja mendapatkan ocehan dari sang ibu.

"Ya udah deh biar Senja naik angkot aja." Senja menadahkan telapak tangannya ke arah Ani dan Wisnu.

"Apa ini?" Wisnu seolah-olah tidak tahu maksud anak gadisnga satu ini.

"Paa ayolahh." Senja mengerutkan mukanya.

Wisnu mengerti, ia langsung saja memberikan uang kepada Senja. Ani menggeleng-gelengkan kepalnya melihat tingkah laku anak bungsunya ini, sangat berbeda jauh dari putra sulungnya.

"Makasih papa" Senja menyalim tangan Wisnu lali Ani. "Dahh Senja berangkat dulu Assalamualaikum."

"Wa'alaikumusallam, kalau udah pulang langsung pulang ke rumah! Jangan kelayapan!" Teriak Ani.

"Iyaa mama!!" Senja balas teriak.

Senja menunggu angkutan umum di depan rumahnya. Rumahnya berada di pinggir jalan. jadi, ia tidak susah payah lagi untuk mencari angkutan umum.

Kala SenjaStories to obsess over. Discover now