Dahulu kala, konon di sebuah kerajaan misterius terbaring seorang putri paling cantik yang tertidur karena terkena kutukan dari peri jahat, Maleficent. Sang putri Aurora hanya akan bangun apabila seorang pangeran yang datang membangunkannya.
Seorang pangeran tampan dan pemberani lalu bergegas berangkat menuju kerajaan misterius itu, pangeran philip berniat menyelamatkan putri.
Pangeran berjuang menembus semak belukar dan mengalahkan sang peri maleficent, demi tujuannya menyelamatkan putri.
Sesampainya di istana, pangeran melihat seluruh pegawai kerajaan dan raja, ratu tertidur pulas di lantai, lalu pangeran melihat sebuah kamar dengan pintunya terbuka, lalu ia masuk dan menemukan putri Aurora tertidur, pangeran terpesona oleh kecantikan sang putri Aurora, pangeran pun berlutut dan memengang tangan sang putri.
Saat itulah kutukan berakhir dan sang putri membuka matanya. Dalam waktu yang bersaamaan seluruh penghuni kerajaan pun terbangun.
Dan akhirnya pangeran hidup bahagia dengan sang putri Aurora.
"Ha! Klise, sama kayak cerita sebelumnya, endingnya selalu aja "Hidup bahagia"
Ucap orang itu menghembuskan nafas bosan.
"Percuma! Percuma deh mau baca sebanyak apapun cerita dongeng, endingnya bakalan tetap sama. Seorang pangeran itu memang di takdirkan untuk bahagia. Udah, mulai sekarang berhenti baca dongeng-dongengan, dasar bocah"
"Kenapa ya? Kenapa sang pangeran harus hidup bahagia?"
Fikirnya lagi tampa memperdulikan ucapan adiknya barusan.
"Kenapa pangeran itu selalu aja sama, maksudnya, kenapa harus tampan? Harus berani? Harus kuat? Bijaksana? Kenapa? Hmm kenapa gak sekali kali pangeran itu.. Jelek? Bodoh? Lemah?"
Sambungnya kembali berfikir dengan jari telunjuk di gerak-gerakkan ke pipinya.
"Aduhhh please deh, bisa diam semenit aja gak bang? Pertanyaan kok bodoh gitu!"
"Kenapa pan-"
Belum sempat ia melanjutkan perkataannya seseorang terdengar berteriak dari lantai bawah memanggil namanya.
"PANGERAN!!!"
"YA MI!"
Balas Pangeran tak mau kalah berteriak.
Yah, namanya Pangeran, lebih tepatnya Pangeran Adithtama Alvian. Sebenarnya ia benci dengan nama itu, nama yang selama ini membuat hari-hari normalnya jadi menyebalkan, nama yang membuat hidupnya sengsara dan suram, nama yang membuat ia sering di buly sewaktu SD-nya.
Namun ada satu alasan yang membuat Pangeran bertahan dengan nama itu, setidaknya untuk waktu selama 16 tahun sekarang. Yaitu karena nama itu di buat oleh sumber kebahagiaannya. Bak seorang Pangeran yang mendapat sumber kekuatannya dari sang penyihir, seperti halnya cerita dongeng yang sering ia baca, begitu pula Pangeran mendapat kekuatan pertahanannya dari sang ayahanda. Bertahan dari ejekan teman-temannya yang sering membulynya, contohnya seperti..
"lah nama lo pangeran? Kok nama ama muka kurang singkron sih? Muka lo biasa aja sih, datar kayak dinding! Hahaha"
Ia selalu menahan dan membiarkan orang-orang berkata buruk tentang namanya karna ia menghargai atas nama yang diberikan ayahnya padanya. Ayahnya yang terlalu ia cintai, sampai-sampai ia tak ingin menyakiti perasaannya walau hanya setitik, apa lagi jika ia tidak menerima nama yang telah di buat oleh ayahnya itu padanya-betapa sedihnya jika ayahnya tahu bahwa anaknya tak menginginkan nama yang dibuatnya. ayahnya yang adalah sang penyihir yang menyihir Pangeran menjadi pribadinya sekarang, menjadi sosok Pangeran yang memiliki ketulusan hati yang luar biasa. Ayahnya yang mengajari ia betapa pentingnya "ketulusan" dalam setiap yang ia lakukan, tulus dalam segala hal, apapun itu walau menyakitkan ia selalu mencoba tulus melakukannya, sesuai ajaran ayahnya. Ayahnya sekarang yang telah menjadi kenangan yang hanya di simpan Pangeran di dalam hatinya, ayahnya sekarang yang telah berada di alam berbeda dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pangeran
FanfictionTentang seseorang dengan kehidupan jauh di katakan damai, seseorang yang juga ingin merasa bahagia dengan hidupnya, seseorang yang ingin hidupnya tenang, datar, netral, aman, seperti orang-orang melihat dirinya yang di luar, ia hanya ingin itu, tak...
